6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Minggu, 28 Juni 2026 - 09:56 WIB
loading...
Salah satu pesawat pengebom yang mampu membawa senjata nuklir China terdeteksi terbang di dekat wilayah Jepang. Foto/Kementerian Pertahanan Jepang
A
A
A
TOKYO - China dan Rusia telah mengerahkan total enam pesawat pengebom yang mampu membawa senjata nuklir untuk patroli udara strategis bersama di wilayah udara di atas Laut Jepang, Laut China Timur, dan Pasifik barat pada hari Sabtu. Menurut Tokyo, Jepang mengerahkan jet tempur sebagai respons.
Kementerian Pertahanan China mengatakan patroli jarak jauh tersebut, yang ke-11 antara kedua Angkatan Udara, menunjukkan tekad dan kemampuan mereka untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
Baca Juga: Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Kementerian Pertahanan Jepang, seperti dikutip Japan Times, Minggu (28/6/2026), mengatakan telah mengerahkan jet tempur sebagai respons, menambahkan bahwa mereka telah melacak pergerakan pesawat-pesawat China dan Rusia—termasuk empat pesawat pengebom H-6 China dan dua pesawat pengebom Tu-95 Rusia—dari Sabtu pagi hingga siang hari. Penerbangan tersebut juga melibatkan dua pesawat patroli Tu-142 Rusia, dua jet tempur J-16 China, dan satu jet tempur Su-30 Rusia.
Peta jalur penerbangan pesawat yang menyertai pernyataan kementerian tersebut menunjukkan bahwa beberapa pesawat pengebom telah terbang melewati Selat Miyako dekat Prefektur Okinawa dan ke Pasifik barat, selatan Shikoku, sebelum kembali melalui jalur yang sama.
Korea Selatan juga mengatakan telah mengerahkan jet tempur setelah lebih dari 10 pesawat militer China dan Rusia memasuki zona identifikasi pertahanan udaranya pada hari yang sama, menurut laporan kantor berita Yonhap. Namun, pesawat-pesawat China dan Rusia tidak melanggar wilayah udara Korea Selatan.
Kepala Staf Gabungan di Seoul mengatakan pesawat China dan Rusia telah memasuki dan kemudian meninggalkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara Korea (KADIZ) di atas Laut Timur dan Laut Selatan.
"Militer Korea Selatan mendeteksi pesawat China dan Rusia sebelum mereka memasuki zona tersebut dan mengerahkan jet tempur Angkatan Udara untuk bersiap menghadapi kemungkinan apa pun," demikian pernyataan tersebut, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
China dan Rusia juga melakukan patroli jarak jauh yang melibatkan pesawat pengebom dan jet tempur pada bulan Desember, dengan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyebut penerbangan pengebom gabungan berulang oleh kedua negara itu sebagai "perluasan dan intensifikasi aktivitas di sekitar Jepang."
"Ini jelas merupakan unjuk kekuatan terhadap Jepang," katanya. "Ini adalah masalah keamanan yang serius bagi negara kita," imbuh dia.
Kementerian Pertahanan China mengatakan patroli jarak jauh tersebut, yang ke-11 antara kedua Angkatan Udara, menunjukkan tekad dan kemampuan mereka untuk bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas regional.
Baca Juga: Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Kementerian Pertahanan Jepang, seperti dikutip Japan Times, Minggu (28/6/2026), mengatakan telah mengerahkan jet tempur sebagai respons, menambahkan bahwa mereka telah melacak pergerakan pesawat-pesawat China dan Rusia—termasuk empat pesawat pengebom H-6 China dan dua pesawat pengebom Tu-95 Rusia—dari Sabtu pagi hingga siang hari. Penerbangan tersebut juga melibatkan dua pesawat patroli Tu-142 Rusia, dua jet tempur J-16 China, dan satu jet tempur Su-30 Rusia.
Peta jalur penerbangan pesawat yang menyertai pernyataan kementerian tersebut menunjukkan bahwa beberapa pesawat pengebom telah terbang melewati Selat Miyako dekat Prefektur Okinawa dan ke Pasifik barat, selatan Shikoku, sebelum kembali melalui jalur yang sama.
Korea Selatan juga mengatakan telah mengerahkan jet tempur setelah lebih dari 10 pesawat militer China dan Rusia memasuki zona identifikasi pertahanan udaranya pada hari yang sama, menurut laporan kantor berita Yonhap. Namun, pesawat-pesawat China dan Rusia tidak melanggar wilayah udara Korea Selatan.
Kepala Staf Gabungan di Seoul mengatakan pesawat China dan Rusia telah memasuki dan kemudian meninggalkan Zona Identifikasi Pertahanan Udara Korea (KADIZ) di atas Laut Timur dan Laut Selatan.
"Militer Korea Selatan mendeteksi pesawat China dan Rusia sebelum mereka memasuki zona tersebut dan mengerahkan jet tempur Angkatan Udara untuk bersiap menghadapi kemungkinan apa pun," demikian pernyataan tersebut, tanpa memberikan detail lebih lanjut.
China dan Rusia juga melakukan patroli jarak jauh yang melibatkan pesawat pengebom dan jet tempur pada bulan Desember, dengan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyebut penerbangan pengebom gabungan berulang oleh kedua negara itu sebagai "perluasan dan intensifikasi aktivitas di sekitar Jepang."
"Ini jelas merupakan unjuk kekuatan terhadap Jepang," katanya. "Ini adalah masalah keamanan yang serius bagi negara kita," imbuh dia.
(mas)
Lihat Juga :