Selat Hormuz Bergejolak Lagi, Iran Serang Kapal Berbendera Singapura
Jum'at, 26 Juni 2026 - 07:04 WIB
loading...
A
A
A
"Saya selalu menegaskan bahwa keselamatan para pelaut tetap menjadi prioritas utama," imbuh Dominguez dalam sebuah pernyataan. "Oleh karena itu, untuk memastikan pendekatan terkoordinasi dan keselamatan navigasi, rencana evakuasi akan dihentikan sementara hingga diperoleh kejelasan lebih lanjut."
AS dan Iran telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pekan lalu yang meningkatkan harapan kembalinya pelayaran ke Selat Hormuz, jalur sempit yang biasanya dilalui seperlima minyak dunia tetapi sebagian besar ditutup untuk kapal selama berbulan-bulan perang. Berdasarkan perjanjian tersebut, Iran diharapkan untuk mengatur jalur aman bebas bea "dengan upaya terbaiknya" selama 60 hari.
Sejak saat itu, lalu lintas kapal meningkat secara signifikan, dengan 70 kapal berlayar melalui selat pada hari Selasa, dibandingkan hanya enam kapal seminggu sebelumnya, menurut data dari perusahaan analitik Kpler, yang mencatat bahwa sebagian peningkatan tersebut mungkin disebabkan oleh "pelepasan lalu lintas yang tertunda pasca-kesepakatan." Dengan pulihnya pengiriman barang, harga minyak global telah anjlok.
IMO juga mengumumkan pada hari Selasa bahwa mereka meluncurkan upaya evakuasi skala besar untuk membantu ribuan pelaut yang tersebar di ratusan kapal keluar dari wilayah tersebut. Disebutkan bahwa ada dua rute yang tersedia; satu melalui perairan Iran di bagian utara Selat Hormuz, dan yang lain melalui perairan Oman di selatan.
Namun, perselisihan mengenai Selat Hormuz tetap berlanjut. Rute yang disukai AS melibatkan pelayaran dekat garis pantai Oman, sementara Iran bersikeras bahwa kapal harus meminta izinnya sebelum melintasi selat dan menggunakan rute yang lebih dekat ke pantainya.
Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) mengatakan pada hari Kamis: "Setiap pelayaran melalui rute di luar kerangka kerja yang ditetapkan oleh PGSA tidak akan tercakup oleh jaminan pelayaran aman dan tidak berhak atas perlindungan asuransi atau kewajiban terkait."
AS dan Iran telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pekan lalu yang meningkatkan harapan kembalinya pelayaran ke Selat Hormuz, jalur sempit yang biasanya dilalui seperlima minyak dunia tetapi sebagian besar ditutup untuk kapal selama berbulan-bulan perang. Berdasarkan perjanjian tersebut, Iran diharapkan untuk mengatur jalur aman bebas bea "dengan upaya terbaiknya" selama 60 hari.
Sejak saat itu, lalu lintas kapal meningkat secara signifikan, dengan 70 kapal berlayar melalui selat pada hari Selasa, dibandingkan hanya enam kapal seminggu sebelumnya, menurut data dari perusahaan analitik Kpler, yang mencatat bahwa sebagian peningkatan tersebut mungkin disebabkan oleh "pelepasan lalu lintas yang tertunda pasca-kesepakatan." Dengan pulihnya pengiriman barang, harga minyak global telah anjlok.
IMO juga mengumumkan pada hari Selasa bahwa mereka meluncurkan upaya evakuasi skala besar untuk membantu ribuan pelaut yang tersebar di ratusan kapal keluar dari wilayah tersebut. Disebutkan bahwa ada dua rute yang tersedia; satu melalui perairan Iran di bagian utara Selat Hormuz, dan yang lain melalui perairan Oman di selatan.
Namun, perselisihan mengenai Selat Hormuz tetap berlanjut. Rute yang disukai AS melibatkan pelayaran dekat garis pantai Oman, sementara Iran bersikeras bahwa kapal harus meminta izinnya sebelum melintasi selat dan menggunakan rute yang lebih dekat ke pantainya.
Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) mengatakan pada hari Kamis: "Setiap pelayaran melalui rute di luar kerangka kerja yang ditetapkan oleh PGSA tidak akan tercakup oleh jaminan pelayaran aman dan tidak berhak atas perlindungan asuransi atau kewajiban terkait."
Lihat Juga :