Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:31 WIB
loading...
Trump Kecam Pemungutan...
Presiden AS Donald Trump. Foto/anadolu
A A A
WASHINGTON - Presiden Donald Trump mengomentari pemungutan suara Senat yang bertujuan membatasi tindakan militer AS lebih lanjut terhadap Iran kecuali diizinkan Kongres. Langkah Senat itu dilakukan seiring proses negosiasi antara AS dan Iran.

“Jadi, saya telah membuat Iran ‘terpojok,’ siap untuk jatuh, bersedia memberi kita hampir apa pun... dan Senat AS memutuskan mengadakan pemungutan suara Undang-Undang Kekuatan Perang yang tidak tepat waktu dan tidak berarti,” tulis Presiden AS Donald Trump di Truth Social.

Langkah Senat tersebut sebagian besar bersifat simbolis untuk saat ini dan tidak diharapkan untuk segera membatasi tindakan Trump. Masih diperlukan langkah-langkah lebih lanjut agar menjadi mengikat.

Memorandum kesepahaman AS-Iran tidak mendukung klaim Trump bahwa Iran “bersedia memberi kita hampir apa pun.”

Dokumen tersebut meninggalkan isu-isu kunci untuk pembicaraan lebih lanjut dan tidak memuat pembatasan yang dinyatakan pada kemampuan rudal balistik Iran.

Senat Amerika Serikat (AS) mengesahkan resolusi yang menyerukan Presiden Donald Trump menghentikan kampanye militernya terhadap Iran atau meminta persetujuan Kongres sebelum tindakan lebih lanjut diambil. Voting itu digelar seiring proses negosiasi antara AS dan Iran.

Pada hari Selasa (23/6/2026), Senat memberikan suara 50 banding 48 untuk mengesahkan resolusi tersebut, yang telah disetujui di Dewan Perwakilan Rakyat awal bulan ini.

Partai Republik memegang mayoritas di Senat, tetapi empat anggota konservatif membelot dari partai mereka untuk menyetujui resolusi tersebut, bersama dengan hampir semua anggota Partai Demokrat di Senat, kecuali satu orang.

Pemungutan suara pada hari Selasa menandai pertama kalinya resolusi kewenangan perang berhasil disahkan oleh kedua kamar Kongres. Namun upaya ini sebagian besar bersifat simbolis dan tidak diharapkan menjadi undang-undang.

Anggota Partai Republik yang membelot pada hari Selasa termasuk Bill Cassidy dari Louisiana, Lisa Murkowski dari Alaska, Susan Collins dari Maine, dan Rand Paul dari Kentucky.

Dua anggota Partai Republik lainnya tidak memberikan suara: Mitch McConnell dari Kentucky dan Dave McCormick dari Pennsylvania.

Satu-satunya anggota Demokrat yang berpihak pada Partai Republik dalam masalah ini adalah John Fetterman dari Pennsylvania.

Berbicara di ruang sidang, pemimpin Partai Demokrat Chuck Schumer mencatat pemungutan suara pada hari Selasa menandai kali ke-10 Senat membahas resolusi kekuasaan perang untuk mengendalikan kampanye militer Trump terhadap Iran.

“Selama bertahun-tahun, Trump berjanji memberikan tekanan maksimal pada Iran, tetapi ia malah memberikan kebingungan maksimal, kekacauan maksimal, dan biaya maksimal bagi rakyat Amerika dengan perang yang membawa bencana ini,” ungkap Schumer.

“Berkali-kali, sebagian besar anggota Senat dari Partai Republik berpihak pada Trump dan perangnya, alih-alih rakyat Amerika. Rakyat Amerika telah membayar harga atas kesalahan bersejarah Trump di Iran. Ini akan tercatat dalam buku sejarah sebagai salah satu upaya kebijakan luar negeri terburuk yang pernah dilakukan Amerika.”

Baca juga: PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Pesawat Pembawa Penerjun...
Pesawat Pembawa Penerjun Payung Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Wow, Putin Ngobrol dengan...
Wow, Putin Ngobrol dengan Presiden Belarusia Lukashenko 24 Jam Lebih
Rekomendasi
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Mantan Karyawan Apple...
Mantan Karyawan Apple dan Audi Kembangkan Kendaraan Listrik Terinspirasi dari Armada Bulan
Penasaran dengan Isi...
Penasaran dengan Isi Kakbah yang dijadikan Kiblat Salat? Simak Penjelasannya di Sini!
Berita Terkini
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved