Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Selasa, 23 Juni 2026 - 09:24 WIB
loading...
Aktivis Zionis terkemuka, Amiad Cohen, memprediksi Israel akan perang dengan Mesir dalam waktu 15 tahun dari sekarang. Foto/Yonatan Sindel/Flash90/i24NEWS
A
A
A
YERUSALEM - Seorang aktivis Zionis terkemuka telah memprediksi bahwa Israel akan berperang dengan Mesir dalam 15 tahun. Alasannya, tantangan strategis Israel berikutnya adalah kekuatan-kekuatan Muslim Sunni muncul setelah melemahnya Iran dan sekutu-sekutu regionalnya.
Berbicara di Jewish News Syndicate (JNS) International Policy Summit di Yerusalem, Amiad Cohen, kepala eksekutif Herut Center dan tokoh terkemuka di kubu nasionalis Israel, memperingatkan bahwa Mesir dan Turki merupakan ancaman jangka panjang bagi Israel dan Barat secara luas.
Baca Juga: Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
“Lima belas tahun dari sekarang, Israel akan berperang dengan Mesir,” kata Cohen kepada para peserta pertemuan puncak (KTT) tersebut setelah memprediksi bahwa Ikhwanul Muslimin pada akhirnya akan mengambil alih Mesir.
Pernyataan Cohen disampaikan selama diskusi tentang prospek strategis jangka panjang Israel setelah konfrontasinya dengan Iran dan kelompok-kelompok milisi pro-Teheran yang disebut “Poros Perlawanan”. Menurut Cohen, fokus sekarang harus bergeser dari kekuatan Syiah ke gerakan politik Sunni.
Cohen berulang kali menggambarkan Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman global, mengeklaim bahwa gerakan tersebut mewakili ancaman nomor satu bagi Amerika dan memperingatkan bahwa mereka berupaya mendapatkan pengaruh di negara-negara bagian seperti Florida dan Texas.
Dia tampaknya menyiratkan bahwa New York telah dikuasai oleh Ikhwanul Muslimin sebagai akibat dari kemenangan Zohran Mamdani dalam pemilihan wali kota.
Cohen juga menunjuk Turki sebagai ancaman yang muncul, mengutip komentar yang dia atribusikan kepada Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. “Turki sekarang mengambil alih,” klaim Cohen, dengan alasan bahwa pengaruh regional Ankara yang semakin meningkat harus dilihat sebagai tantangan strategis bagi Israel.
Pernyataan tersebut mencerminkan tren yang berkembang di kalangan politik dan keamanan Israel yang semakin menganggap kekuatan Sunni, khususnya Turki dan Mesir, sebagai musuh di masa depan.
Bulan lalu, agen mata-mata Israel, Jonathan Pollard, memperingatkan bahwa Turki dan Mesir dapat menjadi target Israel berikutnya setelah melemahnya Iran. Pollard berpendapat bahwa Ankara menggantikan Teheran sebagai ancaman strategis utama yang dihadapi Israel dan menuduh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengejar dominasi regional.
Dalam diskusi yang sama, Pollard juga mengidentifikasi Mesir sebagai tantangan potensial di masa depan meskipun perjanjian perdamaian yang telah berlangsung selama beberapa dekade antara Kairo dan Tel Aviv.
JNS International Policy Summit telah menjadi platform penting bagi tokoh-tokoh konservatif Israel dan internasional, pembuat kebijakan, dan aktivis. Pertemuan tahun ini menampilkan diskusi tentang keamanan regional, masa depan Kesepakatan Abraham, Iran, dan konsekuensi geopolitik dari perang Israel di seluruh Timur Tengah.
Israel dan Mesir menandatangani perjanjian perdamaian pada tahun 1979 dan telah mempertahankan kerja sama keamanan selama beberapa dekade, sementara hubungan antara Israel dan Turki telah berfluktuasi di tengah ketegangan atas Gaza, Yerusalem, dan isu-isu regional yang lebih luas.
Cohen menekankan bahwa Israel harus mempersiapkan diri untuk masa depan di mana tantangan utama negara itu bukan berasal dari aktor Syiah, tetapi dari kekuatan politik Sunni dan kekuatan regional.
“Israel perlu kuat, Amerika perlu kuat,” katanya. “Sayangnya, Amerika lemah," imbuh dia, yang dilansir Middle East Monitor, Selasa (23/6/2026).
Berbicara di Jewish News Syndicate (JNS) International Policy Summit di Yerusalem, Amiad Cohen, kepala eksekutif Herut Center dan tokoh terkemuka di kubu nasionalis Israel, memperingatkan bahwa Mesir dan Turki merupakan ancaman jangka panjang bagi Israel dan Barat secara luas.
Baca Juga: Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
“Lima belas tahun dari sekarang, Israel akan berperang dengan Mesir,” kata Cohen kepada para peserta pertemuan puncak (KTT) tersebut setelah memprediksi bahwa Ikhwanul Muslimin pada akhirnya akan mengambil alih Mesir.
Pernyataan Cohen disampaikan selama diskusi tentang prospek strategis jangka panjang Israel setelah konfrontasinya dengan Iran dan kelompok-kelompok milisi pro-Teheran yang disebut “Poros Perlawanan”. Menurut Cohen, fokus sekarang harus bergeser dari kekuatan Syiah ke gerakan politik Sunni.
Cohen berulang kali menggambarkan Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman global, mengeklaim bahwa gerakan tersebut mewakili ancaman nomor satu bagi Amerika dan memperingatkan bahwa mereka berupaya mendapatkan pengaruh di negara-negara bagian seperti Florida dan Texas.
Dia tampaknya menyiratkan bahwa New York telah dikuasai oleh Ikhwanul Muslimin sebagai akibat dari kemenangan Zohran Mamdani dalam pemilihan wali kota.
Cohen juga menunjuk Turki sebagai ancaman yang muncul, mengutip komentar yang dia atribusikan kepada Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. “Turki sekarang mengambil alih,” klaim Cohen, dengan alasan bahwa pengaruh regional Ankara yang semakin meningkat harus dilihat sebagai tantangan strategis bagi Israel.
Pernyataan tersebut mencerminkan tren yang berkembang di kalangan politik dan keamanan Israel yang semakin menganggap kekuatan Sunni, khususnya Turki dan Mesir, sebagai musuh di masa depan.
Bulan lalu, agen mata-mata Israel, Jonathan Pollard, memperingatkan bahwa Turki dan Mesir dapat menjadi target Israel berikutnya setelah melemahnya Iran. Pollard berpendapat bahwa Ankara menggantikan Teheran sebagai ancaman strategis utama yang dihadapi Israel dan menuduh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengejar dominasi regional.
Dalam diskusi yang sama, Pollard juga mengidentifikasi Mesir sebagai tantangan potensial di masa depan meskipun perjanjian perdamaian yang telah berlangsung selama beberapa dekade antara Kairo dan Tel Aviv.
JNS International Policy Summit telah menjadi platform penting bagi tokoh-tokoh konservatif Israel dan internasional, pembuat kebijakan, dan aktivis. Pertemuan tahun ini menampilkan diskusi tentang keamanan regional, masa depan Kesepakatan Abraham, Iran, dan konsekuensi geopolitik dari perang Israel di seluruh Timur Tengah.
Israel dan Mesir menandatangani perjanjian perdamaian pada tahun 1979 dan telah mempertahankan kerja sama keamanan selama beberapa dekade, sementara hubungan antara Israel dan Turki telah berfluktuasi di tengah ketegangan atas Gaza, Yerusalem, dan isu-isu regional yang lebih luas.
Cohen menekankan bahwa Israel harus mempersiapkan diri untuk masa depan di mana tantangan utama negara itu bukan berasal dari aktor Syiah, tetapi dari kekuatan politik Sunni dan kekuatan regional.
“Israel perlu kuat, Amerika perlu kuat,” katanya. “Sayangnya, Amerika lemah," imbuh dia, yang dilansir Middle East Monitor, Selasa (23/6/2026).
(mas)
Lihat Juga :