Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
Sabtu, 20 Juni 2026 - 09:29 WIB
loading...
Satu kendaraan militer Israel meledak setelah bom rakitan (IED) Hizbullah menghantam pasukan yang sedang maju di dekat Bukit Ali Al-Taher di Lebanon selatan. Foto/x
A
A
A
BEIRUT - Yedioth Ahronoth melaporkan pasukan Israel belum mampu mengambil tank komandan Batalyon 52, yang tewas di Lebanon selatan. Menurut laporan tersebut, tank yang rusak tempat komandan batalyon dan tentara lainnya tewas tetap tidak dapat diakses karena risiko yang masih ada di daerah tersebut.
Sebelumnya dilaporkan, satu batalyon Israel yang namanya secara internasional dikaitkan dengan pembunuhan gadis Palestina berusia enam tahun, Hind Rajab,telah menderita kerugian besar di Lebanon selatan. Menurut laporan, komandan batalyon itu termasuk di antara empat tentara yang tewas dalam penyergapan mematikan.
Militer Israel mengumumkan pada hari Jumat (19/6/2026) bahwa Letnan Kolonel Dor Ben Shimchon, komandan Batalyon ke-52 dari Brigade Lapis Baja ke-401, tewas bersama tiga tentara lainnya selama insiden keamanan di dekat Kfar Tibnit di Lebanon selatan.
Otoritas Israel mengatakan insiden itu terjadi tak lama setelah tengah malam ketika satu tank Merkava milik batalyon tersebut dihantam oleh apa yang digambarkan militer sebagai "target mencurigakan."
Militer Israel mengatakan masih menyelidiki apakah serangan itu dilakukan menggunakan drone peledak atau sistem senjata lain.
Media Israel menggambarkan insiden itu sebagai salah satu kemunduran terberat militer di Lebanon selatan dalam beberapa bulan terakhir, dengan laporan yang menunjukkan banyak tentara dan perwira lainnya terluka.
Batalyon ke-52 menjadi terkenal di seluruh dunia selama genosida Gaza setelah penyelidikan atas pembunuhan Hind Rajab yang berusia enam tahun dan penghancuran ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya.
Hind terjebak di dalam satu kendaraan di lingkungan Tel al-Hawa, Kota Gaza, pada Januari 2024 setelah tembakan Israel menewaskan beberapa anggota keluarganya.
Rekaman yang dirilis kemudian menangkap anak itu memohon bantuan selama panggilan telepon yang putus asa dengan petugas darurat sambil dikelilingi oleh mayat kerabatnya.
Satu ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya tidak pernah sampai ke tujuannya. Dua paramedis di dalamnya juga tewas.
Ketika para penyelidik akhirnya mencapai daerah tersebut, mereka menemukan Hind tewas bersama anggota keluarganya dan kru ambulans.
Kasus ini memicu kemarahan internasional dan menjadi salah satu simbol genosida Gaza yang paling dikenal luas.
Investigasi selanjutnya yang dilakukan Yayasan Hind Rajab, bersama dengan analis forensik, penyelidik sumber terbuka, dan organisasi media internasional, berupaya merekonstruksi peristiwa seputar pembunuhan tersebut.
Menurut investigasi tersebut, unit-unit dari Batalyon ke-52 dan Brigade Lapis Baja ke-401 beroperasi di daerah Tel al-Hawa pada saat Hind dan keluarganya dibunuh.
Perhatian khusus difokuskan pada satu kompi di dalam Batalyon 52 yang dilaporkan dikenal sebagai "Kekaisaran Vampir."
Kelompok hak asasi manusia kemudian mengajukan pengaduan hukum ke Mahkamah Pidana Internasional yang menyebutkan nama komandan dan personel dari Batalyon 52 dan Brigade ke-401, dengan mengandalkan citra satelit, bukti digital, dan analisis forensik yang disajikan sebagai bagian dari investigasi mereka.
Bukti dan tuduhan tersebut telah menjadi pusat upaya internasional yang sedang berlangsung untuk mencari pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan selama genosida Gaza.
Baca juga: Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Sebelumnya dilaporkan, satu batalyon Israel yang namanya secara internasional dikaitkan dengan pembunuhan gadis Palestina berusia enam tahun, Hind Rajab,telah menderita kerugian besar di Lebanon selatan. Menurut laporan, komandan batalyon itu termasuk di antara empat tentara yang tewas dalam penyergapan mematikan.
Militer Israel mengumumkan pada hari Jumat (19/6/2026) bahwa Letnan Kolonel Dor Ben Shimchon, komandan Batalyon ke-52 dari Brigade Lapis Baja ke-401, tewas bersama tiga tentara lainnya selama insiden keamanan di dekat Kfar Tibnit di Lebanon selatan.
Otoritas Israel mengatakan insiden itu terjadi tak lama setelah tengah malam ketika satu tank Merkava milik batalyon tersebut dihantam oleh apa yang digambarkan militer sebagai "target mencurigakan."
Militer Israel mengatakan masih menyelidiki apakah serangan itu dilakukan menggunakan drone peledak atau sistem senjata lain.
Media Israel menggambarkan insiden itu sebagai salah satu kemunduran terberat militer di Lebanon selatan dalam beberapa bulan terakhir, dengan laporan yang menunjukkan banyak tentara dan perwira lainnya terluka.
Batalyon di Balik Kasus Hind Rajab
Batalyon ke-52 menjadi terkenal di seluruh dunia selama genosida Gaza setelah penyelidikan atas pembunuhan Hind Rajab yang berusia enam tahun dan penghancuran ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya.
Hind terjebak di dalam satu kendaraan di lingkungan Tel al-Hawa, Kota Gaza, pada Januari 2024 setelah tembakan Israel menewaskan beberapa anggota keluarganya.
Rekaman yang dirilis kemudian menangkap anak itu memohon bantuan selama panggilan telepon yang putus asa dengan petugas darurat sambil dikelilingi oleh mayat kerabatnya.
Satu ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya tidak pernah sampai ke tujuannya. Dua paramedis di dalamnya juga tewas.
Ketika para penyelidik akhirnya mencapai daerah tersebut, mereka menemukan Hind tewas bersama anggota keluarganya dan kru ambulans.
Kasus ini memicu kemarahan internasional dan menjadi salah satu simbol genosida Gaza yang paling dikenal luas.
Investigasi Menunjuk pada Batalyon 52
Investigasi selanjutnya yang dilakukan Yayasan Hind Rajab, bersama dengan analis forensik, penyelidik sumber terbuka, dan organisasi media internasional, berupaya merekonstruksi peristiwa seputar pembunuhan tersebut.
Menurut investigasi tersebut, unit-unit dari Batalyon ke-52 dan Brigade Lapis Baja ke-401 beroperasi di daerah Tel al-Hawa pada saat Hind dan keluarganya dibunuh.
Perhatian khusus difokuskan pada satu kompi di dalam Batalyon 52 yang dilaporkan dikenal sebagai "Kekaisaran Vampir."
Kelompok hak asasi manusia kemudian mengajukan pengaduan hukum ke Mahkamah Pidana Internasional yang menyebutkan nama komandan dan personel dari Batalyon 52 dan Brigade ke-401, dengan mengandalkan citra satelit, bukti digital, dan analisis forensik yang disajikan sebagai bagian dari investigasi mereka.
Bukti dan tuduhan tersebut telah menjadi pusat upaya internasional yang sedang berlangsung untuk mencari pertanggungjawaban atas kejahatan yang dilakukan selama genosida Gaza.
Baca juga: Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
(sya)
Lihat Juga :