AS dan Iran Berdamai, Wapres Amerika Berbalik Kecam Israel

Jum'at, 19 Juni 2026 - 06:58 WIB
loading...
AS dan Iran Berdamai,...
Wakil Presiden AS J.D. Vance mengecam para anggota kabinet Israel karena mengkritik kesepakatan perdamaian AS dan Iran. Foto/Fox29
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) dan Iran dijadwalkan meresmikan nota kesepahaman (MoU) kesepakatan perdamaian di Jenewa, Swiss, Jumat (19/6/2026). Kesepakatan ini untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Menjelang upacara peresmian MoU, Wakil Presiden (Wapres) AS JD Vance pada hari Kamis mengecam para anggota pemerintah Israel karena mengkritik kesepakatan Amerika dan Iran. Kecaman Vance menjadi sikap langka dan pembalikan kebijakan Washington yang selama ini membela rezim Zionis Israel dalam konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel

Vance mengatakan bahwa Israel sangat terisolasi dan para pemimpinnya gagal menghargai dukungan diplomatik dan militer Amerika.

Komentar Vance telah memperdalam keretakan yang muncul antara kedua negara yang dikenal sebagai sekutu abadi tersebut.

"Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada negara Israel saat ini," kata Vance dalam konferensi pers di Gedung Putih, seperti dikutip AP.

"Masalah bagi Israel bukanlah Donald J. Trump, dan siapa pun di Israel yang berpikir bahwa masalah terbesar mereka adalah presiden Amerika Serikat perlu bangun dan menyadari realitas situasi yang dihadapi negara tersebut," paparnya.

Israel dan AS bersama-sama melancarkan perang melawan Iran pada 28 Februari, mengoordinasikan operasi militer yang berlangsung lebih dari sebulan tersebut.

Namun, perbedaan pendapat dengan cepat muncul setelah kesepakatan gencatan senjata pendahuluan pada 8 April, dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mendorong untuk melanjutkan kampanye militer dan Trump berupaya mengakhiri perang yang sangat tidak populer di AS dan mengguncang ekonomi global.

Meskipun Netanyahu berhati-hati untuk tidak secara terbuka mengkritik kesepakatan AS dan Iran, beberapa anggota kabinetnya lebih vokal. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, yang memimpin partai ultranasionalis kecil, minggu ini menyatakan bahwa Israel tidak "terikat" oleh perjanjian Trump dan mengatakan bahwa Israel tidak akan menyerah pada tekanan internasional.

Vance mencatat bahwa Netanyahu belum secara terbuka mengkritik Trump, tetapi dia menuduh anggota kabinet Netanyahu yang tidak disebutkan namanya tidak tahu berterima kasih.

Dia mengatakan Israel memiliki sedikit teman di komunitas internasional dan melindungi dirinya sendiri dengan sejumlah besar senjata yang dibayar oleh Amerika Serikat.

Kantor Netanyahu menolak untuk berkomentar tentang kecaman Vance.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump telah menyatakan kekecewaannya terhadap Netanyahu, mengeklaim keberhasilan atas keberadaan Israel dan menggambarkan pemimpin Israel itu sebagai "gila". Dia mengesampingkan Israel sepanjang negosiasi AS dengan Iran, dan mengkritik serangan udara Israel di Beirut, Lebanon.

Dalam komentar pertamanya mengenai nota kesepahaman yang baru ditandatangani pemimpin AS dan Iran, Netanyahu pada hari Kamis mengatakan bahwa militer Israel akan tetap berada di zona wilayah yang didudukinya di Lebanon selatan. "Selama kebutuhan keamanan Israel membutuhkannya," katanya.

Komentar tersebut mengancam akan merusak kesepakatan Amerika dan Iran, yang menyerukan penghentian semua pertempuran dan penghormatan terhadap integritas teritorial Lebanon.

Namun, Netanyahu menyatakan, "Penting untuk mempertahankan hubungan penting dengan teman-teman Amerika kami yang berjuang bahu-membahu dengan kami, dan kami sangat menghargai itu."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Menteri Perang AS Kecam...
Menteri Perang AS Kecam Negara-negara NATO: Menumpang Gratis, tapi Tolak Bantu Melawan Iran!
AS atau Iran yang Menang...
AS atau Iran yang Menang Perang? Ini Jawaban Mengejutkan 10 Pakar Militer
Senator Amerika Geram...
Senator Amerika Geram dengan Kesepakatan AS dan Iran: 'Jujur Saja, Kita Menyerah'
Militer AS Telah Cabut...
Militer AS Telah Cabut Blokade Iran atas Perintah Trump
62 Juta Barel Minyak...
62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Trump Teken MoU Perjanjian...
Trump Teken MoU Perjanjian Damai, Iran Tegaskan Tak Akan Serahkan Bahan Nuklir
Rekomendasi
Kawasaki Bikin Skutik?...
Kawasaki Bikin Skutik? Tiga Kejutan dari Booth PRJ 2026
Tahu-Tempe dan Impor...
Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan
Ratusan Mahasiswa Trisakti...
Ratusan Mahasiswa Trisakti Bergerak dari Tugu 12 Mei Reformasi Menuju Gedung DPR
Berita Terkini
Jurnalis AS: Trump Tak...
Jurnalis AS: Trump Tak Konsultasi dengan Israel soal Iran untuk Lemahkan Posisi Netanyahu
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Kecaman Wapres AS ke...
Kecaman Wapres AS ke Israel Makin Pedas: Senjatamu Dibayar dengan Uang Pajak Amerika!
Penampakan Mengerikan...
Penampakan Mengerikan 'Hujan Minyak Hitam' di Langit Moskow akibat Serangan Terbesar Ukraina
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved