Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radioaktif
Minggu, 14 Juni 2026 - 20:29 WIB
loading...
A
A
A
Untuk memasok magnet dan komponen berbasis logam tanah jarang, MHI mengandalkan pasokan dari Lynas. Menurut laporan tradingview.com pada 7 Januari 2026, karena larangan ekspor logam tanah jarang dari China ke industri senjata Jepang, pemasok di luar China menangguk keuntungan.
Saham Lynas Rare Earth Lt di Australia naik 16 persen, sedangkan perusahaan Jepang; Toyo Engineering Corp, naik 20 persen karena dinilai berhasil mengembangkan teknologi menambang logam tanah jarang dari dasar laut.
Pasokan kebutuhan produksi senjata dan industri Jepang tersebut memicu persoalan lain yakni masalah kesehatan dan keselamatan warga terutama di Negara Bagian Pahang, Malaysia. Bahaya kesehatan itu dipicu oleh limbah radioaktif dari produksi logam tanah jarang yang berasal dari Pabrik Lynas Rare Earth Malaysia, di Gebeng Industrial Park, yang sudah lebih dari dua dasawarsa didemo warga.
Sebelum berdiri, warga setempat sudah menggelar unjuk rasa karena ketakutan pada paparan radioaktif. Selanjutnya setelah beroperasi pada November 2012, berbagai elemen warga rutin menuntut penutupan Lynas Rare Earth di China-Malaysia Industrial Park, Gebeng.
Dalam fase produksi tahap satu, logam tanah jarang selalu menghasilkan limbah radio aktif yang berbahaya bagi masyarakat. Hal itu sudah pernah terjadi di Malaysia pada dekade 1980-an.
Channel News Asia (CNA) dalam tayangan 5 November 2023 berjudul "Kota Malaysia Masih Dihantui Polusi Radioaktif" menceritakan sisa limbah radio aktif Mitsubishi Chemicals di Bukit Merah, Negara Bagian Ipoh, Malaysia, yang ditutup tahun 1984.
Limbah radio aktif di Bukit Merah itu merupakan sisa produksi logam tanah jarang yang dilakukan korporasi Mitsubishi Chemicals di tahun 1980-an. Bukit dan danau besar bekas penambangan dan penyimpanan limbah menimbulkan kecemasan warga hingga kini.
“Polusi radioaktif di Bukit Merah mengakibatkan anak lahir cacat dan aneka gangguan kesehatan. Ini menjadi kekhawatiran kami akan terulang di daerah kami di Pahang,” kata Tan Bun Teet (78), aktivis lingkungan hidup di Kuantan, Negara Bagian Pahang.
Saham Lynas Rare Earth Lt di Australia naik 16 persen, sedangkan perusahaan Jepang; Toyo Engineering Corp, naik 20 persen karena dinilai berhasil mengembangkan teknologi menambang logam tanah jarang dari dasar laut.
Bahaya Radioaktif
Pasokan kebutuhan produksi senjata dan industri Jepang tersebut memicu persoalan lain yakni masalah kesehatan dan keselamatan warga terutama di Negara Bagian Pahang, Malaysia. Bahaya kesehatan itu dipicu oleh limbah radioaktif dari produksi logam tanah jarang yang berasal dari Pabrik Lynas Rare Earth Malaysia, di Gebeng Industrial Park, yang sudah lebih dari dua dasawarsa didemo warga.
Sebelum berdiri, warga setempat sudah menggelar unjuk rasa karena ketakutan pada paparan radioaktif. Selanjutnya setelah beroperasi pada November 2012, berbagai elemen warga rutin menuntut penutupan Lynas Rare Earth di China-Malaysia Industrial Park, Gebeng.
Dalam fase produksi tahap satu, logam tanah jarang selalu menghasilkan limbah radio aktif yang berbahaya bagi masyarakat. Hal itu sudah pernah terjadi di Malaysia pada dekade 1980-an.
Channel News Asia (CNA) dalam tayangan 5 November 2023 berjudul "Kota Malaysia Masih Dihantui Polusi Radioaktif" menceritakan sisa limbah radio aktif Mitsubishi Chemicals di Bukit Merah, Negara Bagian Ipoh, Malaysia, yang ditutup tahun 1984.
Limbah radio aktif di Bukit Merah itu merupakan sisa produksi logam tanah jarang yang dilakukan korporasi Mitsubishi Chemicals di tahun 1980-an. Bukit dan danau besar bekas penambangan dan penyimpanan limbah menimbulkan kecemasan warga hingga kini.
“Polusi radioaktif di Bukit Merah mengakibatkan anak lahir cacat dan aneka gangguan kesehatan. Ini menjadi kekhawatiran kami akan terulang di daerah kami di Pahang,” kata Tan Bun Teet (78), aktivis lingkungan hidup di Kuantan, Negara Bagian Pahang.
Lihat Juga :