Israel Serang Kota di Lebanon yang Namanya Disebut dalam Alkitab
Rabu, 10 Juni 2026 - 12:27 WIB
loading...
Warga melihat kerusakan akibat serangan Israel di Tyre, Lebanon. Foto/anadolu
A
A
A
BEIRUT - Israel menyerang kota bersejarah Tyre di Lebanon. Zionis menargetkan kawasan Kristen untuk pertama kalinya setelah memerintahkan evakuasi sebagian.
Serangan ini telah meningkatkan kekhawatiran warga setempat atas nasib situs-situs warisan Alkitab yang dihormati di kota tersebut.
Menurut Reuters, delapan orang tewas dalam satu serangan di pinggiran timur Tyre pada hari Selasa (9/6/2026).
Kawasan Kristen, yang terletak di barat laut kota, telah dikecualikan dari peringatan Israel sebelumnya dan telah menampung orang-orang yang mengungsi dari tempat lain.
Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi menyeluruh setelah mengklaim pejuang Hizbullah bersembunyi di kawasan tersebut. Klaim Israel dibantah oleh penduduknya, pejabat setempat, dan tentara Lebanon.
Sebagai salah satu kota tertua di dunia yang terus menerus dihuni dan situs Warisan Dunia UNESCO, Tyre disebutkan berulang kali dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Tempat ini merupakan pusat utama kerajaan Fenisia kuno, yang memasok material untuk pembangunan Kuil Salomo, yang diyakini berdiri di Bukit Bait Suci Yerusalem, lokasi kompleks Masjid Al-Aqsa, salah satu situs tersuci dalam Islam.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan atas situs-situs keagamaan dan warisan budaya di seluruh wilayah tersebut. Para kritikus menuduh Israel memperluas kendalinya atas lokasi-lokasi yang sakral bagi umat Islam dan Kristen.
Bulan lalu, Israel mengeluarkan perintah pengambilalihan yang mencakup desa Nabi Samwil di Tepi Barat yang diduduki, tempat yang diyakini sebagai makam Nabi Samuel, tokoh yang dihormati dalam Yahudi, Kristen, dan Islam.
Para pejabat Palestina dan pemimpin agama telah mengutuk langkah tersebut sebagai upaya menghapus warisan Muslim dan Kristen serta memperkuat kendali Israel atas situs-situs suci yang diperebutkan.
Menurut cerita, Bani Israil meminta Nabi Samuel atau Syamu'il untuk menunjuk seorang raja yang akan memimpin mereka berperang membela agama. Atas petunjuk, Samuel mengangkat seorang pemuda bernama Thalut (Saul dalam tradisi Yahudi/Kristen) sebagai raja.
Baca juga: AS Serang Iran, Balas Jatuhnya Helikopter AH-64 Apache Dekat Selat Hormuz
Serangan ini telah meningkatkan kekhawatiran warga setempat atas nasib situs-situs warisan Alkitab yang dihormati di kota tersebut.
Menurut Reuters, delapan orang tewas dalam satu serangan di pinggiran timur Tyre pada hari Selasa (9/6/2026).
Kawasan Kristen, yang terletak di barat laut kota, telah dikecualikan dari peringatan Israel sebelumnya dan telah menampung orang-orang yang mengungsi dari tempat lain.
Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi menyeluruh setelah mengklaim pejuang Hizbullah bersembunyi di kawasan tersebut. Klaim Israel dibantah oleh penduduknya, pejabat setempat, dan tentara Lebanon.
Sebagai salah satu kota tertua di dunia yang terus menerus dihuni dan situs Warisan Dunia UNESCO, Tyre disebutkan berulang kali dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Tempat ini merupakan pusat utama kerajaan Fenisia kuno, yang memasok material untuk pembangunan Kuil Salomo, yang diyakini berdiri di Bukit Bait Suci Yerusalem, lokasi kompleks Masjid Al-Aqsa, salah satu situs tersuci dalam Islam.
Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan atas situs-situs keagamaan dan warisan budaya di seluruh wilayah tersebut. Para kritikus menuduh Israel memperluas kendalinya atas lokasi-lokasi yang sakral bagi umat Islam dan Kristen.
Bulan lalu, Israel mengeluarkan perintah pengambilalihan yang mencakup desa Nabi Samwil di Tepi Barat yang diduduki, tempat yang diyakini sebagai makam Nabi Samuel, tokoh yang dihormati dalam Yahudi, Kristen, dan Islam.
Para pejabat Palestina dan pemimpin agama telah mengutuk langkah tersebut sebagai upaya menghapus warisan Muslim dan Kristen serta memperkuat kendali Israel atas situs-situs suci yang diperebutkan.
Menurut cerita, Bani Israil meminta Nabi Samuel atau Syamu'il untuk menunjuk seorang raja yang akan memimpin mereka berperang membela agama. Atas petunjuk, Samuel mengangkat seorang pemuda bernama Thalut (Saul dalam tradisi Yahudi/Kristen) sebagai raja.
Baca juga: AS Serang Iran, Balas Jatuhnya Helikopter AH-64 Apache Dekat Selat Hormuz
(sya)
Lihat Juga :