3 Fakta Kepulauan Chagos yang Akan Dibeli AS, Salah Satunya Jadi Kekuatan Militer Amerika-Inggris

Selasa, 09 Juni 2026 - 09:40 WIB
loading...
3 Fakta Kepulauan Chagos...
Amerika Serikat berencana membeli Kepulauan Chagos, yang mencakup Diego Garcia, dari Mauritius. Foto/Science Photo Library via BBC
A A A
JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS), di bawah Presiden Donald Trump, sedang mempertimbangkan proposal untuk membeli Kepulauan Chagos dari Mauritius.

Menurut laporan The Telegraph, para pejabat Amerika sedang mencari cara untuk berurusan langsung dengan Mauritius daripada melalui Inggris. Tujuannya adalah untuk mengamankan kendali atas Diego Garcia, sebuah pulau kunci di gugusan Chagos.

Baca Juga: AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya

3 Fakta Kepulauan Chagos yang Akan Dibeli AS

1. Jadi Kekuatan Militer AS-Inggris

Diego Garcia, pulau kunci di Kepulauan Chagos, telah lama menjadi lokasi pangkalan militer AS-Inggris yang penting. Pangkalan tersebut digunakan untuk operasi di seluruh Samudra Hindia, Timur Tengah, dan sebagian Asia.

Inggris dan Mauritius telah menyepakati rencana untuk Kepulauan Chagos. Inggris akan terus mengoperasikan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia selama 99 tahun. Setelah itu, perjanjian dapat diperpanjang selama 40 tahun lagi jika Inggris dan Mauritius setuju.

Sekarang, AS berupaya menempuh jalur pintas untuk mengendalikan pangkalan Diego Garcia, yakni membeli langsung dari Mauritius tanpa melibatkan Inggris. Bagi Amerika, pangkalan itu sangat penting terlebih Mauritius sekarang ini dikenal sebagai sekutu China—negara rival utama Amerika.

2. Awal Mula Kepulauan Chagos Terpisah dari Mauritius

Inggris telah mengendalikan Kepulauan Chagos, juga dikenal sebagai British Indian Ocean Territory (Wilayah Samudra Hindia Britania), sejak tahun 1814.

Pada tahun 1965, pulau-pulau tersebut dipisahkan dari Mauritius ketika masih menjadi koloni Inggris. Inggris membeli pulau-pulau tersebut seharga 3 juta poundsterling Inggris, tetapi Mauritius kemudian mengatakan bahwa pemisahan ini tidak adil dan terjadi di bawah tekanan.

Antara tahun 1967 hingga 1973, penduduk yang tinggal di pulau-pulau tersebut dipindahkan secara paksa oleh pemerintah Inggris. Hal ini dilakukan untuk membuka jalan bagi pangkalan militer.

Mauritius merdeka pada tahun 1968, tetapi terus mengeklaim bahwa Kepulauan Chagos secara hukum miliknya. Mereka berpendapat bahwa pulau-pulau tersebut diambil sebelum kemerdekaan dengan cara yang tidak adil.

Pada tahun 2025, Inggris setuju untuk mengembalikan kendali atas pulau-pulau tersebut kepada Mauritius. Namun, beberapa pemimpin sekutu, termasuk Presiden AS Donald Trump, mengkritik langkah tersebut.

Kepulauan Chagos dihuni selama bertahun-tahun setelah Belanda dan Prancis membawa orang Afrika dan orang Malagasy yang diperbudak untuk bekerja di perkebunan kelapa. Orang-orang ini dan keturunan mereka mengembangkan budaya, bahasa, makanan, dan musik mereka sendiri. Komunitas ini dikenal sebagai orang Chagossian.

Sebelum pangkalan militer AS-Inggris dibangun di Diego Garcia pada tahun 1971, AS ingin pulau-pulau tersebut dibersihkan dari penduduk setempat. Pejabat Inggris setuju bahwa penduduk tersebut bukanlah pemukim tetap dan menyebut mereka sebagai beberapa "Tarzan atau Man Friday".

Setelah itu, seluruh penduduk Chagossian dipindahkan dari pulau-pulau tersebut. Orang-orang dibawa dengan kapal dan dipindahkan ke Mauritius dan Seychelles. Banyak yang tidak diberi tempat tinggal, uang, atau dokumen yang layak, dan mereka berjuang untuk membangun kembali kehidupan mereka. Inggris kemudian meminta maaf atas cara pemindahan tersebut dilakukan.

Setelah orang-orang dipindahkan, pulau-pulau tersebut sebagian besar dibiarkan kosong dan diubah menjadi hutan. Pada tahun 2010, daerah tersebut dinyatakan sebagai Kawasan Lindung Laut.

3. Kesepakatan Inggris-Mauritius Senilai 3,4 Miliar Poundsterling

Inggris dan Mauritius telah menyepakati rencana untuk Kepulauan Chagos. Inggris akan terus mengoperasikan pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia selama 99 tahun. Setelah itu, perjanjian dapat diperpanjang selama 40 tahun lagi jika Inggris dan Mauritius setuju.

Jika perjanjian berakhir setelah 99 tahun, maka Inggris masih akan memiliki hak pertama untuk menggunakan pangkalan tersebut selama 40 tahun ke depan jika Mauritius memutuskan untuk menawarkannya kepada negara lain. Mauritius tidak dapat mengakhiri perjanjian tersebut secara bebas. Mereka hanya dapat melakukannya jika Inggris tidak melakukan pembayaran yang diperlukan atau jika Inggris menyerang Mauritius.

Inggris akan membayar Mauritius setiap tahun untuk penggunaan Diego Garcia. Selama 99 tahun, pembayaran ini diperkirakan akan mencapai total sekitar 3,4 miliar poundsterling Inggris.

Perjanjian tersebut juga mencakup dana untuk penduduk Chagos. Inggris akan menyetor 40 juta poundsterling Inggris ke dalam dana perwalian untuk mereka. Perjanjian tersebut tidak secara jelas menjamin bahwa penduduk Chagos akan diizinkan untuk kembali dan tinggal di pulau-pulau tersebut lagi.

Pada bulan April, pemerintah Inggris menunda rencananya untuk mentransfer kendali Kepulauan Chagos ke Mauritius setelah Trump mengkritik langkah tersebut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Duh, AS-Iran Saling...
Duh, AS-Iran Saling Serang Lagi Gara-Gara Salah Menafsirkan MoU Perjanjian Damai
Rekomendasi
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Tak Sekadar Nyaman,...
Tak Sekadar Nyaman, Hunian Masa Depan Kini Mengandalkan Energi Hijau
Berita Terkini
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved