Rudal Patriot AS Makan Tuan: Gagal Cegat Misil Iran, Malah Hancurkan Bandara Kuwait
Kamis, 04 Juni 2026 - 06:50 WIB
loading...
IRGC klaim rudal yang hancurkan Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait bukan milik Iran, melainkan rudal yang ditembakkan sistem pertahanan Patriot AS. Foto/X via Bumppy
A
A
A
TEHERAN - Rudal yang menghantam Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait pada hari Rabu bukanlahmilik Iran, melainkan rudal pencegat dari sistem pertahanan Patriot Amerika Serikat (AS). Demikian klaim Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Jika klaim tersebut terkonfirmasi, ini ibarat senjata makan tuan. Sejatinya, sistem pertahanan Patriot diaktifkan untuk mempertahankan pangkalan militer Amerika di negara Teluk tersebut dari serangan Teheran.
Baca Juga: IRGC: Serangan Balasn ke Kuwait dan Bahrain Harus Jadi Pelajaran bagi AS
Aksi saling serang Amerika dan Iran ini terjadi setelah militer Washington menyerang sebuah kapal tanker yang sedang menuju Pulau Kharg. Washington berdalih serangan diluncurkan karena kapal itu melanggar blokade sepihak yang diberlakukan terhadap pelabuhan Republik Islam Iran.
“Investigasi dan penelitian kami terhadap serangan terminal penumpang Kuwait menunjukkan bahwa Angkatan Udara IRGC tidak menembak sasaran ini, dan kehancuran terminal penumpang bandara Kuwait disebabkan oleh kesalahan pada sistem Patriot Amerika, yang mendarat di terminal ini setelah gagal mencegat rudal Iran,” kata IRGC pada hari Rabu, yang dilansir Russia Today, Kamis (4/6/2026).
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengatakan setidaknya satu orang tewas ketika sebuah rudal menghantam terminal bandara dan fasilitas vital lainnya, termasuk misi diplomatik. Beberapa orang juga terluka dalam serangan itu, imbuh kementerian itu tanpa menyebutkan jumlahnya.
Sebuah video yang diperoleh Russia Today menunjukkan dampak serangan tersebut. Video pendek itu menunjukkan bagian dalam gedung terminal bandara yang dipenuhi asap dan debu. Potongan-potongan puing terlihat berserakan di lantai dengan beberapa kebakaran terlihat, termasuk di atap.
Kementerian Luar Negeri Kuwait tidak berkomentar tentang besarnya kerusakan yang ditimbulkan pada bandara. Mereka mengutuk apa yang disebutnya sebagai “serangan agresif” Iran dan menyalahkannya atas peningkatan eskalasi dan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Selain itu, kementerian itu juga memperingatkan bahwa Kuwait memiliki hak penuh dan inherennya untuk membalas.
IRGC menyatakan bahwa mereka melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, termasuk Markas Besar Armada Kelima AS, sebagai tanggapan atas serangan terhadap menara telekomunikasi mereka di Pulau Qeshm. Departemen Perang AS mengeklaim bahwa semua rudal Iran gagal mengenai sasarannya.
Eskalasi ini terjadi hampir 100 hari setelah konflik dimulai dan hampir dua bulan setelah AS dan Iran mencapai gencatan senjata yang rapuh setelah lebih dari sebulan permusuhan aktif. Teheran menghentikan negosiasi dengan Washington awal pekan ini terkait serangan Israel yang sedang berlangsung di Lebanon.
Iran juga membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur energi penting, setelah serangan AS-Israel pada bulan Februari, sementara Washington memulai blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan Iran.
Jika klaim tersebut terkonfirmasi, ini ibarat senjata makan tuan. Sejatinya, sistem pertahanan Patriot diaktifkan untuk mempertahankan pangkalan militer Amerika di negara Teluk tersebut dari serangan Teheran.
Baca Juga: IRGC: Serangan Balasn ke Kuwait dan Bahrain Harus Jadi Pelajaran bagi AS
Aksi saling serang Amerika dan Iran ini terjadi setelah militer Washington menyerang sebuah kapal tanker yang sedang menuju Pulau Kharg. Washington berdalih serangan diluncurkan karena kapal itu melanggar blokade sepihak yang diberlakukan terhadap pelabuhan Republik Islam Iran.
“Investigasi dan penelitian kami terhadap serangan terminal penumpang Kuwait menunjukkan bahwa Angkatan Udara IRGC tidak menembak sasaran ini, dan kehancuran terminal penumpang bandara Kuwait disebabkan oleh kesalahan pada sistem Patriot Amerika, yang mendarat di terminal ini setelah gagal mencegat rudal Iran,” kata IRGC pada hari Rabu, yang dilansir Russia Today, Kamis (4/6/2026).
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengatakan setidaknya satu orang tewas ketika sebuah rudal menghantam terminal bandara dan fasilitas vital lainnya, termasuk misi diplomatik. Beberapa orang juga terluka dalam serangan itu, imbuh kementerian itu tanpa menyebutkan jumlahnya.
Sebuah video yang diperoleh Russia Today menunjukkan dampak serangan tersebut. Video pendek itu menunjukkan bagian dalam gedung terminal bandara yang dipenuhi asap dan debu. Potongan-potongan puing terlihat berserakan di lantai dengan beberapa kebakaran terlihat, termasuk di atap.
Kementerian Luar Negeri Kuwait tidak berkomentar tentang besarnya kerusakan yang ditimbulkan pada bandara. Mereka mengutuk apa yang disebutnya sebagai “serangan agresif” Iran dan menyalahkannya atas peningkatan eskalasi dan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Selain itu, kementerian itu juga memperingatkan bahwa Kuwait memiliki hak penuh dan inherennya untuk membalas.
IRGC menyatakan bahwa mereka melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, termasuk Markas Besar Armada Kelima AS, sebagai tanggapan atas serangan terhadap menara telekomunikasi mereka di Pulau Qeshm. Departemen Perang AS mengeklaim bahwa semua rudal Iran gagal mengenai sasarannya.
Eskalasi ini terjadi hampir 100 hari setelah konflik dimulai dan hampir dua bulan setelah AS dan Iran mencapai gencatan senjata yang rapuh setelah lebih dari sebulan permusuhan aktif. Teheran menghentikan negosiasi dengan Washington awal pekan ini terkait serangan Israel yang sedang berlangsung di Lebanon.
Iran juga membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur energi penting, setelah serangan AS-Israel pada bulan Februari, sementara Washington memulai blokade Angkatan Laut terhadap pelabuhan Iran.
(mas)
Lihat Juga :