Blok Rusia Tekan Armenia: Pilih Tetap Jadi Sekutu atau Hengkang ke Uni Eropa!
Selasa, 02 Juni 2026 - 14:22 WIB
loading...
A
A
A
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa Belarusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Rusia telah memutuskan untuk menyiapkan laporan tentang penangguhan penerapan Perjanjian EAEU terhadap Armenia. Mereka berencana untuk mempresentasikan laporan tersebut pada Desember 2026.
Perdana Menteri (PM) Armenia Nikol Pashinyan telah menolak seruan agar segera mengadakan referendum tentang keluar Armenia dari EAEU untuk bergabung dengan UE.
Penolakan dari Pashinyan terjadi pada hari Senin ketika Presiden Rusia Vladimir Putin menelepon, yang dilaporkan media setempat, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Putin menegaskan bahwa keanggotaan UE dan EAEU sekaligus tidak mungkin bagi Armenia. Putin juga memberikan ancaman terselubung, memperingatkan Armenia agar tidak mengejar ambisi Baratnya, dan mencatat bahwa "skenario Ukraina" telah dimulai dengan aspirasi Kyiv untuk bergabung dengan Uni Eropa.
Dalam pidato video yang disiarkan di media sosial, Pashinyan menyatakan bahwa pemerintah di ibu kota Yerevan akan terus bekerja dalam kerangka EAEU hingga pilihan antara kedua blok tersebut "menjadi tak terhindarkan", dan mencatat bahwa referendum apa pun sebelum Armenia secara resmi mengajukan status kandidat Uni Eropa tetap murni teoretis.
"Mengadakan referendum untuk pilihan teoretis tentu saja tidak masuk akal dan tidak dapat dibenarkan," kata Pashinyan, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/6/2026), menggambarkan hubungan dengan Rusia berada dalam "fase transformasi".
Perdana Menteri (PM) Armenia Nikol Pashinyan telah menolak seruan agar segera mengadakan referendum tentang keluar Armenia dari EAEU untuk bergabung dengan UE.
Penolakan dari Pashinyan terjadi pada hari Senin ketika Presiden Rusia Vladimir Putin menelepon, yang dilaporkan media setempat, untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Putin menegaskan bahwa keanggotaan UE dan EAEU sekaligus tidak mungkin bagi Armenia. Putin juga memberikan ancaman terselubung, memperingatkan Armenia agar tidak mengejar ambisi Baratnya, dan mencatat bahwa "skenario Ukraina" telah dimulai dengan aspirasi Kyiv untuk bergabung dengan Uni Eropa.
Dalam pidato video yang disiarkan di media sosial, Pashinyan menyatakan bahwa pemerintah di ibu kota Yerevan akan terus bekerja dalam kerangka EAEU hingga pilihan antara kedua blok tersebut "menjadi tak terhindarkan", dan mencatat bahwa referendum apa pun sebelum Armenia secara resmi mengajukan status kandidat Uni Eropa tetap murni teoretis.
"Mengadakan referendum untuk pilihan teoretis tentu saja tidak masuk akal dan tidak dapat dibenarkan," kata Pashinyan, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/6/2026), menggambarkan hubungan dengan Rusia berada dalam "fase transformasi".
Lihat Juga :