Krisis Ekonomi China Dorong Media CCTV Masuk ke Bisnis E-commerce
Senin, 01 Juni 2026 - 15:50 WIB
loading...
A
A
A
Sektor digital China memang mencapai 54 triliun yuan pada 2023 atau sekitar 43 persen dari PDB nasional. Namun, pertumbuhannya disebut tidak merata dan semakin terkonsentrasi pada perusahaan besar yang didukung negara.
Livestream e-commerce diproyeksikan mencapai 8,18 triliun yuan pada 2026, tetapi keuntungan utamanya dinilai hanya dinikmati raksasa-raksasa negara.
Sementara itu, pelaku usaha kecil disebut semakin terdesak karena kalah dalam akses traffic, modal, dan kredibilitas.
Jathindra juga menyoroti meningkatnya penggunaan livestream berbasis kecerdasan buatan (AI) atau “digital human”, yang disebut telah digunakan lebih dari 1,14 juta perusahaan di China.
Menurutnya, kebijakan CCP telah menciptakan pasar yang semakin tidak seimbang.
Alih-alih mendorong persaingan sehat, pemerintah dinilai membiarkan institusi milik negara mendominasi ruang perdagangan digital. Selain CCTV, lembaga negara seperti Xinhua, China Post, dan China Railway juga disebut ikut masuk ke bisnis livestream.
Para warga China, menurutnya, mulai marah dan menuduh media negara “merebut makanan dari rakyat sendiri”.
Dengan lebih dari 70 juta pengikut, CCTV memiliki tingkat konversi penjualan jauh di atas pedagang kecil, yang kemudian memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penurunan konsumsi.
“Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah sosial,” ucap Jathindra.
Di sisi lain, kondisi fiskal China disebut semakin memburuk.
Utang pemerintah eksplisit disebut telah mencapai 40 triliun yuan, sementara utang tersembunyi diperkirakan sekitar 60 triliun yuan atau sekitar USD8,3 triliun.
Livestream e-commerce diproyeksikan mencapai 8,18 triliun yuan pada 2026, tetapi keuntungan utamanya dinilai hanya dinikmati raksasa-raksasa negara.
Sementara itu, pelaku usaha kecil disebut semakin terdesak karena kalah dalam akses traffic, modal, dan kredibilitas.
Jathindra juga menyoroti meningkatnya penggunaan livestream berbasis kecerdasan buatan (AI) atau “digital human”, yang disebut telah digunakan lebih dari 1,14 juta perusahaan di China.
Menurutnya, kebijakan CCP telah menciptakan pasar yang semakin tidak seimbang.
Kondisi Fiskal China
Alih-alih mendorong persaingan sehat, pemerintah dinilai membiarkan institusi milik negara mendominasi ruang perdagangan digital. Selain CCTV, lembaga negara seperti Xinhua, China Post, dan China Railway juga disebut ikut masuk ke bisnis livestream.
Para warga China, menurutnya, mulai marah dan menuduh media negara “merebut makanan dari rakyat sendiri”.
Dengan lebih dari 70 juta pengikut, CCTV memiliki tingkat konversi penjualan jauh di atas pedagang kecil, yang kemudian memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penurunan konsumsi.
“Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga masalah sosial,” ucap Jathindra.
Di sisi lain, kondisi fiskal China disebut semakin memburuk.
Utang pemerintah eksplisit disebut telah mencapai 40 triliun yuan, sementara utang tersembunyi diperkirakan sekitar 60 triliun yuan atau sekitar USD8,3 triliun.
Lihat Juga :