Netanyahu Ingin Perluas Kendali Wilayah Lebanon usai Israel Rebut Kastil Beaufort

Senin, 01 Juni 2026 - 11:16 WIB
loading...
Netanyahu Ingin Perluas...
PM Israel Benjamin Netanyahu instruksikan militer Zionis perluas kendali wilayah Lebanon setelah merebut kastil Beaufort. Foto/CNN
A A A
TEL AVIV - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bertekad untuk semakin memperdalam penetrasi ke Lebanon setelah militernya merebut kastil abad pertengahan Beaufort. Dia menyebutnya sebagai "pergeseran dramatis" dalam perang melawan Hizbullah.

Sementara itu, kelompok Hizbullah yang didukung Iran mengatakan pihaknya telah menargetkan pasukan Israel di dekat kastil serta posisi militer dan infrastruktur di Shlomi dan Nahariya di Israel utara, sementara sirene serangan udara meraung-raung di daerah Acre.

Baca Juga: Israel Rebut Kastil Beaufort, Mesir Minta Zionis Mundur dari Lebanon

Israel melanjutkan serangannya ke Lebanon, dengan delapan orang tewas dalam serangan di Deir Zahrani di Lebanon selatan pada hari Minggu, termasuk tiga wanita. Demikian data yang diumumkan Kementerian Kesehatan Lebanon.

Saat pertempuran meningkat di Lebanon, sumber diplomatik mengatakan kepada AFP bahwa Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan darurat pada hari Senin (1/6/2026) mengenai perluasan serangan Israel di negara tersebut.

Pertemuan tersebut diminta oleh Prancis, yang Presidennya; Emmanuel Macron, mengatakan: “Tidak ada yang membenarkan eskalasi besar yang sedang berlangsung di Lebanon selatan", menyerukan diakhirinya pertempuran untuk selamanya.

Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah pada 2 Maret ketika Hizbullah menembakkan roket ke arah Israel sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei oleh Amerika Serikat dan Israel.

Gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan Hizbullah dimulai pada 17 April, tetapi tidak pernah dipatuhi. Kedua pihak saling melanggar gencatan senjata satu sama lain setiap hari.

Delegasi militer dari Lebanon dan Israel telah mengadakan pembicaraan keamanan di Washington pada hari Jumat lalu, dengan lebih banyak negosiasi yang dimediasi AS direncanakan minggu depan.

Pasukan Israel menggunakan kastil Beaufort, juga dikenal sebagai Qalaat al-Chakif, sebagai pangkalan selama pendudukan mereka selama dua dekade sebelumnya di Lebanon selatan yang berakhir pada tahun 2000.

Dalam pernyataan video yang dirilis setelah militer merebut kastil Beaufort, Netanyahu mengatakan: “kami telah kembali bersatu, bertekad, dan lebih kuat dari sebelumnya”.

“Sekarang arahan saya adalah untuk memperdalam dan memperluas kendali kami di tempat-tempat yang berada di bawah kendali Hizbullah. Perebutan Beaufort adalah tahap dramatis dan perubahan dramatis dalam kebijakan yang kami pimpin," paparnya.

Suara tembakan artileri terdengar dan asap mengepul dari daerah sekitarnya saat bendera Israel terlihat di atas kastil.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pasukan telah merebut kastil bersejarah tersebut, yang memiliki pemandangan luas Lebanon selatan, saat mereka memperluas operasi darat mereka.

“Empat puluh empat tahun setelah Pertempuran Beaufort yang heroik, dan pada hari ini memperingati para prajurit yang gugur dalam Perang Lebanon Pertama (1982), pasukan kami telah kembali ke puncak Beaufort dan sekali lagi mengibarkan bendera Israel di sana,” kata Katz.

“Kami Akan Kembali”


Di sebuah tempat penampungan pengungsi di Sidon, kota terbesar di Lebanon selatan, Zeinab Fakih, dari Nabatieh, mengatakan kepada AFP, “kami takut”.

“Tidak mungkin bagi kami untuk kembali ke rumah kami, karena kota ini hancur total,” kata warga Lebanon tersebut, menambahkan bahwa kedatangan pasukan Israel di kastil itu merupakan momen “tragis”.

Issa Tfaily, juga pengungsi dari Nabatieh, mengatakan: “Kami akan kembali...jika tidak hari ini, maka besok, selama masih ada perlawanan.”

Dorongan ke Beaufort terjadi ketika militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran ke daerah-daerah di selatan Sungai Zahrani, utara Litani dan sekitar 40 kilometer (25 mil) dari perbatasan.

Kemudian mereka mengatakan telah menargetkan “puluhan situs infrastruktur Hizbullah sejak pagi ini” di daerah Tyre dan bagian lain Lebanon selatan, sementara National News Agency (NNA) Lebanon melaporkan serangkaian serangan di daerah tersebut.

Serangan Israel di dekat sebuah rumah sakit di Tyre melukai 13 staf, kata Kementerian Kesehatan Lebanon.

Seorang koresponden AFP di kota itu melihat bangunan-bangunan yang rata dengan tanah dan tim penyelamat beroperasi di lokasi kejadian.

Koresponden lain mengatakan serangan itu adalah yang terkuat di kota itu sejak perang dimulai.

Beberapa ribu orang masih berada di kota tua kecil Tyre, terhindar dari peringatan evakuasi Israel, beberapa di antaranya tidur di dalam mobil mereka.

Di Sidon, seorang fotografer AFP melihat tim pertahanan sipil dari wilayah Tyre mencapai kota itu setelah militer Israel meminta mereka untuk evakuasi.

Ali Safieddine, kepala pertahanan sipil di kota Tyre, mengatakan pihaknya untuk sementara pindah ke Sidon.

Militer Israel mengakui bahwa sebuah drone peledak milik Hizbullah menewaskan salah satu tentaranya pada hari Sabtu, sehingga jumlah korban tewas militer Israel di Lebanon sejak awal Maret menjadi 25 orang.

"Sejak dimulainya gencatan senjata, 900 teroris Hizbullah telah dilenyapkan," kata militer Israel, menggunakan istilah "teroris" untuk Hizbullah Lebanon.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan Israel telah menewaskan lebih dari 3.412 orang sejak awal Maret.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
Hadiri LCAW 2026, Menteri...
Hadiri LCAW 2026, Menteri Jumhur Sampaikan Salam Presiden Prabowo kepada Raja Charles di London
Pakistan: Ada Pihak...
Pakistan: Ada Pihak yang Ingin Gagalkan Perdamaian AS-Iran
Rekomendasi
Bareskrim Didesak Pulihkan...
Bareskrim Didesak Pulihkan Hak Korban Penipuan dan Penggelapan Dana Syariah Indonesia
Jokowi Minta Kader PSI...
Jokowi Minta Kader PSI Hidupkan Mesin Partai sampai Tingkat Desa
Jangan Lewatkan! Spesial...
Jangan Lewatkan! Spesial Akhir Pekan di Alfamidi, Banyak Bonus Menanti
Berita Terkini
Rudal Ukraina Hancurkan...
Rudal Ukraina Hancurkan Pabrik Senjata Rusia
UEA Keluarkan Alarm...
UEA Keluarkan Alarm Rudal Iran, Beberapa Detik Kemudian Dicabut, Pemerintah Minta Maaf
Pesawat Tabrak Gedung...
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di China, 1 Jam Setelahnya Tampak Normal
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Infografis
Mantan Panglima Militer...
Mantan Panglima Militer Israel Sebut Netanyahu Musuh Zionis
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved