Komandan Top AS Klaim Semua Tujuan Perang di Iran Tercapai Berkat Bantuan Ukraina
Jum'at, 15 Mei 2026 - 16:04 WIB
loading...
Komandan CENTCOM AS Laksamana Brad Cooper klaim semua tujuan perang di Iran telah tercapai dalam waktu kurang dari 40 hari berkat bantuan Ukraina. Foto/Eric Kayne/Stars and Stripes
A
A
A
WASHINGTON - Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengeklaim militer Amerika telah mencapai semua tujuan perang melawan Iran dalam waktu kurang dari 40 hari. Dia mengakui Amerika mengandalkan bantuan Ukraina dalam misi tersebut.
Cooper tidak merinci apa sebenarnya tujuan perang gabungan AS dan Israel terhadap Iran, yang dimulai 28 Februari. Presiden Donald Trump juga kerap berubah-ubah dalam menyampaikan tujuan perang tersebut.
Baca Juga: Arab Saudi Usul Pakta Non-Agresi Iran dan Negara-negara Teluk seperti Perjanjian Perang Dingin
“Saat ini, Iran tidak lagi dapat menyerang dengan kekuatan dan skala [seperti sebelumnya],” kata Cooper.
“Lebih lanjut, dengan 90 persen basis industri pertahanannya hancur, Iran tidak akan mampu membangun kembali kekuatan militernya selama bertahun-tahun,” paparnya.
Selain sangat melemahkan kekuatan dan kemampuan militer Iran, Cooper mengatakan proksi regional utama Iran—Hamas, Hizbullah, dan Houthi—telah terputus dari pasokan dan dukungan senjata Teheran.
Berbicara kepada para anggota parlemen selama sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat (SASC), Cooper memuji dukungan dari 1ekutu-sekutu AS Arab dan Timur Tengah Washington.
Dia menyoroti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Israel atas bantuan dan kemampuan mereka untuk membela negara mereka sendiri.
“Namun ada beberapa negara di kawasan itu yang kinerjanya kurang baik,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut, seperti dikutip Al Arabiya English, Jumat (15/5/2026).
Seiring berjalannya perang dan Iran mengerahkan sejumlah besar drone murah namun efektif, Washington meminta bantuan Ukraina. "Militer AS mengadopsi sejumlah besar taktik, teknik, dan prosedur yang digunakan Ukraina untuk membantu pertahanan terhadap serangan Iran tersebut," papar komandan CENTCOM tersebut.
Ketika ditanya tentang perang itu sendiri dan ancaman yang berasal dari Iran, Cooper mengatakan AS mulai melihat peningkatan kemampuan dan niat Iran untuk memproduksi lebih banyak rudal balistik pada November dan Desember lalu. "Hal ini menimbulkan risiko yang sangat signifikan baik bagi mitra maupun kami sendiri,” katanya.
Cooper juga mengambil kesempatan untuk mengingatkan para anggota parlemen dan publik tentang rekam jejak Iran melawan AS. “Rekam jejak Iran yang bermusuhan dan mematikan terhadap AS telah terdokumentasi dengan baik. Tetapi saya tidak yakin hal itu dipahami dengan baik. Dalam 30 bulan sebelum [Operasi] Epic Fury, kelompok teror yang didukung Iran menyerang pasukan dan diplomat AS lebih dari 350 kali,” katanya.
Dia ditanya tentang laporan terbaru yang menyebutkan bahwa Iran saat ini memiliki antara 70 dan 75 persen rudal dan peluncurnya yang siap digunakan. Tanpa membahas detail spesifik, Cooper mengatakan bahwa angka-angka tersebut tidak akurat.
Cooper tidak merinci apa sebenarnya tujuan perang gabungan AS dan Israel terhadap Iran, yang dimulai 28 Februari. Presiden Donald Trump juga kerap berubah-ubah dalam menyampaikan tujuan perang tersebut.
Baca Juga: Arab Saudi Usul Pakta Non-Agresi Iran dan Negara-negara Teluk seperti Perjanjian Perang Dingin
“Saat ini, Iran tidak lagi dapat menyerang dengan kekuatan dan skala [seperti sebelumnya],” kata Cooper.
“Lebih lanjut, dengan 90 persen basis industri pertahanannya hancur, Iran tidak akan mampu membangun kembali kekuatan militernya selama bertahun-tahun,” paparnya.
Selain sangat melemahkan kekuatan dan kemampuan militer Iran, Cooper mengatakan proksi regional utama Iran—Hamas, Hizbullah, dan Houthi—telah terputus dari pasokan dan dukungan senjata Teheran.
Berbicara kepada para anggota parlemen selama sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat (SASC), Cooper memuji dukungan dari 1ekutu-sekutu AS Arab dan Timur Tengah Washington.
Dia menyoroti Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Israel atas bantuan dan kemampuan mereka untuk membela negara mereka sendiri.
“Namun ada beberapa negara di kawasan itu yang kinerjanya kurang baik,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut, seperti dikutip Al Arabiya English, Jumat (15/5/2026).
Seiring berjalannya perang dan Iran mengerahkan sejumlah besar drone murah namun efektif, Washington meminta bantuan Ukraina. "Militer AS mengadopsi sejumlah besar taktik, teknik, dan prosedur yang digunakan Ukraina untuk membantu pertahanan terhadap serangan Iran tersebut," papar komandan CENTCOM tersebut.
Ketika ditanya tentang perang itu sendiri dan ancaman yang berasal dari Iran, Cooper mengatakan AS mulai melihat peningkatan kemampuan dan niat Iran untuk memproduksi lebih banyak rudal balistik pada November dan Desember lalu. "Hal ini menimbulkan risiko yang sangat signifikan baik bagi mitra maupun kami sendiri,” katanya.
Cooper juga mengambil kesempatan untuk mengingatkan para anggota parlemen dan publik tentang rekam jejak Iran melawan AS. “Rekam jejak Iran yang bermusuhan dan mematikan terhadap AS telah terdokumentasi dengan baik. Tetapi saya tidak yakin hal itu dipahami dengan baik. Dalam 30 bulan sebelum [Operasi] Epic Fury, kelompok teror yang didukung Iran menyerang pasukan dan diplomat AS lebih dari 350 kali,” katanya.
Dia ditanya tentang laporan terbaru yang menyebutkan bahwa Iran saat ini memiliki antara 70 dan 75 persen rudal dan peluncurnya yang siap digunakan. Tanpa membahas detail spesifik, Cooper mengatakan bahwa angka-angka tersebut tidak akurat.
(mas)
Lihat Juga :