Cerita di Balik Menlu AS Marco Rubio Pakai Nama China untuk Masuk Beijing karena Dikenai Sanksi

Kamis, 14 Mei 2026 - 06:18 WIB
loading...
Cerita di Balik Menlu...
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menjadi bagian dari rombongan Presiden Donald Trump yang mengunjungi China meski dia dikenai sanksi oleh Beijing. Foto/via tyla.com
A A A
BEIJING - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Marco Rubio dilaporkan menjadi bagian dari rombongan Presiden Donald Trump yang tiba di Beijing pada Rabu dalam kunjungan bersejarah ke China. Rubio, yang dijatuhi sanksi oleh China, tetap bisa masuk ke negara itu setelah Beijing mengubah transliterasi namanya.

China menjatuhkan sanksi kepada Rubio ketika dia menjadi senator AS. Sanksi dijatuhkan dua kali setelah Rubio mengusik maslah hak asasi manusia (HAM) di China. Tindakan Beijing ini mengadopsi taktik yang lebih sering digunakan Amerika terhadap musuh-musuhnya.

Baca Juga: Iran Berharap China Jadi Jaminan untuk Kesepakatan Damai dengan AS

Namun, China tampaknya telah menemukan cara licik diplomatik setelah Trump menunjuk Rubio sebagai menteri luar negerinya.

Tak lama sebelum Rubio menjabat sebagai Menlu AS pada Januari 2025, pemerintah dan media pemerintah China mulai menggunakan karakter China yang berbeda untuk "lu"—nama yang mewakili suku kata pertama dalam nama keluarga Rubio.

Dua diplomat mengatakan kepada kantor berita AFP, Kamis (14/5/2026), bahwa mereka percaya China melakukan perubahan nama tersebut karena Rubio dikenai sanksi, yang termasuk larangan masuk, dengan ejaan lama namanya.

Pemerintah China sebelumnya mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka tidak akan memblokir Rubio atas tindakan masa lalunya.

“Sanksi tersebut menargetkan kata-kata dan perbuatan Rubio ketika dia menjabat sebagai senator AS terkait China,” kata juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Pengyu.

Ditanya tentang perubahan linguistik dari nama Rubio oleh China sejak tahun lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan bahwa dia belum menyadarinya, tetapi akan menyelidikinya. Mao mengatakan bahwa nama Inggris Rubio lebih penting.

Bukan hal yang aneh bagi tokoh publik Barat untuk memiliki lebih dari satu transliterasi nama mereka dalam bahasa Mandarin. Proses penerjemahan nama-nama Barat ke dalam aksara Mandarin tidak selalu terstandarisasi.

Trump juga memiliki dua nama Mandarin. Pemerintah dan media pemerintah China menyebut Trump dengan "telangpu", tetapi dia juga sering disebut sebagai "chuanpu"—transliterasi yang sedikit berbeda.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada hari Rabu untuk kunjungan kenegaraan, di mana dia akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Topik diskusi dalam pertemuan kedua pemimpin itu dilaporkan mencakup masalah perdagangan, Taiwan, hingga AI.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri Amerika hanya mengonfirmasi bahwa Rubio bepergian bersama Trump. Rubio terlihat menaiki Air Force One di Pangkalan Angkatan Udara Andrews.

Rubio, seorang Kuba-Amerika yang dengan lantang menentang komunisme, adalah penulis utama undang-undang Kongres AS yang memberlakukan sanksi luas terhadap China atas dugaan penggunaan kerja paksa oleh minoritas Uyghur yang mayoritas Muslim, dan dia telah berbicara menentang tindakan keras Beijing di Hong Kong.

Pada sidang konfirmasi pencalonannya sebagai Menlu AS, Rubio sangat fokus pada China, yang dia gambarkan sebagai musuh yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun sejak menjabat, Rubio mendukung Trump yang menggambarkan Xi Jinping sebagai teman dan berfokus pada pembangunan hubungan perdagangan sambil mengurangi penekanan pada hak asasi manusia.

Namun, tahun lalu, Rubio memberikan kelegaan bagi Taiwan ketika dia mengatakan bahwa pemerintahan Trump tidak akan bernegosiasi mengenai masa depan demokrasi pulau yang memerintah sendiri itu untuk mengamankan kesepakatan perdagangan dengan China.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
CIA akan Rilis Berkas...
CIA akan Rilis Berkas Baru Program Pengendalian Pikiran Terkait Nazi
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Israel Ancam Serang...
Israel Ancam Serang Iran Ketiga Kalinya Meski Sedang Negosiasi dengan AS
Pasokan Minyak Iran...
Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
Presiden Serbia Aleksandar...
Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
Trump Tuduh China Ingin...
Trump Tuduh China Ingin Kuasai Terusan Panama: Tak Akan Terjadi!
Rekomendasi
Jelajahi Dataran Tinggi...
Jelajahi Dataran Tinggi dan Perkotaan, BYD M6 DM Media Challenge Buktikan Efisiensi Teknologi Dual Mode
Menhut Raja Juli Bakal...
Menhut Raja Juli Bakal Kooperatif soal Pengusutan Kasus Bupati Kuansing
Aldi Taher Semprot Baskara...
Aldi Taher Semprot Baskara Putra usai Sebut Kameramen 'Tolol', Tantang Debat Terbuka
Berita Terkini
PBB Perkirakan Pembersihan...
PBB Perkirakan Pembersihan Puing-puing Gaza Perlu Waktu Lebih dari 140 Tahun
Iran Tegaskan Inspektur...
Iran Tegaskan Inspektur IAEA Tak akan Diberi Akses Apa pun ke Lokasi Nuklir yang Dibom
Pemerintah Suriah Terbuka...
Pemerintah Suriah Terbuka untuk Bertemu Hizbullah
PM Pakistan Sharif akan...
PM Pakistan Sharif akan Hadiri Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei
CIA akan Rilis Berkas...
CIA akan Rilis Berkas Baru Program Pengendalian Pikiran Terkait Nazi
Israel Ngotot Tempatkan...
Israel Ngotot Tempatkan Pasukannya di Lebanon, Suriah, dan Gaza Tanpa Batas Waktu
Infografis
Perbandingan Pangkalan...
Perbandingan Pangkalan Militer AS vs China di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved