AS Sebut Sekutu NATO yang Kaya Justru Jadi Inkubator Teror

Kamis, 07 Mei 2026 - 11:56 WIB
loading...
AS Sebut Sekutu NATO...
Dokumen strategi kontra-terorisme nasional AS kecam sekutu-sekutu NATO yang kaya karena menjadi inkubator ancaman teror. Foto/White House
A A A
WASHINGTON - Presiden Donald Trump telah menandatangani strategi kontra-terorisme nasional Amerika Serikat (AS) yang baru. Dokumen itu menggambarkan sekutu-sekutu NATO yang kaya di Eropa Barat sebagai "target sekaligus inkubator ancaman teror".

Selain itu, dokumen tersebut menyoroti kartel narkoba dan ekstremis sayap kiri yang kejam sebagai bahaya besar bagi Amerika.

Baca Juga: Terungkap, Trump Tiba-tiba Hentikan Project Freedom karena Arab Saudi Marah

Dokumen setebal 16 halaman, yang dirilis oleh Gedung Putih pada hari Rabu waktu Washington, menyatakan kebijakan kontra-terorisme Washington akan dipandu oleh prinsip-prinsip "America First", "akal sehat", dan "Perdamaian melalui Kekuatan".

Strategi tersebut mencantumkan tiga kategori utama ancaman terorisme yang dihadapi AS: “narkoterorisme dan geng transnasional", “teroris Islamis lama", dan “ekstremis sayap kiri yang melakukan kekerasan, termasuk anarkis dan antifasis".

Bagian terpisah dikhususkan untuk sekutu-sekutu NATO yang kaya, yang diduga telah mengubah Eropa menjadi lingkungan yang permisif bagi “budaya asing” yang merencanakan serangan terhadap warga Eropa dan Amerika.

“Dunia lebih aman ketika Eropa kuat, tetapi Eropa sangat terancam dan merupakan target teror sekaligus inkubator ancaman teror,” bunyi dokumen tersebut, yang dikutip Russia Today, Kamis (7/5/2026).

“Tidak dapat diterima bahwa sekutu NATO yang kaya dapat berfungsi sebagai pusat keuangan, logistik, dan perekrutan bagi teroris," lanjut dokumen strategi kontra-terorisme nasional AS.

“Migrasi massal yang tak terkendali telah menjadi jalur penularan bagi teroris,” imbuh dokumen itu, mendesak pemerintah Eropa untuk “menemukan kembali” kebebasan berbicara, mengadakan percakapan jujur tentang Islamisme, mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk kontra-terorisme, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas keamanan mereka sendiri.

“Sebagai tempat kelahiran budaya dan nilai-nilai Barat, Eropa harus bertindak sekarang dan menghentikan kemundurannya yang disengaja. Jelas bagi semua orang bahwa kelompok-kelompok musuh yang terorganisir dengan baik mengeksploitasi perbatasan terbuka dan cita-cita globalis terkait,” imbuh dokumen tersebut.

Selain itu, dokumen strategi ini memperingatkan bahwa semakin banyak budaya asing ini tumbuh, dan semakin lama kebijakan Eropa saat ini bertahan, semakin terjamin terorismenya.

Bahasa keras tersebut menggemakan kritik serupa dalam Strategi Keamanan Nasional Trump, yang dirilis pada bulan Desember, yang mengkritik arah politik dan budaya Uni Eropa, dan memperingatkan tentang “penghapusan peradaban". Pada saat itu, Trump berpendapat bahwa Eropa “menghancurkan dirinya sendiri” dengan kebijakan imigrasi yang menjadi “bencana”.

Di luar Eropa, strategi kontra-terorisme nasional Amerika menyatakan bahwa AS akan melanjutkan kampanye militer dan penegakan hukum terhadap kartel dan geng transnasional yang ditetapkan sebagai organisasi teroris asing.

Dokumen tersebut turut mengidentifikasi Iran sebagai ancaman terbesar Timur Tengah bagi AS, menyatakan bahwa operasi seperti Midnight Hammer dan Epic Fury akan berlanjut hingga Teheran “tidak lagi menjadi ancaman” bagi Washington.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
Janggal, Jubir Angkatan...
Janggal, Jubir Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Tewas akibat Kecelakaan
Rekomendasi
MNC Sekuritas Bekali...
MNC Sekuritas Bekali Mahasiswa FEB UNIS Tangerang dengan Edukasi Investasi Syariah dan Pelindungan Konsumen
Guru Bisa Dapat Bantuan...
Guru Bisa Dapat Bantuan Pendidikan S1/D4, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Tren Komentar Spam Judi...
Tren Komentar Spam Judi Online Naik 128 Persen, Kini Pakai Sistem Bot Otomatis
Berita Terkini
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Media Asing Soroti Nasib...
Media Asing Soroti Nasib Nadiem Divonis 10 Tahun Penjara: Eks Bos Gojek yang Dinyatakan Korupsi
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved