Gelombang PHK di Tengah Krisis Energi Ungkap Rapuhnya Fondasi Ekonomi China

Senin, 04 Mei 2026 - 10:02 WIB
loading...
A A A
Jathindra menilai pernyataan resmi PKC semakin jauh dari realitas lapangan. Saat ratusan pabrik tutup pada Maret 2026, pejabat tinggi China di Forum Boao justru masih memuji stabilitas ekonomi nasional.

Dia menyoroti kegagalan lama pemerintah dalam memperbaiki ketimpangan fundamental, yakni dominasi investasi dan ekspor, sementara konsumsi domestik tetap ditekan.

“PKC telah mengetahui ketidakseimbangan ini selama lebih dari satu dekade, tetapi terus memilih jalur aman secara politik,” ujarnya.

Kegagalan Sistem Perlindungan Pekerja


Data China Labor Bulletin menunjukkan bahwa sejak 2023 telah terjadi lonjakan sepuluh kali lipat aksi mogok dan protes pekerja manufaktur, dengan 438 insiden tercatat. Mayoritas berkaitan dengan tunggakan gaji dan penutupan pabrik.

Bagi Jathindra, angka-angka tersebut menunjukkan keretakan kontrak sosial antara negara dan masyarakat yang telah berlangsung lama.

“Janji implisit PKC—pertumbuhan ekonomi sebagai imbalan atas kepatuhan politik—mulai kehilangan daya ikatnya,” tulisnya.

Dia menambahkan legitimasi rezim otoriter pada akhirnya bergantung pada kemampuannya memberikan kemakmuran dan keamanan.

“Era ketika PKC dapat menutupi kekurangan politiknya melalui performa ekonomi kini telah berakhir,” katanya.

Menurut Jathindra, para pekerja yang kini memadati gerbang pabrik bukanlah pembangkang, melainkan warga yang telah mengikuti aturan dan berkontribusi pada kebangkitan ekonomi China, namun kini mendapati sistem gagal melindungi mereka.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah retakan itu semakin melebar, tetapi seberapa besar tekanan yang dapat ditahan sistem sebelum sesuatu yang mendasar runtuh,” pungkasnya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kelompok Garis Keras...
Kelompok Garis Keras Iran Klaim Akan Ada Kudeta, Akankah Mojtaba Tumbang?
Setelah 4 Bulan Tenang...
Setelah 4 Bulan Tenang dan Nyaman, Arab Saudi Kembali Dibombardir Iran
Iran Peringatkan Negara-negara...
Iran Peringatkan Negara-negara Penampung Pasukan AS Bersiap Hadapi Respons Setara
Tentara AS Terluka dalam...
Tentara AS Terluka dalam Serangan Iran di Yordania, Pentagon Belum Mengakui
Memanas, Iran Ancam...
Memanas, Iran Ancam Minta Houthi Blokir Selat Bab al-Mandeb, Perdagangan Global Kian Tercekik
Drone Israel Serang...
Drone Israel Serang Acara Pemakaman di Gaza Tengah, 8 Orang Tewas, 20 Warga Terluka
Iran Beri Ancaman Ekstrem...
Iran Beri Ancaman Ekstrem Soal Energi Global: Minyak untuk Semua atau Tidak Sama Sekali
30 Warga Sipil dan 7...
30 Warga Sipil dan 7 Tentara Iran Tewas dalam Serangan AS
Kebakaran Hutan Kanada,...
Kebakaran Hutan Kanada, Laga Final Piala Dunia Spanyol Vs Argentina Ditunda?
Rekomendasi
Asrul Azis Taba Tersangka...
Asrul Azis Taba Tersangka Kasus Kuota Haji Kembali Ajukan Praperadilan
Asabri Dorong Transformasi...
Asabri Dorong Transformasi Layanan Berbasis ESG, Kepuasan Peserta Capai 96,03%
Peserta Penmaba Jalur...
Peserta Penmaba Jalur Disabilitas UNJ 2026 Meningkat, Ini Jurusan Favoritnya
Berita Terkini
Ingin Terus Mencengkeram...
Ingin Terus Mencengkeram Kekuasaan, Presiden Ukraina Pecat Menhan
Satria Kumbara, Eks...
Satria Kumbara, Eks Marinir TNI AL yang Jadi Tentara Bayaran Rusia, Dikabarkan Tewas
Teror Drone Ukraina...
Teror Drone Ukraina Kian Efektif, 8 Warga Rusia Tewas
Kelompok Garis Keras...
Kelompok Garis Keras Iran Klaim Akan Ada Kudeta, Akankah Mojtaba Tumbang?
Houthi Ancam Serang...
Houthi Ancam Serang Infrastruktur Minyak Saudi jika Perang Terus Berlanjut
PM Irak Pernah Ditawari...
PM Irak Pernah Ditawari Suap Rp3,5 Triliun, tapi Justru Bentuk Badan Pemberantasan Korupsi
Infografis
Kaleidoskop 2025: 7...
Kaleidoskop 2025: 7 Peristiwa Ekonomi Paling Heboh di Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved