Laporan Tahunan AS Ungkap Ketatnya Kontrol China atas Tibet
Rabu, 29 April 2026 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Laporan itu menyebut tekanan tersebut telah memicu sensor diri di kalangan diaspora Tibet di Amerika Serikat karena kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga mereka di Tibet.
Jurnalis asing juga tetap menjadi kelompok yang paling sering mengalami penolakan akses. Menurut laporan yang mengutip Foreign Correspondents’ Club of China (FCCC), pemerintah China menolak hampir seluruh permintaan jurnalis AS untuk meliput langsung dari TAR.
Setidaknya lima permintaan wartawan asing untuk memasuki Tibet ditolak sepanjang periode laporan, sementara 93 persen koresponden yang mencoba meliput Tibet dan wilayah Tibet lainnya di China mengalami hambatan serius.
Meski pemerintah China sesekali mengadakan tur media resmi ke Tibet, perjalanan tersebut dinilai sangat dikontrol dan tidak memungkinkan pelaporan independen.
“Tur yang diatur pemerintah tidak memberikan kesempatan bagi jurnalis untuk melaporkan secara bebas,” menurut laporan tersebut.
Pengawasan ketat juga terjadi di wilayah Tibet di luar TAR, di mana diplomat dan jurnalis tidak memerlukan izin formal tetapi tetap menghadapi intimidasi, pengawasan mencolok, dan pembatasan pergerakan oleh aparat keamanan.
Pada 2025, pejabat konsuler AS di Beijing akhirnya diizinkan melakukan kunjungan resmi pertama ke TAR sejak 2019. Namun kunjungan lima hari itu dianggap belum cukup untuk memulihkan akses konsuler normal.
Departemen Luar Negeri AS menekankan bahwa satu kunjungan resmi tidak dapat dianggap sebagai pemulihan penuh akses diplomatik dan menyebut Washington telah mengajukan permintaan tambahan untuk kunjungan lebih lanjut pada 2026.
Jurnalis asing juga tetap menjadi kelompok yang paling sering mengalami penolakan akses. Menurut laporan yang mengutip Foreign Correspondents’ Club of China (FCCC), pemerintah China menolak hampir seluruh permintaan jurnalis AS untuk meliput langsung dari TAR.
Setidaknya lima permintaan wartawan asing untuk memasuki Tibet ditolak sepanjang periode laporan, sementara 93 persen koresponden yang mencoba meliput Tibet dan wilayah Tibet lainnya di China mengalami hambatan serius.
Meski pemerintah China sesekali mengadakan tur media resmi ke Tibet, perjalanan tersebut dinilai sangat dikontrol dan tidak memungkinkan pelaporan independen.
“Tur yang diatur pemerintah tidak memberikan kesempatan bagi jurnalis untuk melaporkan secara bebas,” menurut laporan tersebut.
Pengawasan ketat juga terjadi di wilayah Tibet di luar TAR, di mana diplomat dan jurnalis tidak memerlukan izin formal tetapi tetap menghadapi intimidasi, pengawasan mencolok, dan pembatasan pergerakan oleh aparat keamanan.
Rentetan Izin
Pada 2025, pejabat konsuler AS di Beijing akhirnya diizinkan melakukan kunjungan resmi pertama ke TAR sejak 2019. Namun kunjungan lima hari itu dianggap belum cukup untuk memulihkan akses konsuler normal.
Departemen Luar Negeri AS menekankan bahwa satu kunjungan resmi tidak dapat dianggap sebagai pemulihan penuh akses diplomatik dan menyebut Washington telah mengajukan permintaan tambahan untuk kunjungan lebih lanjut pada 2026.
Lihat Juga :