IDF Panik, Drone Hizbullah Tewaskan 1 Tentara Israel dan Serang Helikopter Zionis
Senin, 27 April 2026 - 14:15 WIB
loading...
Pasukan IDF panik ketika drone Hizbullah tewaskan 1 tentara Israel dan drone lainnya juga menyerang helikopter Israel. Foto/Screenshot video Ynet
A
A
A
BEIRUT - Militer Zionis Israel atau IDF panik ketika satu tentara mereka tewas akibat serangan drone Hizbullah di di Taybeh, kota Lebanon yang diduduki militer Zionis, pada hari Minggu.
Kepanikan semakin bertambah ketika drone lain dari kelompok pro-Iran itu menyerang helikopter IDF yang dikirim untuk mengangkut pasukan Zionis yang terluka.
Baca Juga: Terungkap! Uni Emirat Arab Minta Bantuan Israel Tangkis Rudal Iran dengan Iron Dome
Awlanya, sebuah unit IDF yang beroperasi di Taybeh diserang drone Hizbullah, menewaskan seorang tentara berusia 19 tahun, yang diidentifikasi sebagai Sersan Idan Fooks, dan melukai enam lainnya, termasuk empat luka serius.
Ketika sebuah helikopter dikirim untuk mengangkut pasukan IDF yang terluka, dua drone tambahan diluncurkan ke arah helikopter tersebut, menurut rekaman video yang beredar online.
IDF, seperti dikutip dari Russia Today, Senin (27/4/2026), mengatakan salah satu drone berhasil dicegat, sementara yang lain meledak di dekat pasukan dan korban lebih lanjut.
Meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) dimulai pada 16 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, pasukan IDF terus melakukan operasi militer di utara Sungai Litani, memperluas "zona penyangga" yang membentang sekitar 10 km ke Lebanon.
Pada hari Minggu, Israel mengatakan telah melancarkan serangan artileri dan udara yang menargetkan anggota Hizbullah dan lokasi yang diklaim digunakan untuk memajukan serangan terhadap tentara IDF.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan itu menewaskan 14 orang, termasuk dua wanita dan dua anak, dan melukai 37 orang lainnya, menandai hari paling mematikan sejak gencatan senjata dimulai.
Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mengeklaim militer bertindak dengan kekuatan berdasarkan aturan yang disepakati dengan AS dan Lebanon, termasuk "kebebasan bertindak" untuk menanggapi serangan dan menetralisir ancaman yang muncul.
Hizbullah menolak tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa operasinya merupakan "tanggapan yang sah" terhadap invasi Israel ke Lebanon.
Setidaknya 2.294 orang tewas dan 7.544 luka-luka, termasuk 100 petugas medis dan pekerja kesehatan, sejak pertempuran dimulai pada 2 Maret, menurut jumlah korban kumulatif yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon.
Kepanikan semakin bertambah ketika drone lain dari kelompok pro-Iran itu menyerang helikopter IDF yang dikirim untuk mengangkut pasukan Zionis yang terluka.
Baca Juga: Terungkap! Uni Emirat Arab Minta Bantuan Israel Tangkis Rudal Iran dengan Iron Dome
Awlanya, sebuah unit IDF yang beroperasi di Taybeh diserang drone Hizbullah, menewaskan seorang tentara berusia 19 tahun, yang diidentifikasi sebagai Sersan Idan Fooks, dan melukai enam lainnya, termasuk empat luka serius.
Ketika sebuah helikopter dikirim untuk mengangkut pasukan IDF yang terluka, dua drone tambahan diluncurkan ke arah helikopter tersebut, menurut rekaman video yang beredar online.
IDF, seperti dikutip dari Russia Today, Senin (27/4/2026), mengatakan salah satu drone berhasil dicegat, sementara yang lain meledak di dekat pasukan dan korban lebih lanjut.
Meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) dimulai pada 16 April dan diperpanjang hingga pertengahan Mei, pasukan IDF terus melakukan operasi militer di utara Sungai Litani, memperluas "zona penyangga" yang membentang sekitar 10 km ke Lebanon.
Pada hari Minggu, Israel mengatakan telah melancarkan serangan artileri dan udara yang menargetkan anggota Hizbullah dan lokasi yang diklaim digunakan untuk memajukan serangan terhadap tentara IDF.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan itu menewaskan 14 orang, termasuk dua wanita dan dua anak, dan melukai 37 orang lainnya, menandai hari paling mematikan sejak gencatan senjata dimulai.
Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mengeklaim militer bertindak dengan kekuatan berdasarkan aturan yang disepakati dengan AS dan Lebanon, termasuk "kebebasan bertindak" untuk menanggapi serangan dan menetralisir ancaman yang muncul.
Hizbullah menolak tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa operasinya merupakan "tanggapan yang sah" terhadap invasi Israel ke Lebanon.
Setidaknya 2.294 orang tewas dan 7.544 luka-luka, termasuk 100 petugas medis dan pekerja kesehatan, sejak pertempuran dimulai pada 2 Maret, menurut jumlah korban kumulatif yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon.
(mas)
Lihat Juga :