Iran Isi Ulang Peluncur Rudal Lebih Cepat, Siaga Perang Lagi Melawan AS-Israel
Senin, 20 April 2026 - 11:55 WIB
loading...
A
A
A
Komentar komandan IRGC ini muncul ketika Iran siaga untuk berperang lagi melawan AS dan Israel. Perang berpotensi pecah lagi jika gencatan senjata yang akan berakhir Rabu nanti tidak diperpanjang.
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran agar menerima kesepakatan dalam perundingan yang akan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Menurutnya, republik Islam itu akan dihancurkan jika tidak menerima kesepakatan.
Trump mengatakan tidak akan ada lagi "tuan baik hati" jika Iran menolak kesepakatan, yang menurutnya, sangat adil dan masuk akal.
Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu lagi di Pakistan, Senin (20/4/2026). Namun, Teheran sebelumnya menyatakan tidak akan terlibat perundingan tersebut.
"Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin di Selat Hormuz—Pelanggaran Total terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kita! Banyak di antaranya ditujukan ke kapal Prancis, dan kapal kargo dari Inggris. Itu tidak baik, bukan? Perwakilan saya akan pergi ke Islamabad, Pakistan—Mereka akan berada di sana besok malam, untuk Negosiasi," tulis Trump di Truth Social pada hari Minggu.
"Iran baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menutup Selat, yang aneh, karena BLOKADE kita telah menutupnya. Mereka membantu kita tanpa menyadarinya, dan merekalah yang dirugikan dengan penutupan jalur tersebut, 500 Juta Dolar per hari! Amerika Serikat tidak kehilangan apa pun. Bahkan, banyak kapal sedang menuju ke AS, Texas, Louisiana, dan Alaska, untuk memuat barang, atas bantuan IRGC, yang selalu ingin menjadi 'si jagoan!'" lanjut Trump.
"Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap Pembangkit Listrik, dan setiap Jembatan, di Iran. TIDAK ADA LAGI TUAN BAIK HATI! Mereka akan bertindak cepat, mereka akan bertindak mudah dan, jika mereka tidak menerima KESEPAKATAN tersebut, akan menjadi kehormatan bagi saya untuk melakukan apa yang harus dilakukan, yang seharusnya telah dilakukan terhadap Iran, oleh Presiden-Presiden lain, selama 47 tahun terakhir," imbuh Trump.
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran agar menerima kesepakatan dalam perundingan yang akan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Menurutnya, republik Islam itu akan dihancurkan jika tidak menerima kesepakatan.
Trump mengatakan tidak akan ada lagi "tuan baik hati" jika Iran menolak kesepakatan, yang menurutnya, sangat adil dan masuk akal.
Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu lagi di Pakistan, Senin (20/4/2026). Namun, Teheran sebelumnya menyatakan tidak akan terlibat perundingan tersebut.
"Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin di Selat Hormuz—Pelanggaran Total terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kita! Banyak di antaranya ditujukan ke kapal Prancis, dan kapal kargo dari Inggris. Itu tidak baik, bukan? Perwakilan saya akan pergi ke Islamabad, Pakistan—Mereka akan berada di sana besok malam, untuk Negosiasi," tulis Trump di Truth Social pada hari Minggu.
"Iran baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menutup Selat, yang aneh, karena BLOKADE kita telah menutupnya. Mereka membantu kita tanpa menyadarinya, dan merekalah yang dirugikan dengan penutupan jalur tersebut, 500 Juta Dolar per hari! Amerika Serikat tidak kehilangan apa pun. Bahkan, banyak kapal sedang menuju ke AS, Texas, Louisiana, dan Alaska, untuk memuat barang, atas bantuan IRGC, yang selalu ingin menjadi 'si jagoan!'" lanjut Trump.
"Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap Pembangkit Listrik, dan setiap Jembatan, di Iran. TIDAK ADA LAGI TUAN BAIK HATI! Mereka akan bertindak cepat, mereka akan bertindak mudah dan, jika mereka tidak menerima KESEPAKATAN tersebut, akan menjadi kehormatan bagi saya untuk melakukan apa yang harus dilakukan, yang seharusnya telah dilakukan terhadap Iran, oleh Presiden-Presiden lain, selama 47 tahun terakhir," imbuh Trump.
Lihat Juga :