Trump Ancam Iran: Terima Kesepakatan atau Dihancurkan, Tak Ada Lagi Tuan Baik Hati!

Senin, 20 April 2026 - 08:03 WIB
loading...
Trump Ancam Iran: Terima...
Presiden AS Donald Trump ancam hancurkan Iran jika tidak menerima kesepakatan dalam perundingan yang akan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Foto/White House
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran agar menerima kesepakatan dalam perundingan yang akan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Menurutnya, republik Islam itu akan dihancurkan jika tidak menerima kesepakatan.

Trump mengatakan tidak akan ada lagi "tuan baik hati" jika Iran menolak kesepakatan, yang menurutnya, sangat adil dan masuk akal.

Baca Juga: Kapal Perang AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Dekat Selat Hormuz, lalu Merampasnya

Para pejabat AS dan Iran dijadwalkan bertemu lagi di Pakistan, Senin (20/4/2026). Namun, Teheran sebelumnya menyatakan tidak akan terlibat perundingan tersebut.

"Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin di Selat Hormuz—Pelanggaran Total terhadap Perjanjian Gencatan Senjata kita! Banyak di antaranya ditujukan ke kapal Prancis, dan kapal kargo dari Inggris. Itu tidak baik, bukan? Perwakilan saya akan pergi ke Islamabad, Pakistan—Mereka akan berada di sana besok malam, untuk Negosiasi," tulis Trump di Truth Social pada hari Minggu.

"Iran baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menutup Selat, yang aneh, karena BLOKADE kita telah menutupnya. Mereka membantu kita tanpa menyadarinya, dan merekalah yang dirugikan dengan penutupan jalur tersebut, 500 Juta Dolar per hari! Amerika Serikat tidak kehilangan apa pun. Bahkan, banyak kapal sedang menuju ke AS, Texas, Louisiana, dan Alaska, untuk memuat barang, atas bantuan IRGC, yang selalu ingin menjadi 'si jagoan!'" lanjut Trump.

"Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap Pembangkit Listrik, dan setiap Jembatan, di Iran. TIDAK ADA LAGI TUAN BAIK HATI! Mereka akan bertindak cepat, mereka akan bertindak mudah dan, jika mereka tidak menerima KESEPAKATAN tersebut, akan menjadi kehormatan bagi saya untuk melakukan apa yang harus dilakukan, yang seharusnya telah dilakukan terhadap Iran, oleh Presiden-Presiden lain, selama 47 tahun terakhir," imbuh Trump.

"SAATNYA MESIN PEMBUNUH IRAN BERAKHIR!" sambung unggahan Trump.

Selat Hormuz yang strategis tetap ditutup Iran, di mana Ketua Parlemen yang juga kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberi sinyal bahwa kesepakatan perdamaian akhir masih jauh meskipun ada beberapa kemajuan dalam negosiasi.

Karena upaya mediasi terus berlanjut setelah perundingan pertama di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, Iran mengatakan tidak akan mengizinkan jalur perdagangan maritim penting itu dibuka kembali sampai AS mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ghalibaf mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Sabtu malam bahwa telah ada "kemajuan" dengan Washington. "Tetapi ada banyak kesenjangan dan beberapa poin mendasar masih tersisa," katanya. "Kita masih jauh dari diskusi akhir," katanya lagi.

Pada hari Jumat, Teheran telah mendeklarasikan Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak dan gas alam cair dunia dibuka setelah gencatan senjata sementara disepakati untuk menghentikan perang Israel dengan sekutu Iran, Hizbullah, di Lebanon.

Hal itu memicu kegembiraan di pasar global dan menyebabkan harga minyak anjlok, tetapi Teheran membalikkan keadaan setelah Trump bersikeras bahwa blokade AS terhadap pelabuhan Iran akan berlanjut hingga kesepakatan akhir tercapai.

"Jika Amerika tidak mencabut blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan terbatas," kata Ghalibaf.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Gempa Venezuela, Badan...
Gempa Venezuela, Badan Geologi AS Bikin Pemodelan Korban Tewas 10.000 hingga 100.000 Orang
Rekomendasi
Babak Pertama: Arab...
Babak Pertama: Arab Saudi vs Cape Verde Imbang Tanpa Gol, Blue Sharks Sementara di Jalur Lolos
PP 20 Tahun 2026: Langkah...
PP 20 Tahun 2026: Langkah Besar Menuju Keadilan Pajak bagi UMKM Orang Pribadi
Didier Deschamps Absen...
Didier Deschamps Absen Dampingi Prancis di Piala Dunia 2026 usai Ibunda Meninggal Dunia
Berita Terkini
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Infografis
Senjata Makan Tuan,...
Senjata Makan Tuan, Tarif Trump Ancam Industri Senjata AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved