Kapal Perang Sekutu AS Masuk Selat Taiwan, China Marah

Minggu, 19 April 2026 - 08:52 WIB
loading...
Kapal Perang Sekutu...
China marah dan protes keras setelah kapal perang Jepang memasuki Selat Taiwan. Foto/Naval News
A A A
BEIJING - Pemerintah China marah dan menyampaikan protes keras kepada Jepang setelah kapal perang Tokyo memasuki Selat Taiwan pada hari Jumat. Beijing menyatakan tindakan sekutu Amerika Serikat (AS) telah mengancam kedaulatan dan keamanan China.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan militer Beijing telah menangani masuknya kapal perang tersebut sesuai dengan hukum dan peraturan.

Baca Juga: Strategi AS Mencekik Minyak China, dari Venezuela, Selat Hormuz, hingga Indonesia

Menyatakan bahwa pernyataan keliru Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi tentang Taiwan telah menimbulkan kerusakan serius pada hubungan bilateral, Guo mengatakan pengiriman kapal Pasukan Bela Diri Jepang ke Selat Taiwan untuk memamerkan kekuatan militernya dan melakukan provokasi yang disengaja memperparah kesalahan tersebut.

"Ini sekali lagi mengungkap upaya berbahaya dari individu-individu tertentu di Jepang untuk secara militer mengganggu Selat Taiwan dan merusak perdamaian dan stabilitas lintas Selat," kata Guo, seperti dikutip dari China Daily, Minggu (19/4/2026).

Dia menekankan bahwa masalah Taiwan menyangkut kedaulatan dan integritas teritorial China, serta fondasi politik hubungan China-Jepang, dan merupakan garis merah yang tidak boleh dilanggar.

Beijing, kata Guo, mendesak pihak Jepang untuk sungguh-sungguh merenungkan kesalahannya, mundur dari ambang kehancuran, berhati-hati dalam ucapan dan tindakannya, dan menahan diri untuk tidak melangkah lebih jauh ke jalan yang salah.

Pergerakan kapal perang tersebut menandai titik konflik terbaru dalam hubungan China-Jepang, yang telah memburuk sejak pernyataan provokatif Takaichi pada November lalu.

Pada bulan tersebut Takaichi mengatakan Tokyo dapat mengerahkan militernya jika China menggunakan kekuatan untuk mencoba merebut Taiwan. Takaichi menolak untuk menarik kembali komentarnya tentang pulau demokrasi tersebut, yang diklaim China sebagai wilayahnya.

Pada akhir Maret, seorang perwira Pasukan Bela Diri Jepang menerobos masuk ke Kedutaan Besar China dengan membawa pisau, dan pada minggu berikutnya, seorang individu yang mengaku sebagai anggota cadangan Pasukan Bela Diri mengeluarkan ancaman daring kepada kedutaan besar tersebut dengan mengeklaim bahwa bom yang dikendalikan dari jarak jauh telah ditanam di dalam gedung.

Saat mengomentari penindasan dan provokasi tersebut, Guo mencatat bahwa insiden-insiden itu mengungkapkan banyak masalah mendasar di Jepang, termasuk meningkatnya pengaruh sayap kanan, penindasan suara-suara objektif dan rasional, dan dampak buruk dari kebijakan pemerintah Jepang yang keliru terhadap isu-isu penting yang menyangkut hubungan China-Jepang.

Dia juga mencatat kurangnya pendidikan tentang sejarah yang sebenarnya, pandangan sejarah yang keliru yang meluas, dorongan berkelanjutan untuk kebijakan pertahanan yang lebih ofensif, ekspansionis, dan berbahaya, serta kegagalan untuk mengawasi SDF dan menjaga disiplin di dalam pasukan.

Menurutnya, bagaimana cara mengatasi masalah ini secara mendasar dan menghilangkan akar permasalahannya di masyarakat Jepang layak direnungkan secara serius oleh mereka yang memiliki wawasan tentang Jepang.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Zionis Israel Ratapi...
Zionis Israel Ratapi Kesepakatan Damai AS-Iran: Kami Ditinggalkan Sendirian!
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh Tewaskan 8 Awak, Harganya Rp1,5 Triliun
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Trump Sebut Kesepakatan...
Trump Sebut Kesepakatan Damai dengan Iran Akan Ditandatangani pada Minggu, Ini Respons Teheran
Keji! Pasangan Muda-Mudi...
Keji! Pasangan Muda-Mudi Buang Bayi di Tempat Sampah Terminal Bus
Rekomendasi
Usai Temui Jokowi, IKA...
Usai Temui Jokowi, IKA BEM Nusantara Akan Bertemu Gibran, Bahas Apa?
Dukung Tambahan Anggaran...
Dukung Tambahan Anggaran Komnas HAM dan Komnas Perempuan, Marinus Gea: Penting untuk Pemenuhan Hak Asasi Manusia
Budiman Sesalkan Pembubaran...
Budiman Sesalkan Pembubaran Diskusi di UGM: Seharusnya Kita Bisa Berdialog dengan Sehat
Berita Terkini
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved