Estonia: NATO Tak Akan Runtuh, AS Bakal Membela Jika Diserang Rusia
Jum'at, 17 April 2026 - 14:52 WIB
loading...
Estonia tak percaya NATO akan runtuh dan yakin AS akan membela sekutunya jika diserang Rusia. Foto/US Army
A
A
A
VILNIUS - Estonia, salah satu anggota NATO, tidak ragu bahwa Amerika Serikat (AS) akan membantu membela negara itu jika Rusia menyerang. Demikian disampaikan menteri pertahanan (Menhan) negara tersebut, Hanno Pevkur, sambil memperingatkan bahwa Eropa belum siap untuk melawan Moskow sendirian.
Intelijen Estonia memperingatkan pada bulan Februari bahwa Rusia sudah menimbun amunisi untuk perang di masa depan setelah perang Ukraina berakhir. Rusia telah menyebut tuduhan para pemimpin Eropa bahwa mereka dapat menyerang NATO sebagai omong kosong.
Baca Juga: Rusia Marah dan Warning Keras 4 Negara NATO karena Bantu Serangan Ukraina
Presiden AS Donald Trump bulan ini mengancam akan menarik Amerika keluar dari aliansi tersebut karena penolakan anggota NATO Eropa untuk mengirim kapal perang guna membuka Selat Hormuz yang ditutup Iran.
Aliansi tersebut sebelumnya sudah terguncang oleh rencana Trump untuk mengambil alih Greenland dari Denmarkâyang juga anggota NATO.
Namun Pevkur, mengatakan kepada Reuters, Jumat (17/4/2026), bahwa dia tidak ragu AS akan membela Estonia jika Rusia menyerang.
"Ya, saya percaya AS dan ya, saya percaya semua sekutu kami," katanya selama kunjungan ke ibu kota Lithuania, Vilnius.
Dia mengatakan AS membutuhkan Eropa untuk militernya sama seperti Eropa membutuhkan AS. "Jadi, saya tidak percaya bahwa NATO akan runtuh," ujarnya.
Dia membandingkan ketegangan NATO saat ini dengan pernikahan yang panjang. "Tidak ada 50 tahun yang sepenuhnya mulus. Anda memiliki perbedaan dan masalah, dan Anda perlu menyelesaikannya," katanya.
Tetapi menteri tersebut mengatakan Eropa belum siap untuk berdiri sendiri secara militer saat ini.
"Apakah kita sudah sampai di tempat yang kita inginkan? Tidak," katanya. "Kita semua (di NATO) perlu berinvestasi lebih banyak dalam pertahanan," imbuh dia.
Dia mengatakan sebagian besar anggota NATO tidak mematuhi kesepakatan tahun lalu yang dibuat oleh para kepala negara anggota NATO untuk meningkatkan pengeluaran mereka setidaknya menjadi 5% dari produk domestik bruto (PDB) yang dituntut Trump.
Estonia dijadwalkan untuk menghabiskan 5,1% dari PDB-nya tahun ini, termasuk yang tertinggi di NATO.
Melihat di luar Eropa, Pevkur mengatakan NATO harus fokus membantu mengakhiri konflik di Iran, dengan alasan hal ini dapat memungkinkan Amerika Serikat untuk mengalihkan lebih banyak perhatian kembali ke Ukraina.
"Setelah masalah ini terselesaikan, ada peluang untuk mengalihkan lebih banyak fokus AS ke Ukraina," katanya. "Bagi kawasan kita, itu tetap menjadi masalah utama."
Intelijen Estonia memperingatkan pada bulan Februari bahwa Rusia sudah menimbun amunisi untuk perang di masa depan setelah perang Ukraina berakhir. Rusia telah menyebut tuduhan para pemimpin Eropa bahwa mereka dapat menyerang NATO sebagai omong kosong.
Baca Juga: Rusia Marah dan Warning Keras 4 Negara NATO karena Bantu Serangan Ukraina
Presiden AS Donald Trump bulan ini mengancam akan menarik Amerika keluar dari aliansi tersebut karena penolakan anggota NATO Eropa untuk mengirim kapal perang guna membuka Selat Hormuz yang ditutup Iran.
Aliansi tersebut sebelumnya sudah terguncang oleh rencana Trump untuk mengambil alih Greenland dari Denmarkâyang juga anggota NATO.
Namun Pevkur, mengatakan kepada Reuters, Jumat (17/4/2026), bahwa dia tidak ragu AS akan membela Estonia jika Rusia menyerang.
"Ya, saya percaya AS dan ya, saya percaya semua sekutu kami," katanya selama kunjungan ke ibu kota Lithuania, Vilnius.
Dia mengatakan AS membutuhkan Eropa untuk militernya sama seperti Eropa membutuhkan AS. "Jadi, saya tidak percaya bahwa NATO akan runtuh," ujarnya.
Dia membandingkan ketegangan NATO saat ini dengan pernikahan yang panjang. "Tidak ada 50 tahun yang sepenuhnya mulus. Anda memiliki perbedaan dan masalah, dan Anda perlu menyelesaikannya," katanya.
Tetapi menteri tersebut mengatakan Eropa belum siap untuk berdiri sendiri secara militer saat ini.
"Apakah kita sudah sampai di tempat yang kita inginkan? Tidak," katanya. "Kita semua (di NATO) perlu berinvestasi lebih banyak dalam pertahanan," imbuh dia.
Dia mengatakan sebagian besar anggota NATO tidak mematuhi kesepakatan tahun lalu yang dibuat oleh para kepala negara anggota NATO untuk meningkatkan pengeluaran mereka setidaknya menjadi 5% dari produk domestik bruto (PDB) yang dituntut Trump.
Estonia dijadwalkan untuk menghabiskan 5,1% dari PDB-nya tahun ini, termasuk yang tertinggi di NATO.
Melihat di luar Eropa, Pevkur mengatakan NATO harus fokus membantu mengakhiri konflik di Iran, dengan alasan hal ini dapat memungkinkan Amerika Serikat untuk mengalihkan lebih banyak perhatian kembali ke Ukraina.
"Setelah masalah ini terselesaikan, ada peluang untuk mengalihkan lebih banyak fokus AS ke Ukraina," katanya. "Bagi kawasan kita, itu tetap menjadi masalah utama."
(mas)
Lihat Juga :