Ini 5 Strategi AS Blokade Selat Hormuz untuk Picu Respons Iran dan 2 Sekutunya
Rabu, 15 April 2026 - 01:10 WIB
loading...
A
A
A
3. Menjamin Keselamatan Navigasi
Seperti yang diumumkan pekan lalu, Arsenio Dominguez, sekretaris jenderal IMO, mengatakan upaya sedang dilakukan “untuk menerapkan mekanisme yang tepat guna memastikan transit kapal yang aman melalui Selat Hormuz.”
“Prioritas sekarang adalah memastikan evakuasi yang menjamin keselamatan navigasi,” tambahnya.
Dengan perundingan yang kini gagal dan blokade AS yang sedang berlangsung, nasib para pelaut tersebut sekali lagi tidak pasti.
Masih belum jelas bagaimana blokade akan ditegakkan dalam praktiknya — dan apakah kehadiran kapal perang AS di jalur air yang sempit akan meyakinkan atau justru semakin mengkhawatirkan pemilik kapal dan perusahaan asuransi.
Selama apa yang disebut perang kapal tanker antara tahun 1981 dan 1987, total 451 kapal diserang, termasuk 259 kapal tanker minyak. Rudal menjadi penyebab sebagian besar insiden, sementara ranjau merusak setidaknya 10 kapal. Korban jiwa termasuk 116 tewas, 167 luka-luka, dan setidaknya 37 hilang.
Jika Teheran menolak blokade, biaya yang harus ditanggung Washington bisa meningkat melebihi 13 personel militer AS yang telah tewas sejak konflik dimulai.
Pada 17 Mei 1987, sebuah rudal Irak menghantam USS Stark, menewaskan 37 awak kapal dan melukai 21 lainnya. Baghdad kemudian mengatakan bahwa kapal tersebut dikira sebagai kapal tanker Iran.
Iran telah menunjukkan kemampuan untuk mengganggu sistem GPS di Teluk. Ditambah dengan kemungkinan bahwa kapal-kapal di semua pihak dapat mematikan pelacak Sistem Identifikasi Otomatis mereka untuk menghindari deteksi, hal ini dapat semakin mempersulit navigasi.
Selama perang tanker, Iran sangat bergantung pada kapal serang cepat — taktik asimetris yang masih dipertahankan dan belum digunakan dalam konflik saat ini. Penggunaan kapal-kapal tersebut dapat mempersulit penegakan blokade dan menimbulkan risiko bagi kapal-kapal angkatan laut AS.
Bahayanya bukan sekadar teori.
Pada November 1987, sebuah fregat AS yang mengawal kapal kargo melepaskan tembakan ke arah apa yang diyakininya sebagai kapal cepat Iran. Padahal, itu adalah kapal nelayan Uni Emirat Arab; satu awak kapal tewas dan tiga lainnya terluka.
ANGKA
• Lebih dari 3.300 korban tewas resmi Iran sejak serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.
• Lebih dari 1.830 korban tewas resmi Lebanon, termasuk pejuang Hizbullah, dalam serangan Israel sejak 2 Maret.
• Lebih dari 117 orang, termasuk anggota milisi, tewas di Irak sejak pecahnya konflik regional.
Seperti yang diumumkan pekan lalu, Arsenio Dominguez, sekretaris jenderal IMO, mengatakan upaya sedang dilakukan “untuk menerapkan mekanisme yang tepat guna memastikan transit kapal yang aman melalui Selat Hormuz.”
“Prioritas sekarang adalah memastikan evakuasi yang menjamin keselamatan navigasi,” tambahnya.
Dengan perundingan yang kini gagal dan blokade AS yang sedang berlangsung, nasib para pelaut tersebut sekali lagi tidak pasti.
Masih belum jelas bagaimana blokade akan ditegakkan dalam praktiknya — dan apakah kehadiran kapal perang AS di jalur air yang sempit akan meyakinkan atau justru semakin mengkhawatirkan pemilik kapal dan perusahaan asuransi.
4. Memperhatikan Banyak Risiko
Sejarah menunjukkan bahwa operasi semacam itu penuh dengan risiko.Selama apa yang disebut perang kapal tanker antara tahun 1981 dan 1987, total 451 kapal diserang, termasuk 259 kapal tanker minyak. Rudal menjadi penyebab sebagian besar insiden, sementara ranjau merusak setidaknya 10 kapal. Korban jiwa termasuk 116 tewas, 167 luka-luka, dan setidaknya 37 hilang.
Jika Teheran menolak blokade, biaya yang harus ditanggung Washington bisa meningkat melebihi 13 personel militer AS yang telah tewas sejak konflik dimulai.
Pada 17 Mei 1987, sebuah rudal Irak menghantam USS Stark, menewaskan 37 awak kapal dan melukai 21 lainnya. Baghdad kemudian mengatakan bahwa kapal tersebut dikira sebagai kapal tanker Iran.
Iran telah menunjukkan kemampuan untuk mengganggu sistem GPS di Teluk. Ditambah dengan kemungkinan bahwa kapal-kapal di semua pihak dapat mematikan pelacak Sistem Identifikasi Otomatis mereka untuk menghindari deteksi, hal ini dapat semakin mempersulit navigasi.
Selama perang tanker, Iran sangat bergantung pada kapal serang cepat — taktik asimetris yang masih dipertahankan dan belum digunakan dalam konflik saat ini. Penggunaan kapal-kapal tersebut dapat mempersulit penegakan blokade dan menimbulkan risiko bagi kapal-kapal angkatan laut AS.
Bahayanya bukan sekadar teori.
Pada November 1987, sebuah fregat AS yang mengawal kapal kargo melepaskan tembakan ke arah apa yang diyakininya sebagai kapal cepat Iran. Padahal, itu adalah kapal nelayan Uni Emirat Arab; satu awak kapal tewas dan tiga lainnya terluka.
ANGKA
• Lebih dari 3.300 korban tewas resmi Iran sejak serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.
• Lebih dari 1.830 korban tewas resmi Lebanon, termasuk pejuang Hizbullah, dalam serangan Israel sejak 2 Maret.
• Lebih dari 117 orang, termasuk anggota milisi, tewas di Irak sejak pecahnya konflik regional.
Lihat Juga :