Beda dengan Klaim Trump, Intel AS Akui Hanya Sepertiga Rudal Iran yang Hancur
Sabtu, 28 Maret 2026 - 15:02 WIB
loading...
Sumber-sumber intelijen AS akui hanya sepertiga rudal Iran yang hancur sejak perang dimulai. Tapi Presiden Donald Trump klaim 99 persen rudal Iran telah dihancurkan. Foto/SANA
A
A
A
WASHINGTON - Lima sumber intelijen Amerika Serikat (AS) mengukap kepada Reuters bahwa hanya sekitar sepertiga dari persediaan rudal Iran yang telah dihancurkan selama perang berlangsung.
Penilaian intelijen tersebut sangat kontras dengan pernyataan Presiden Donald Trump pada hari Kamis, di mana dia mengeklaim Iran hanya memiliki sejumlah kecil rudal yang tersisa. Selama pertemuan pemerintah pada hari Kamis, Trump mengatakan 99 persen rudal Iran telah dihancurkan.
Baca Juga: Iran Bombardir Pangkalan Arab Saudi, 12 Tentara AS Terluka dan Pesawat Rusak
"Masalah dengan selat ini adalah: katakanlah kita melakukan pekerjaan yang hebat. Kita katakan kita telah menghancurkan 99 persen [rudalnya]. 1 persen tidak dapat diterima, karena 1 persen adalah rudal yang masuk ke lambung kapal yang harganya satu miliar dolar," kata Trump, yang disiarkan televisi AS.
Salah satu sumber intelijen mengatakan informasinya serupa untuk kemampuan drone Iran, menambahkan bahwa ada beberapa tingkat kepastian tentang sepertiga yang telah dihancurkan.
Penilaian tersebut, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar rudal Iran telah hancur atau tidak dapat diakses, Teheran masih memiliki persediaan rudal yang signifikan dan mungkin dapat memulihkan beberapa rudal yang terkubur atau rusak setelah pertempuran berhenti.
Ketika dimintai komentar terkait pengakuan komunitas intelijen tersebut, seorang pejabat Pentagon mengatakan serangan rudal dan drone Iran telah menurun sekitar 90% sejak awal perang.
"Komando Pusat militer AS juga telah merusak atau menghancurkan lebih dari 66% fasilitas produksi rudal, drone, dan angkatan laut serta galangan kapal Iran," ujarnya, seperti dikutip Reuters, Sabtu (28/3/2026).
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar yang diajukan media.
Anggota Parlemen dari Partai Demokrat, Seth Moulton, seorang veteran Korps Marinir yang bertugas empat kali di Irak, menolak berkomentar tentang laporan Reuters. Namun, dia membantah klaim Trump tentang dampak perang terhadap persenjataan Iran.
"Jika Iran cerdas, mereka telah mempertahankan sebagian kemampuan mereka - mereka tidak menggunakan semua yang mereka miliki. Dan mereka sedang menunggu kesempatan," kata Moulton.
Pemerintahan Trump telah mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk melemahkan militer Iran dengan menenggelamkan Angkatan Laut-nya, menghancurkan kemampuan rudal dan dronenya, dan memastikan bahwa Republik Islam tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Komando Pusat atau CENTCOM Amerika telah menyatakan bahwa operasinya, yang secara resmi dikenal sebagai Operasi Epic Fury, berjalan sesuai jadwal atau bahkan lebih cepat dari rencana yang disusun sebelum dimulainya serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Menurut CENTCOM, Serangan AS telah menghantam lebih dari 10.000 target militer Iran hingga Rabu lalu, telah menenggelamkan 92 persen kapal besar Angkatan Laut Iran.
Militer AS telah menerbitkan citra satelit yang menunjukkan serangan terhadap pabrik-pabrik yang memproduksi persenjataan Iran dan telah menekankan bahwa mereka tidak hanya mengejar persediaan rudal dan drone, tetapi juga industri yang membuatnya.
Namun, CENTCOM menolak untuk menyatakan secara tepat berapa banyak kemampuan rudal atau drone Iran yang telah dihancurkan.
Salah satu sumber intelijen mengatakan bahwa sebagian dari masalahnya adalah menentukan berapa banyak rudal Iran yang disimpan di bunker bawah tanah sebelum perang dimulai. AS belum mengungkapkan perkiraannya tentang ukuran persediaan rudal Iran sebelum perang.
Para pejabat militer Israel mengatakan Iran memiliki 2.500 rudal balistik yang mampu mencapai Israel sebelum perang. Lebih dari 335 peluncur rudal telah "dinetralkan", yang mewakili 70% dari kapasitas peluncuran Iran, kata seorang pejabat militer senior Israel.
Para pejabat Israel belum secara terbuka mengungkapkan berapa banyak rudal sebenarnya yang mereka yakini masih dimiliki Iran. Mereka secara pribadi mengakui bahwa melenyapkan apa yang mereka perkirakan sebagai 30% terakhir dari kapasitas Iran akan relatif lebih sulit untuk dicapai.
Penilaian intelijen tersebut sangat kontras dengan pernyataan Presiden Donald Trump pada hari Kamis, di mana dia mengeklaim Iran hanya memiliki sejumlah kecil rudal yang tersisa. Selama pertemuan pemerintah pada hari Kamis, Trump mengatakan 99 persen rudal Iran telah dihancurkan.
Baca Juga: Iran Bombardir Pangkalan Arab Saudi, 12 Tentara AS Terluka dan Pesawat Rusak
"Masalah dengan selat ini adalah: katakanlah kita melakukan pekerjaan yang hebat. Kita katakan kita telah menghancurkan 99 persen [rudalnya]. 1 persen tidak dapat diterima, karena 1 persen adalah rudal yang masuk ke lambung kapal yang harganya satu miliar dolar," kata Trump, yang disiarkan televisi AS.
Salah satu sumber intelijen mengatakan informasinya serupa untuk kemampuan drone Iran, menambahkan bahwa ada beberapa tingkat kepastian tentang sepertiga yang telah dihancurkan.
Penilaian tersebut, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar rudal Iran telah hancur atau tidak dapat diakses, Teheran masih memiliki persediaan rudal yang signifikan dan mungkin dapat memulihkan beberapa rudal yang terkubur atau rusak setelah pertempuran berhenti.
Ketika dimintai komentar terkait pengakuan komunitas intelijen tersebut, seorang pejabat Pentagon mengatakan serangan rudal dan drone Iran telah menurun sekitar 90% sejak awal perang.
"Komando Pusat militer AS juga telah merusak atau menghancurkan lebih dari 66% fasilitas produksi rudal, drone, dan angkatan laut serta galangan kapal Iran," ujarnya, seperti dikutip Reuters, Sabtu (28/3/2026).
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar yang diajukan media.
Anggota Parlemen dari Partai Demokrat, Seth Moulton, seorang veteran Korps Marinir yang bertugas empat kali di Irak, menolak berkomentar tentang laporan Reuters. Namun, dia membantah klaim Trump tentang dampak perang terhadap persenjataan Iran.
"Jika Iran cerdas, mereka telah mempertahankan sebagian kemampuan mereka - mereka tidak menggunakan semua yang mereka miliki. Dan mereka sedang menunggu kesempatan," kata Moulton.
Pemerintahan Trump telah mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk melemahkan militer Iran dengan menenggelamkan Angkatan Laut-nya, menghancurkan kemampuan rudal dan dronenya, dan memastikan bahwa Republik Islam tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Komando Pusat atau CENTCOM Amerika telah menyatakan bahwa operasinya, yang secara resmi dikenal sebagai Operasi Epic Fury, berjalan sesuai jadwal atau bahkan lebih cepat dari rencana yang disusun sebelum dimulainya serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Menurut CENTCOM, Serangan AS telah menghantam lebih dari 10.000 target militer Iran hingga Rabu lalu, telah menenggelamkan 92 persen kapal besar Angkatan Laut Iran.
Militer AS telah menerbitkan citra satelit yang menunjukkan serangan terhadap pabrik-pabrik yang memproduksi persenjataan Iran dan telah menekankan bahwa mereka tidak hanya mengejar persediaan rudal dan drone, tetapi juga industri yang membuatnya.
Namun, CENTCOM menolak untuk menyatakan secara tepat berapa banyak kemampuan rudal atau drone Iran yang telah dihancurkan.
Salah satu sumber intelijen mengatakan bahwa sebagian dari masalahnya adalah menentukan berapa banyak rudal Iran yang disimpan di bunker bawah tanah sebelum perang dimulai. AS belum mengungkapkan perkiraannya tentang ukuran persediaan rudal Iran sebelum perang.
Para pejabat militer Israel mengatakan Iran memiliki 2.500 rudal balistik yang mampu mencapai Israel sebelum perang. Lebih dari 335 peluncur rudal telah "dinetralkan", yang mewakili 70% dari kapasitas peluncuran Iran, kata seorang pejabat militer senior Israel.
Para pejabat Israel belum secara terbuka mengungkapkan berapa banyak rudal sebenarnya yang mereka yakini masih dimiliki Iran. Mereka secara pribadi mengakui bahwa melenyapkan apa yang mereka perkirakan sebagai 30% terakhir dari kapasitas Iran akan relatif lebih sulit untuk dicapai.
(mas)
Lihat Juga :