AS Tembakkan 850 Rudal Tomahawk dalam 4 Minggu Perang Melawan Iran, Amerika Terancam Krisis Misil
Sabtu, 28 Maret 2026 - 07:28 WIB
loading...
Amerika Serikat telah tembakkan lebih dari 850 rudal Tomahawk dalam 4 minggu selama perangnya melawan Iran. Foto/US Navy
A
A
A
WASHINGTON - Militer Amerika Serikat (AS) sudah menembakkan lebih dari 850 rudal Tomahawk dalam empat minggu selama perangnya melawan Iran. Laju penembakan ini membuat para pejabat Pentagon khawatir karena hanya beberapa ratus rudal Tomahawk yang diproduksi setiap tahun.
Mengutip laporan dari The Washington Post, Sabtu (28/6/2026), para pejabat tersebut sedang berdiskusi tentang bagaimana meningkatkan jumlah rudal Tomahawk.
Baca Juga: Eks Bos MI6 Inggris: Iran Lebih Tangguh dalam Perang Melawan AS-Israel daripada yang Diperkirakan
Menurut laporan itu, pembuatan sebuah rudal Tomahawk idealnya dapat memakan waktu hingga dua tahun, dengan biaya USD3,6 juta per unit. Terlebih lagi, anggaran tahun lalu hanya mencakup 57 unit.
Seorang pejabat Pentagon mengatakan bahwa jumlah rudal Tomahawk di Timur Tengah "sangat rendah", pejabat lain mengatakan bahwa jika tidak ada intervensi, AS dapat segera kehabisan rudal di wilayah tersebut.
Para pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa diskusi sedang berlangsung tentang apakah akan mendatangkan rudal dari bagian lain dunia atau membangun lebih banyak rudal.
Namun, juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan: "Militer AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden dan pada jangka waktu apa pun."
Parnell menambahkan bahwa media mencoba menggambarkan "militer terkuat di dunia" sebagai "lemah".
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt juga menepis kekhawatiran tersebut dan mengatakan: "Militer AS memiliki persediaan amunisi, peluru, dan senjata yang lebih dari cukup untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump dan seterusnya".
Kepala Pentagon Pete Hegseth juga mengatakan kepada wartawan pada 5 Maret bahwa AS tidak kekurangan amunisi dan bahwa AS dapat mempertahankan kampanye militer tersebut selama yang dibutuhkan.
Namun, menurut laporan The Washington Post, Hegseth secara pribadi mendesak perusahaan pertahanan untuk mempercepat pengiriman senjata-senjata penting.
Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies, mengatakan bahwa penggunaan lebih dari 800 rudal Tomahawk meninggalkan celah besar untuk konflik di Pasifik Barat. Lembaga think tank-nya memperkirakan bahwa mungkin ada sekitar 3.100 rudal yang tersedia bagi Angkatan Laut pada awal perang.
Dia menambahkan bahwa akan membutuhkan beberapa tahun untuk mengisi kembali rudal-rudal tersebut.
Rudal-rudal tersebut pertama kali digunakan oleh AS pada tahun 1991 selama Perang Teluk Persia dan telah menjadi andalan militer mereka sejak saat itu.
Rudal-rudal itu dapat menempuh jarak lebih dari 1.000 mil dan dapat diluncurkan dari kapal perang permukaan dan kapal selam Angkatan Laut, yang mengurangi ketergantungan pada pilot untuk memasuki wilayah udara musuh yang dijaga ketat.
Mengutip laporan dari The Washington Post, Sabtu (28/6/2026), para pejabat tersebut sedang berdiskusi tentang bagaimana meningkatkan jumlah rudal Tomahawk.
Baca Juga: Eks Bos MI6 Inggris: Iran Lebih Tangguh dalam Perang Melawan AS-Israel daripada yang Diperkirakan
Menurut laporan itu, pembuatan sebuah rudal Tomahawk idealnya dapat memakan waktu hingga dua tahun, dengan biaya USD3,6 juta per unit. Terlebih lagi, anggaran tahun lalu hanya mencakup 57 unit.
Seorang pejabat Pentagon mengatakan bahwa jumlah rudal Tomahawk di Timur Tengah "sangat rendah", pejabat lain mengatakan bahwa jika tidak ada intervensi, AS dapat segera kehabisan rudal di wilayah tersebut.
Para pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa diskusi sedang berlangsung tentang apakah akan mendatangkan rudal dari bagian lain dunia atau membangun lebih banyak rudal.
Pemerintahan Trump Menepis Kekhawatiran soal Amunisi
Namun, juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan: "Militer AS memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan misi apa pun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden dan pada jangka waktu apa pun."
Parnell menambahkan bahwa media mencoba menggambarkan "militer terkuat di dunia" sebagai "lemah".
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt juga menepis kekhawatiran tersebut dan mengatakan: "Militer AS memiliki persediaan amunisi, peluru, dan senjata yang lebih dari cukup untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump dan seterusnya".
Kepala Pentagon Pete Hegseth juga mengatakan kepada wartawan pada 5 Maret bahwa AS tidak kekurangan amunisi dan bahwa AS dapat mempertahankan kampanye militer tersebut selama yang dibutuhkan.
Namun, menurut laporan The Washington Post, Hegseth secara pribadi mendesak perusahaan pertahanan untuk mempercepat pengiriman senjata-senjata penting.
Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies, mengatakan bahwa penggunaan lebih dari 800 rudal Tomahawk meninggalkan celah besar untuk konflik di Pasifik Barat. Lembaga think tank-nya memperkirakan bahwa mungkin ada sekitar 3.100 rudal yang tersedia bagi Angkatan Laut pada awal perang.
Dia menambahkan bahwa akan membutuhkan beberapa tahun untuk mengisi kembali rudal-rudal tersebut.
Rudal-rudal tersebut pertama kali digunakan oleh AS pada tahun 1991 selama Perang Teluk Persia dan telah menjadi andalan militer mereka sejak saat itu.
Rudal-rudal itu dapat menempuh jarak lebih dari 1.000 mil dan dapat diluncurkan dari kapal perang permukaan dan kapal selam Angkatan Laut, yang mengurangi ketergantungan pada pilot untuk memasuki wilayah udara musuh yang dijaga ketat.
(mas)
Lihat Juga :