Sistem Pertahanan Patriot Rp51 Miliar Kalah Dibandingkan Pencegat Saku Seharga Rp34 Juta, Kok Bisa?
Selasa, 17 Maret 2026 - 11:25 WIB
loading...
A
A
A
Setelah operator manusia mengidentifikasi target dan menguncinya, pencegat beralih ke mode otonom. Bahkan jika penyerang berhasil mengganggu komunikasi dengan operator, pencegat terus melacak drone Shahed berdasarkan bentuk dan strukturnya hingga terjadi benturan. Penglihatan komputer juga memungkinkan pencegat untuk mengidentifikasi titik-titik rentan pada drone — seperti mesin atau hulu ledak — dan menyerangnya secara langsung.
Untuk memastikan drone tidak hanya "melihat" tetapi juga "memahami" apa yang dilihatnya, chip kecerdasan buatan kecil yang dikenal sebagai NPU dipasang di pengontrol penerbangan. Chip ini menjalankan model yang dilatih untuk mengenali pesawat. Algoritma pelacakan menghitung titik intersepsi optimal, artinya pencegat terbang bukan ke tempat target berada sekarang tetapi ke tempat target akan berada satu detik kemudian.
Shahed – para insinyur Ukraina menggunakan motor dan baterai bertenaga tinggi yang mampu menghasilkan tingkat pelepasan muatan listrik yang sangat tinggi. Daripada mengerikan
Dengan tepat mengenai badan drone penyerang, banyak pencegat membawa muatan fragmentasi kecil yang meledak di dekat target, secara signifikan meningkatkan peluang keberhasilan pencegatan bahkan jika navigasi akhir tidak sempurna.
Ide ini memanfaatkan fakta bahwa drone Shahed sangat berisik — orang Ukraina sering menyebutnya "mesin pemotong rumput terbang." Jaringan akustik dengan cepat memproses data dari sensor, mengidentifikasi arah dan ketinggian drone dengan presisi tinggi, dan mengirimkan informasi secara real-time ke unit drone.
Data ini memungkinkan operator untuk meluncurkan pencegat terlebih dahulu di sepanjang jalur tabrakan yang diprediksi, alih-alih mengejar drone dari belakang. Ini menghemat daya baterai dan meningkatkan peluang keberhasilan serangan.
Terlepas dari kemampuan otonom pencegat, operator Ukraina telah memperoleh pengalaman tempur yang signifikan yang memungkinkan mereka untuk memanipulasi drone bahkan di lingkungan elektronik yang sangat "berisik" dan melakukan koreksi arah dalam sepersekian detik.
3. Menggunakan Sensor Inframerah
Pada malam hari, teknologi sedikit berubah. Pencegat harus mendeteksi panas yang dipancarkan oleh mesin piston Shahed. Untuk melakukan ini, Ukraina menggunakan sensor inframerah murah yang mengincar mesin pembakaran internal drone dari jarak ratusan meter, atau sensor CMOS — pada dasarnya kamera yang mampu memperkuat tingkat cahaya yang sangat rendah sehingga operator dapat melihat dengan jelas garis besar target.Untuk memastikan drone tidak hanya "melihat" tetapi juga "memahami" apa yang dilihatnya, chip kecerdasan buatan kecil yang dikenal sebagai NPU dipasang di pengontrol penerbangan. Chip ini menjalankan model yang dilatih untuk mengenali pesawat. Algoritma pelacakan menghitung titik intersepsi optimal, artinya pencegat terbang bukan ke tempat target berada sekarang tetapi ke tempat target akan berada satu detik kemudian.
4. Bisa Terbang hingga 150 Km per Jam
Untuk mencapai kecepatan lebih dari 150 km/jam – yang diperlukan untuk menangkap droneShahed – para insinyur Ukraina menggunakan motor dan baterai bertenaga tinggi yang mampu menghasilkan tingkat pelepasan muatan listrik yang sangat tinggi. Daripada mengerikan
Dengan tepat mengenai badan drone penyerang, banyak pencegat membawa muatan fragmentasi kecil yang meledak di dekat target, secara signifikan meningkatkan peluang keberhasilan pencegatan bahkan jika navigasi akhir tidak sempurna.
5. Mampu Mendeteksi dengan Presisi
Namun, keberhasilan pencegatan dimulai dengan deteksi. Ukraina merancang solusi yang sangat kreatif dengan mengerahkan jaringan nasional yang terdiri dari ribuan mikrofon sensitif yang terhubung melalui jaringan seluler ke ponsel pintar sederhana, dalam sebuah proyek yang disebut "Zvuk."Ide ini memanfaatkan fakta bahwa drone Shahed sangat berisik — orang Ukraina sering menyebutnya "mesin pemotong rumput terbang." Jaringan akustik dengan cepat memproses data dari sensor, mengidentifikasi arah dan ketinggian drone dengan presisi tinggi, dan mengirimkan informasi secara real-time ke unit drone.
Data ini memungkinkan operator untuk meluncurkan pencegat terlebih dahulu di sepanjang jalur tabrakan yang diprediksi, alih-alih mengejar drone dari belakang. Ini menghemat daya baterai dan meningkatkan peluang keberhasilan serangan.
Terlepas dari kemampuan otonom pencegat, operator Ukraina telah memperoleh pengalaman tempur yang signifikan yang memungkinkan mereka untuk memanipulasi drone bahkan di lingkungan elektronik yang sangat "berisik" dan melakukan koreksi arah dalam sepersekian detik.
Lihat Juga :