Trump Ancam NATO Jika Tak Bantu AS Jebol Blokade Iran di Selat Hormuz
Senin, 16 Maret 2026 - 11:24 WIB
loading...
Presiden Donald Trump mengancam sekutu NATO jika tak bantu AS membuka blokade Iran di Selat Hormuz. Foto/White House
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) telah meminta sekutu NATO untuk membantu Amerika membuka blokade Iran di Selat Hormuz. Jika menolak, pemimpin Amerika itu mengancam sekutu NATO dengan menyatakan mereka akan menghadapi masa depan yang sangat buruk.
Berbicara kepada The Financial Times, yang diterbitkan Senin (16/3/2026), Trump mengatakan bahwa karena Amerika Serikat telah membantu Ukraina dalam perang dengan Rusia, dia mengharapkan negara-negara NATO Eropa untuk membantu Amerika di Selat Hormuz, jalur untuk 20 persen minyak dunia.
Baca Juga: Jenderal Iran Tantang Trump Kirim Kapal Perang AS ke Selat Hormuz
Trump mengeklaim sudah berbicara dengan tujuh negara, tanpa menyebutkannya. "Dalam banyak kasus, mereka adalah negara-negara NATO. Kami selalu ada untuk NATO; kami membantu mereka dengan Ukraina,” katanya.
"Akan menarik untuk melihat negara mana yang tidak akan membantu kami dengan upaya yang sangat kecil untuk menjaga Selat [Hormuz] tetap terbuka," ujarnya.
Ketika ditanya negara mana yang telah menawarkan bantuan, Trump mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakannya dan bahwa AS telah mendapat beberapa tanggapan positif.
"Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," kata Trump.
Dia kembali menegaskan bahwa AS telah menghancurkan Angkatan Laut Iran, tetapi mengatakan: “Hanya dibutuhkan beberapa orang untuk mengacaukan selat, beberapa teroris”.
"Militer mereka telah dikalahkan, tetapi yang Anda butuhkan hanyalah beberapa orang yang menjatuhkan ranjau di sana-sini," imbuh dia.
Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan berencana untuk mengumumkan "koalisi" beberapa negara untuk membantu mengawal kapal-kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz paling cepat minggu ini di tengah melonjaknya harga minyak akibat perang AS dan Israel melawan Iran.
Mengutip pejabat AS, Wall Street Journal melaporkan bahwa diskusi masih berlangsung mengenai kapan operasi Angkatan Laut koalisi yang dipimpin AS akan dimulai di perairan Teluk.
Gedung Putih tidak segera mengeluarkan pernyataan mengenai masalah ini.
Trump, pekan lalu, mengklaim Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal kapal-kapal tanker minyak dan mengatakan Iran ingin bernegosiasi, tetapi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membantah klaim tersebut.
"Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi," kata Araqchi kepada program "Face the Nation" CBS. "Kami siap membela diri selama diperlukan."
Trump juga mengatakan bahwa pertemuan puncak mendatang di Beijing dengan Presiden China Xi Jinping, dapat ditunda karena dia mendesak bantuan Beijing untuk membuka Selat Hormuz.
"Kami ingin tahu sebelum pertemuan puncak," kata Trump, mencatat bahwa China, serta banyak negara Eropa, lebih bergantung daripada Amerika Serikat pada minyak yang mengalir dari Teluk.
"Sangat tepat bahwa orang-orang yang menjadi penerima manfaat dari Selat tersebut akan membantu memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi di sana," kata Trump.
Berbicara kepada The Financial Times, yang diterbitkan Senin (16/3/2026), Trump mengatakan bahwa karena Amerika Serikat telah membantu Ukraina dalam perang dengan Rusia, dia mengharapkan negara-negara NATO Eropa untuk membantu Amerika di Selat Hormuz, jalur untuk 20 persen minyak dunia.
Baca Juga: Jenderal Iran Tantang Trump Kirim Kapal Perang AS ke Selat Hormuz
Trump mengeklaim sudah berbicara dengan tujuh negara, tanpa menyebutkannya. "Dalam banyak kasus, mereka adalah negara-negara NATO. Kami selalu ada untuk NATO; kami membantu mereka dengan Ukraina,” katanya.
"Akan menarik untuk melihat negara mana yang tidak akan membantu kami dengan upaya yang sangat kecil untuk menjaga Selat [Hormuz] tetap terbuka," ujarnya.
Ketika ditanya negara mana yang telah menawarkan bantuan, Trump mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakannya dan bahwa AS telah mendapat beberapa tanggapan positif.
"Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," kata Trump.
Dia kembali menegaskan bahwa AS telah menghancurkan Angkatan Laut Iran, tetapi mengatakan: “Hanya dibutuhkan beberapa orang untuk mengacaukan selat, beberapa teroris”.
"Militer mereka telah dikalahkan, tetapi yang Anda butuhkan hanyalah beberapa orang yang menjatuhkan ranjau di sana-sini," imbuh dia.
Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan berencana untuk mengumumkan "koalisi" beberapa negara untuk membantu mengawal kapal-kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz paling cepat minggu ini di tengah melonjaknya harga minyak akibat perang AS dan Israel melawan Iran.
Mengutip pejabat AS, Wall Street Journal melaporkan bahwa diskusi masih berlangsung mengenai kapan operasi Angkatan Laut koalisi yang dipimpin AS akan dimulai di perairan Teluk.
Gedung Putih tidak segera mengeluarkan pernyataan mengenai masalah ini.
Trump, pekan lalu, mengklaim Angkatan Laut AS akan segera mulai mengawal kapal-kapal tanker minyak dan mengatakan Iran ingin bernegosiasi, tetapi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membantah klaim tersebut.
"Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi," kata Araqchi kepada program "Face the Nation" CBS. "Kami siap membela diri selama diperlukan."
Seruan Trump kepada China
Trump juga mengatakan bahwa pertemuan puncak mendatang di Beijing dengan Presiden China Xi Jinping, dapat ditunda karena dia mendesak bantuan Beijing untuk membuka Selat Hormuz.
"Kami ingin tahu sebelum pertemuan puncak," kata Trump, mencatat bahwa China, serta banyak negara Eropa, lebih bergantung daripada Amerika Serikat pada minyak yang mengalir dari Teluk.
"Sangat tepat bahwa orang-orang yang menjadi penerima manfaat dari Selat tersebut akan membantu memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi di sana," kata Trump.
(mas)
Lihat Juga :