Siapa yang Bisa Melintasi Selat Hormuz? Dari Armada Bayangan hingga Mematikan Sistem Pelacakan

Rabu, 11 Maret 2026 - 15:21 WIB
loading...
A A A
Gangguan GPS kapal terjadi ketika sinyal terganggu, menyebabkan kapal mengirimkan lokasi yang salah.

Mustahil untuk mengetahui secara pasti siapa yang berada di balik gangguan tersebut, tetapi para analis mengatakan kemungkinan besar berasal dari Iran dan pihak lain.

Meskipun Iran secara luas dicurigai mencoba mengganggu pelayaran di wilayah tersebut, para analis mengatakan lonjakan gangguan GPS juga dapat dikaitkan dengan pihak lain, termasuk kapal-kapal yang berupaya menyamarkan pergerakan mereka atau merespons ancaman secara defensif, sehingga sulit untuk mengaitkan gangguan tersebut dengan satu sumber saja.

5. Keselamatan Paling Utama

Penutupan Selat Hormuz juga memiliki implikasi global bagi rute pelayaran komersial. Dua perusahaan terbesar, Maersk dan Mediterranean Shipping Company (MSC), mencakup hampir 30% kapasitas pengiriman kontainer global di dunia.

Kedua perusahaan ini telah menangguhkan pengiriman ke Timur Tengah.

Maersk mengatakan: "Keputusan ini telah diambil sebagai tindakan pencegahan untuk memastikan keselamatan personel dan kapal kami."

Data pelacakan dari MarineTraffic menunjukkan kapal kontainer 'Maersk Cincinnati' mengubah rutenya menjauh dari selat tersebut.

Pada tanggal 2 Maret, data menunjukkan kapal tersebut hampir berbalik arah sekitar pukul 14.00 UTC. Kapal tersebut terus mundur dari area tersebut hingga tanggal 4 Maret, akhirnya kembali ke Pelabuhan Salalah di Oman, menuju Teluk Kutch pada tanggal 10 Maret, di mana kapal tersebut tampak "bermuatan penuh".

Meade mengatakan: "Kami melihat sejumlah kapal berbalik arah. Mereka kemungkinan mendapat perintah untuk melakukan operasi alternatif. Nah, itu tidak masalah bagi kapal-kapal yang menuju Teluk, tetapi bagi kapal-kapal yang sudah berada di sana, mereka pada dasarnya terjebak."
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Berapa Banyak Jumlah...
Berapa Banyak Jumlah Tentara AS yang Tewas selama Perang Iran?
4 Alasan Rakyat AS Marah...
4 Alasan Rakyat AS Marah Besar atas Kematian 2 Tentara dan Kegagalan Melawan Iran
Pakar Militer Israel...
Pakar Militer Israel Akui Iran Berperang Melawan AS seperti Negara Adidaya Modern, Ini 4 Alasannya
2 Tentara AS Tewas Dirudal...
2 Tentara AS Tewas Dirudal Iran, Anggota DPR Iran: Silakan Melarikan Diri
The Wall Street Journal...
The Wall Street Journal Ungkap Kemampuan Rudal Iran Lebih Unggul Dibandingkan Pertahanan Udara AS
Pakar Militer Ini Ungkap...
Pakar Militer Ini Ungkap Psikologi Presiden Trump Lebih Penting Dibandingkan Biaya Politik
AS-Iran Saling Gempur,...
AS-Iran Saling Gempur, Harga Minyak Dunia Melonjak Tembus USD88 per Barel
30 Warga Sipil dan 7...
30 Warga Sipil dan 7 Tentara Iran Tewas dalam Serangan AS
Lagu Kebangsaan Spanyol...
Lagu Kebangsaan Spanyol Tak Punya Lirik, Bagaimana Cara Nyanyinya?
Rekomendasi
Dewan Eropa Tuding FIFA...
Dewan Eropa Tuding FIFA Buka Pintu Kecurangan
Ribuan Warga Mulai Padati...
Ribuan Warga Mulai Padati Nobar Final Piala Dunia 2026 di Lapangan Banteng
VISION+ Perkenalkan...
VISION+ Perkenalkan First Look My Chef in Crime, Sintya Marisca Siap Beraksi
Berita Terkini
Baykar dan Leonardo...
Baykar dan Leonardo Kembangkan Drone MUM-T yang Jadi Andalan Perang Masa Depan
Jenderal Ini Klaim Ukraina...
Jenderal Ini Klaim Ukraina Akan Mengalami Kekalahan, Ini 4 Pemicunya
Berapa Banyak Jumlah...
Berapa Banyak Jumlah Tentara AS yang Tewas selama Perang Iran?
5 Strategi Jitu Tingkatkan...
5 Strategi Jitu Tingkatkan Popularitas, PM Anwar Ibrahim Gunakan Kembaran ala PMX.AI
Pakar Militer Israel...
Pakar Militer Israel Akui Iran Berperang Melawan AS seperti Negara Adidaya Modern, Ini 4 Alasannya
4 Alasan Rakyat AS Marah...
4 Alasan Rakyat AS Marah Besar atas Kematian 2 Tentara dan Kegagalan Melawan Iran
Infografis
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved