6 Alasan Mojtaba Khamenei Dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Senin, 09 Maret 2026 - 12:27 WIB
loading...
A
A
A
2. Sosok Garis Keras dan Kontroversial
Meskipun ulama Syiah berusia 56 tahun ini sebagian besar menjaga profil rendah dan tidak pernah memegang jabatan publik, ia dikenal memiliki pengaruh yang cukup besar dalam struktur kekuasaan Iran yang kompleks, khususnya IRGC.Para pejabat pemerintah menyadari pengaruh Mojtaba yang semakin besar dalam politik pada pertengahan tahun 1990-an. Ia terlihat dikelilingi oleh para pejuang dan komandan IRGC yang telah kembali dari perang Iran-Irak (1980–1988).
3. Ahli Rekayasa
Namun Mojtaba Khamenei menjadi sorotan selama pemilihan presiden 2005, yang menurut para ahli ia rekayasa. Pemimpin tertinggi Iran yang baru itu diduga membantu tokoh yang relatif tidak dikenal dari IRGC, Mahmoud Ahmadinejad, memenangkan pemilihan.Pemilihan 2005 membuat mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani terluka secara politik, meskipun ia memilih untuk tetap diam. Tetapi Mehdi Karroubi, kandidat presiden lainnya dalam pemilihan tersebut, menulis surat terbuka yang menuduh Mojtaba ikut campur dalam pemilihan dan memfasilitasi naiknya Ahmadinejad ke tampuk kekuasaan.
Empat tahun kemudian, Mojtaba menghadapi tuduhan yang sama lagi. Kali ini, terpilihnya kembali Ahmadinejad memicu protes massal di seluruh Iran. Beberapa demonstran, yang menentang gagasan Mojtaba menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi, bahkan meneriakkan "matilah Mojtaba" selama demonstrasi.
Selama bulan-bulan yang penuh gejolak itu, banyak laporan muncul tentang meningkatnya peran Mojtaba dalam menekan apa yang disebut "gerakan hijau."
4. Menguasai Perekonomian Iran
Ada juga laporan tentang dugaan korupsi keuangan Mojtaba. Menurut orang dalam pemerintah, setidaknya 60% ekonomi Iran dioperasikan melalui perusahaan induk dan lembaga di bawah kendali Ali Khamenei — mulai dari Yayasan Mostazafan hingga Komite Bantuan Imam Khomeini dan Markas Besar Konstruksi Khatam al-Anbiya, hingga Astan Quds Razavi. Mojtaba, diduga, mengawasi keuangan tersebut.Menurut investigasi Bloomberg tahun 2026, kepemilikan Mojtaba mencakup real estat bernilai tinggi di London dan Dubai, serta kepentingan yang terkait dengan aset perkapalan, perbankan, dan perhotelan di Eropa. Menurut investigasi tersebut, sebagian besar aset tidak dipegang atas namanya sendiri tetapi distrukturkan melalui perantara dan entitas korporasi berlapis di berbagai yurisdiksi.
Lihat Juga :