Kisah Shah Ismail I Mengubah Iran dari Negeri Sunni Menjadi Syiah
Jum'at, 06 Maret 2026 - 15:04 WIB
loading...
A
A
A
Di sinilah dimulai salah satu proyek transformasi religius terbesar dalam sejarah dunia Islam.
Setelah memproklamasikan negara Safawi, Shah Ismail mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk “men-Syiah-kan” Iran. Salah satu langkah simbolik adalah mengubah azan di seluruh wilayah kekuasaan dengan menambahkan kalimat yang menegaskan kedudukan Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai "sahabat Tuhan".
Selain itu, dia memerintahkan khutbah Jumat menyebut para imam Syiah dan bahkan mendorong penghinaan terhadap tiga khalifah pertama yang dihormati oleh Sunni—Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
Langkah-langkah ini memiliki tujuan jelas: membangun identitas religius baru yang membedakan Iran dari dunia Sunni di sekitarnya.
Proses perubahan mazhab di Iran tidak berlangsung secara damai. Banyak sejarawan mencatat bahwa pemerintahan Safawi menggunakan tekanan politik dan kekerasan untuk memaksakan konversi.
Shah Ismail menugaskan pejabat religius negara untuk menyebarkan doktrin Syiah ke wilayah yang baru ditaklukkan. Ulama Syiah dari Irak, Suriah, dan Lebanon juga diundang untuk membangun lembaga keagamaan baru.
Namun di sisi lain, perlawanan dari masyarakat Sunni sering berakhir dengan represi keras. Catatan sejarah menyebut ribuan Sunni dibunuh di Tabriz ketika terjadi penolakan terhadap kebijakan baru tersebut.
Sejumlah hakim, ulama, dan pejabat Sunni juga dieksekusi setelah kota-kota seperti Shiraz dan Isfahan jatuh ke tangan Safawi.
Metode seperti ini menunjukkan bahwa proses “Syiahisasi” Iran adalah proyek politik negara yang dijalankan secara sistematis.
Setelah memproklamasikan negara Safawi, Shah Ismail mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk “men-Syiah-kan” Iran. Salah satu langkah simbolik adalah mengubah azan di seluruh wilayah kekuasaan dengan menambahkan kalimat yang menegaskan kedudukan Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai "sahabat Tuhan".
Selain itu, dia memerintahkan khutbah Jumat menyebut para imam Syiah dan bahkan mendorong penghinaan terhadap tiga khalifah pertama yang dihormati oleh Sunni—Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
Langkah-langkah ini memiliki tujuan jelas: membangun identitas religius baru yang membedakan Iran dari dunia Sunni di sekitarnya.
Proses perubahan mazhab di Iran tidak berlangsung secara damai. Banyak sejarawan mencatat bahwa pemerintahan Safawi menggunakan tekanan politik dan kekerasan untuk memaksakan konversi.
Shah Ismail menugaskan pejabat religius negara untuk menyebarkan doktrin Syiah ke wilayah yang baru ditaklukkan. Ulama Syiah dari Irak, Suriah, dan Lebanon juga diundang untuk membangun lembaga keagamaan baru.
Namun di sisi lain, perlawanan dari masyarakat Sunni sering berakhir dengan represi keras. Catatan sejarah menyebut ribuan Sunni dibunuh di Tabriz ketika terjadi penolakan terhadap kebijakan baru tersebut.
Sejumlah hakim, ulama, dan pejabat Sunni juga dieksekusi setelah kota-kota seperti Shiraz dan Isfahan jatuh ke tangan Safawi.
Metode seperti ini menunjukkan bahwa proses “Syiahisasi” Iran adalah proyek politik negara yang dijalankan secara sistematis.
Alasan Geopolitik: Melawan Ottoman
Mengapa Shah Ismail mengambil langkah ekstrem ini? Jawabannya tidak hanya terkait agama, tetapi juga geopolitik. Pada awal abad ke-16, dunia Islam didominasi oleh kekuatan Sunni besar seperti Ottoman Empire di Anatolia dan Balkan serta Kesultanan Mamluk di Mesir.Lihat Juga :