Mengapa Rusia dan China Tak Menolong Iran Melawan AS-Israel? Ini Analisisnya
Selasa, 03 Maret 2026 - 09:53 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa negara dalam kelompok OPEC+, termasuk Rusia, mengumumkan pada hari Minggu bahwa mereka akan meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April, karena mereka berupaya untuk mengatasi potensi kekurangan pasokan. Namun demikian, harga minyak yang lebih tinggi tetap menguntungkan Rusia.
“Putin pasti senang, karena apa pun yang menaikkan harga minyak menguntungkannya,” kata Ellen Wald, presiden Transversal Consulting, kepada CNBC pada hari Senin. “Dia pasti bisa mengatakan: jika Anda tidak bisa mendapatkan minyak dari Teluk, hei, kita punya pasokan yang melimpah."
Pembicaraan antara Ukraina dan Rusia yang bertujuan untuk mengakhiri perang empat tahun tampaknya hanya sedikit mengalami kemajuan dalam beberapa minggu terakhir.
“Dia [Putin] jelas senang dengan situasinya, saya kira, meskipun setelah masalah ini terselesaikan, Trump pasti akan mengalihkan perhatiannya ke Putin selanjutnya,” imbuh Wald.
Rusia sering mengambil pendekatan “wait and see (tunggu dan lihat)” terhadap urusan global yang tidak secara langsung berdampak pada kepentingannya. Ketika protes pecah di Iran pada akhir Desember, Rusia tidak memberikan bantuan. Sekarang, Rusia mungkin akan mundur dan mengamati apakah rezim tersebut dapat menahan serangan militer oleh AS dan Israel.
Michael McFaul, profesor Stanford dan mantan duta besar AS untuk Rusia, mengatakan tidak ada jaminan bahwa serangan udara AS dan Israel saja akan cukup untuk mengakhiri rezim di Iran.
“Secara historis, kampanye udara tidak mengarah pada penggulingan rezim. Saya tidak dapat memikirkan satu pun kasus keberhasilan, bahkan intervensi militer dengan pasukan darat [cenderung gagal],” katanya kepada CNBC.
“Saat ini kita mengebom target militer berupa sistem senjata yang ditujukan kepada kita dan mitra serta sekutu kita, kita tidak melenyapkan instrumen militer dan senjata yang digunakan untuk menindas rakyat Iran.”
“Sejauh ini, masih sangat tidak jelas bagaimana kampanye militer ini akan mengarah pada perubahan rezim yang telah dijanjikan Presiden Trump kepada rakyat Iran,” imbuh dia.
“Putin pasti senang, karena apa pun yang menaikkan harga minyak menguntungkannya,” kata Ellen Wald, presiden Transversal Consulting, kepada CNBC pada hari Senin. “Dia pasti bisa mengatakan: jika Anda tidak bisa mendapatkan minyak dari Teluk, hei, kita punya pasokan yang melimpah."
Pembicaraan antara Ukraina dan Rusia yang bertujuan untuk mengakhiri perang empat tahun tampaknya hanya sedikit mengalami kemajuan dalam beberapa minggu terakhir.
“Dia [Putin] jelas senang dengan situasinya, saya kira, meskipun setelah masalah ini terselesaikan, Trump pasti akan mengalihkan perhatiannya ke Putin selanjutnya,” imbuh Wald.
Rusia sering mengambil pendekatan “wait and see (tunggu dan lihat)” terhadap urusan global yang tidak secara langsung berdampak pada kepentingannya. Ketika protes pecah di Iran pada akhir Desember, Rusia tidak memberikan bantuan. Sekarang, Rusia mungkin akan mundur dan mengamati apakah rezim tersebut dapat menahan serangan militer oleh AS dan Israel.
Michael McFaul, profesor Stanford dan mantan duta besar AS untuk Rusia, mengatakan tidak ada jaminan bahwa serangan udara AS dan Israel saja akan cukup untuk mengakhiri rezim di Iran.
“Secara historis, kampanye udara tidak mengarah pada penggulingan rezim. Saya tidak dapat memikirkan satu pun kasus keberhasilan, bahkan intervensi militer dengan pasukan darat [cenderung gagal],” katanya kepada CNBC.
“Saat ini kita mengebom target militer berupa sistem senjata yang ditujukan kepada kita dan mitra serta sekutu kita, kita tidak melenyapkan instrumen militer dan senjata yang digunakan untuk menindas rakyat Iran.”
“Sejauh ini, masih sangat tidak jelas bagaimana kampanye militer ini akan mengarah pada perubahan rezim yang telah dijanjikan Presiden Trump kepada rakyat Iran,” imbuh dia.
(mas)
Lihat Juga :