Wilayahnya Diserbu Rudal Iran, Kapan Negara-negara Arab Ikut Berperang?

Selasa, 03 Maret 2026 - 01:10 WIB
loading...
 Wilayahnya Diserbu...
Wilayahnya diserbu rudal Iran, negara-negara Arab berpikir kapan ikut perang. Foto/X/@Tasawar_shah5
A A A
TEHERAN - Ketika rudal Iran menghantam Doha, Dubai, dan Manama pada akhir pekan, rudal tersebut menghancurkan lebih dari sekadar kaca dan beton – rudal tersebut juga merupakan pukulan bagi citra negara-negara Teluk yang telah dipupuk dengan hati-hati sebagai oasis stabilitas, terisolasi dari krisis dan konflik di seluruh Timur Tengah.

Kini, negara-negara di kawasan itu menghadapi apa yang digambarkan para analis sebagai pilihan yang mustahil: membalas dan berisiko dianggap berperang bersama Israel, atau tetap pasif sementara kota-kota mereka terbakar.

“Bagi masyarakat dan para pemimpin politik di sini, melihat Manama, Doha, dan Dubai dibom sama aneh dan tak terbayangkannya seperti melihat Charlotte, Seattle, atau Miami dibom bagi orang Amerika,” kata Monica Marks, seorang profesor politik Timur Tengah di Universitas New York Abu Dhabi, kepada Al Jazeera.

Serangan itu terjadi ketika Iran membalas serangan gabungan besar-besaran AS-Israel yang dimulai pada hari Sabtu. Operasi tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan para pemimpin militer senior lainnya, serta menghantam situs militer dan pemerintah di seluruh Iran. Sebuah sekolah juga terkena serangan, dan setidaknya 148 orang tewas dalam serangan itu saja.

Teheran membalas dengan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan aset militer AS di seluruh Teluk, menewaskan setidaknya tiga orang di Uni Emirat Arab (UEA), di mana setidaknya 58 orang terluka hingga Minggu malam. Rudal—atau puing-puing setelah dicegat—menghantam gedung-gedung penting dan bandara di Dubai, gedung-gedung tinggi di Manama, dan bandara Kuwait, dengan asap juga terlihat mengepul dari beberapa lingkungan di Doha. Arab Saudi mengatakan Iran juga menyerang Riyadh dan wilayah timurnya. Qatar mengatakan 16 orang terluka di wilayahnya, sementara lima orang terluka di Oman, 32 di Kuwait, dan empat di Bahrain.

Wilayahnya Diserbu Rudal Iran, Kapan Negara-negara Arab Ikut Berperang?

1. Tidak Ingin Konfrontasi

Negara-negara Teluk tidak menginginkan konfrontasi ini. Dalam beberapa minggu menjelang serangan itu, Oman telah menjadi mediator dalam pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran, dengan Menteri Luar Negeri Badr Albusaidi menyatakan bahwa perdamaian "sudah di depan mata" setelah Iran setuju untuk tidak pernah menimbun uranium yang diperkaya dan untuk secara drastis mengurangi kadar uranium yang diperkaya yang sudah ada.

Namun, beberapa jam kemudian, AS dan Israel meluncurkan rudal.

“Negara-negara GCC [Dewan Kerja Sama Teluk] telah melihat perang ini akan terjadi secara perlahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, dan telah mengerahkan upaya besar untuk menghentikannya,” kata Marks.

Mereka tahu, tambahnya, bahwa rezim Iran yang terpojok akan "memilih pembunuhan saudara daripada bunuh diri", menjadikan negara-negara tetangganya di Teluk sebagai sandera daripada menerima kekalahan.


2. Tak Mau Disebut Bekerja Sama dengan Israel

Rob Geist Pinfold, seorang dosen di King’s College London, setuju bahwa negara-negara Teluk telah berusaha keras untuk mencegah aksi militer.

“Negara-negara GCC tidak menginginkan perang ini. Mereka mencoba melobi untuk menentangnya,” katanya kepada Al Jazeera. Dengan latar belakang itu, katanya, prospek bahwa mereka mungkin bergabung dalam perang — dan dipandang sebagai “bekerja sama dengan Israel” — merupakan tantangan besar bagi legitimasi mereka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel
Presiden Iran Klaim...
Presiden Iran Klaim Teheran Keluar sebagai Pemenang, Ini Alasan Utamanya
Bagaimana Perdamaian...
Bagaimana Perdamaian Iran dan AS Membentuk Arsitektur Timur Tengah yang Baru?
Israel Tak Akan Mundur...
Israel Tak Akan Mundur dari Suriah, Gaza dan Lebanon
Dunia Sambut Positif...
Dunia Sambut Positif Perdamaian AS dan Iran, Hanya Israel yang Marah
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Presiden Jerman Akan...
Presiden Jerman Akan Kunjungi Jakarta 15 Juni, Boyong Delegasi Bisnis dan Peneliti
Masih Trauma, Iran Belum...
Masih Trauma, Iran Belum Percaya kepada AS meski Segera Teken Perjanjian Damai
Rekomendasi
Pahlawan Cape Verde...
Pahlawan Cape Verde di Piala Dunia 2026 Menangis, Ibunya Ditolak Masuk Amerika Serikat
Ini Prinsip Dasar Manajemen...
Ini Prinsip Dasar Manajemen Risiko yang Wajib Dipahami Setiap Trader Forex
Bek Arab Saudi Abdulelah...
Bek Arab Saudi Abdulelah al-Amri Koyak Gawang Uruguay di Babak Pertama
Berita Terkini
Ini Alasan Trump Puji...
Ini Alasan Trump Puji Putin dan Xi Jinping atas Kesepakatan Damai AS-Iran
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel
Presiden Belarusia:...
Presiden Belarusia: Lobi Yahudi Menipu Putin
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh di Pangkalan California, 8 Orang Tewas
4 Fakta Memalukan Keluarga...
4 Fakta Memalukan Keluarga Kerajaan Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara karena Pemerkosaan
Pesawat Pengebom Strategis...
Pesawat Pengebom Strategis Tu-22M3 Rusia Jatuh saat Latihan Penerbangan, Apakah Ada Sabotase?
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved