AS Tuduh China Tingkatkan Persenjataan Nuklir secara Besar-besaran

Selasa, 24 Februari 2026 - 07:38 WIB
loading...
AS Tuduh China Tingkatkan...
Amerika Serikat menuduh China meningkatkan persenjataan nuklirnya secara besar-besaran. Foto/Global Times
A A A
JENEWA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menuduh China meningkatkan persenjataan nuklirnya secara besar-besaran. Washington juga kembali menegaskan klaim bahwa Beijing telah melakukan uji coba ledakan nuklir rahasia, menuntut agar raksasa Asia tersebut menjadi bagian dari perjanjian kontrol senjata di masa mendatang.

Washington mengatakan berakhirnya Perjanjian New START awal bulan ini—perjanjian terakhir antara kekuatan nuklir utama; Amerika Serikat dan Rusia—memberikan kemungkinan untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik, termasuk melibatkan Beijing.

China secara terbuka menolak seruan untuk memasuki negosiasi perjanjian tiga pihak yang baru.

Baca Juga: Horor, Rusia Akan Bidikkan Senjata Nuklirnya ke Negara NATO Ini Jika...

Christopher Yeaw, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi, mengatakan kepada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa bahwa Perjanjian New START memiliki kekurangan serius.

"Mungkin kekurangan terbesarnya adalah bahwa New START tidak memperhitungkan peningkatan senjata nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan oleh China," katanya.

"Terlepas dari klaimnya yang bertentangan, China dengan sengaja dan tanpa batasan, telah memperluas persenjataan nuklirnya secara besar-besaran tanpa transparansi atau indikasi apa pun tentang niat atau tujuan akhir China," lanjut Yeaw.

"Kami percaya China mungkin mencapai kesetaraan dalam empat atau lima tahun ke depan," paparnya, tanpa menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan kesetaraan.

Baik Rusia maupun Amerika Serikat memiliki lebih dari 5.000 senjata nuklir, menurut kelompok koalisi sipil global anti-senjata nuklir, ICAN, yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian.

Namun, Perjanjian New START, yang berakhir pada 5 Februari, membatasi Amerika Serikat dan Rusia masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan—angka yang menurut Washington dengan cepat didekati oleh China.

"Beijing berada di jalur yang tepat untuk memiliki bahan fisil yang diperlukan untuk lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030," kata Yeaw.

Berakhirnya Perjanjian New START menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian untuk membatasi penempatan senjata paling destruktif di planet ini, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.

Yeaw menyambut baik berakhirnya perjanjian tersebut, dengan menegaskan bahwa batasan jumlah hulu ledak nuklir dan peluncur tidak lagi relevan, mengingat dugaan pelanggaran perjanjian oleh Rusia.

Dia juga menuduh Moskow membantu meningkatkan kemampuan Beijing untuk menambah ukuran persenjataan nuklirnya.

"Berakhirnya perjanjian ini terjadi pada waktu yang tepat," katanya, menegaskan bahwa hal itu akan memungkinkan Presiden AS Donald Trump untuk mendorong tujuan utamanya, yaitu perjanjian yang lebih baik.

"Berakhirnya perjanjian dan tidak adanya perjanjian pengendalian senjata nuklir saat ini tidak berarti Amerika Serikat meninggalkan atau mengabaikan pengendalian senjata," katanya. "Justru sebaliknya," sambung dia.

"Tujuan kami adalah perjanjian yang lebih baik menuju dunia dengan lebih sedikit senjata nuklir," imbuh dia, seperti dikutip AFP, Selasa (24/2/2026).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Menteri Israel Kecam...
Menteri Israel Kecam AS karena Berdamai dengan Iran: Perilaku Tak Baik!
Rekomendasi
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan di Posisi Rp2.655.000 per Gram, Saatnya Beli?
Makanan Panas Disantap...
Makanan Panas Disantap dengan Sendok Plastik, Apa Dampaknya bagi Tubuh?
Berita Terkini
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
Demi Lindungi Negara-negara...
Demi Lindungi Negara-negara Arab, AS Janjikan Perdamaian Abadi dengan Iran
Seluruh WNI di Venezuela...
Seluruh WNI di Venezuela Aman, Gedung KBRI di Caracas Tidak Rusak
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved