Hamas Segera Miliki Pemimpin Baru, Siapa Kandidat Terkuat?
Senin, 23 Februari 2026 - 17:30 WIB
loading...
A
A
A
Meshaal, yang memimpin biro politik dari tahun 2004 hingga 2017, tidak pernah tinggal di Gaza. Ia lahir di Tepi Barat pada tahun 1956.
Ia bergabung dengan Hamas di Kuwait dan kemudian tinggal di Yordania, Suriah, dan Qatar. CEP mengatakan ia mengawasi evolusi Hamas menjadi hibrida politik-militer.
Saat ini ia memimpin kantor diaspora gerakan tersebut.Baca Juga: Siapa El Mencho? Pemimpin Kartel Paling Kejam yang Ditakuti Meksiko dan AS
Bulan lalu, sebuah sumber Hamas mengatakan kepada AFP bahwa al-Hayya menikmati dukungan dari sayap bersenjata kelompok tersebut, Brigade Ezzedine Al-Qassem.
Setelah Israel membunuh mantan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli 2024, kelompok tersebut memilih kepala Hamas Gaza saat itu, Yahya Sinwar, sebagai penggantinya.
Israel menuduh Sinwar sebagai dalang serangan 7 Oktober.
Ia juga tewas di tangan pasukan Israel di kota Rafah, Gaza selatan, tiga bulan setelah pembunuhan Haniyeh.
Hamas kemudian memilih komite kepemimpinan sementara beranggotakan lima orang yang berbasis di Qatar, menunda pengangkatan pemimpin tunggal hingga pemilihan umum, mengingat risiko pemimpin baru tersebut menjadi sasaran Israel.
Ia bergabung dengan Hamas di Kuwait dan kemudian tinggal di Yordania, Suriah, dan Qatar. CEP mengatakan ia mengawasi evolusi Hamas menjadi hibrida politik-militer.
Saat ini ia memimpin kantor diaspora gerakan tersebut.Baca Juga: Siapa El Mencho? Pemimpin Kartel Paling Kejam yang Ditakuti Meksiko dan AS
Bulan lalu, sebuah sumber Hamas mengatakan kepada AFP bahwa al-Hayya menikmati dukungan dari sayap bersenjata kelompok tersebut, Brigade Ezzedine Al-Qassem.
Setelah Israel membunuh mantan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli 2024, kelompok tersebut memilih kepala Hamas Gaza saat itu, Yahya Sinwar, sebagai penggantinya.
Israel menuduh Sinwar sebagai dalang serangan 7 Oktober.
Ia juga tewas di tangan pasukan Israel di kota Rafah, Gaza selatan, tiga bulan setelah pembunuhan Haniyeh.
Hamas kemudian memilih komite kepemimpinan sementara beranggotakan lima orang yang berbasis di Qatar, menunda pengangkatan pemimpin tunggal hingga pemilihan umum, mengingat risiko pemimpin baru tersebut menjadi sasaran Israel.
(ahm)
Lihat Juga :