Trump Ultimatum Iran: Buat Kesepakatan dalam 10 Hari atau AS Ambil Tindakan Militer!

Jum'at, 20 Februari 2026 - 05:46 WIB
loading...
Trump Ultimatum Iran:...
Presiden AS Donald Trump ultimatum Iran untuk membuat kesepakatan dalam 10 hari atau Amerika akan mengambil tindakan militer. Foto/New York Post
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengultimatum Iran untuk membuat kesepakatan tentang program nuklir Teheran dalam 10 hari. Jika tidak, Amerika akan mengambil tindakan militer.

Ultimatum ini disampaikan Trump dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian di Washington DC pada hari Kamis, sebagaimana dikutip dari BBC, Jumat (20/2/2026).

Baca Juga: 7 Hal yang Akan Terjadi Jika Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS

Trump mengatakan negosiasi dengan Teheran baik, tetapi secara historis sulit. "Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir," tegas Trump.

"Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," katanya. "Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam sepuluh hari ke depan," imbuh Trump.

Dalam beberapa hari terakhir, AS telah meningkatkan pasukan militer ke Timur Tengah. Itu termasuk kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln dan kelompok serang kapal induk USS Gerald R. Ford—yang sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah.

Dalam pidatonya, Trump mencatat bahwa Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner—yang juga menantu Trump—telah mengadakan beberapa pertemuan yang sangat baik dengan Iran.

"Terbukti, selama bertahun-tahun, tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran," katanya. "Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi."

Sehari sebelumnya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memperingatkan bahwa Iran akan sangat bijaksana untuk membuat kesepakatan dengan AS, menambahkan bahwa Trump masih berharap untuk solusi diplomatik atas program nuklir Teheran.

Rudal dan pesawat AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu, dan Gedung Putih dilaporkan sedang membahas opsi serangan baru minggu ini.

Sementara itu, citra satelit juga menunjukkan bahwa Iran telah memperkuat fasilitas militernya. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga telah mengunggah pesan di media sosial yang berisi ancaman terhadap pasukan AS.

"Presiden AS terus-menerus mengatakan bahwa AS telah mengirim kapal perang ke arah Iran. Tentu saja, kapal perang adalah peralatan militer yang berbahaya," bunyi salah satu unggahan Khamenei.

"Namun, yang lebih berbahaya daripada kapal perang itu adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal perang itu ke dasar laut," lanjut dia.

Beberapa anggota Kongres AS telah menyatakan penentangan terhadap tindakan militer apa pun terhadap Iran.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat; Ro Khanna, dan dari Partai Republik; Thomas Massie, mengatakan mereka akan mencoba memaksa pemungutan suara mengenai masalah ini minggu depan, dengan mengutip Undang-Undang Kekuatan Perang tahun 1973.

Undang-undang tersebut memberi Kongres kemampuan untuk mengendalikan kekuasaan presiden yang melibatkan AS dalam konflik bersenjata.

"Perang dengan Iran akan menjadi malapetaka," tulis Khanna di media sosial. "Iran adalah masyarakat kompleks dengan 90 juta penduduk dengan pertahanan udara dan kemampuan militer yang signifikan," lanjut dia.

Dia juga mengatakan ribuan pasukan AS di wilayah tersebut dapat berisiko terkena pembalasan.

Peluang pengesahan di kedua kamar Kongres tidak kuat.

Pada bulan Januari, Partai Republik di Senat memblokir resolusi kekuatan perang serupa yang akan mengharuskan pemerintahan Trump untuk mendapatkan persetujuan Kongres sebelum meluncurkan operasi militer lebih lanjut di Venezuela setelah penangkapan Nicolas Maduro.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Rudal AGM-188A Rusty...
Rudal AGM-188A Rusty Dagger, Membentuk Masa Depan Medan Perang
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Kalahkan Jerman di Piala...
Kalahkan Jerman di Piala Dunia, Paraguay Umumkan Hari Libur Nasional
Rekomendasi
Tumbangkan Jerman, Paraguay...
Tumbangkan Jerman, Paraguay Rayakan dengan Libur Nasional
Nasib IHSG Siang Ini,...
Nasib IHSG Siang Ini, Babak Belur Tergelincir 2,42% ke 5.679
RGI dan NNA Jalin Kemitraan,...
RGI dan NNA Jalin Kemitraan, Perluas Distribusi SKT ke Wilayah Baru
Berita Terkini
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved