10 Negara Paling Rentan Penipuan Digital, Indonesia Nomor 2 Dunia

Selasa, 17 Februari 2026 - 22:14 WIB
loading...
10 Negara Paling Rentan...
Penipuan online marak di dunia. Foto/aragon research
A A A
JAKARTA - Transformasi digital yang melesat dalam satu dekade terakhir memang membawa banyak kemudahan. Transaksi keuangan kini serba cepat, verifikasi identitas bisa dilakukan dalam hitungan detik, dan layanan publik makin efisien. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul ancaman besar yang tak kalah cepat berkembang: penipuan digital.

Laporan Sumsub bertajuk Global Fraud Index 2025 mengungkap sisi gelap percepatan digital global. Alih-alih sepenuhnya meningkatkan keamanan, digitalisasi justru membuka celah baru bagi kejahatan siber di banyak negara.

Indeks ini memetakan tingkat kerentanan penipuan digital di lebih dari 100 negara dengan mempertimbangkan sejumlah indikator, mulai dari aktivitas fraud, kesiapan teknologi, intervensi pemerintah, hingga kondisi ekonomi domestik.

Hasilnya cukup mengejutkan. Negara-negara di Asia dan Afrika mendominasi daftar paling rentan terhadap penipuan digital. Faktor yang menjadi benang merah adalah pesatnya adopsi teknologi yang tidak diimbangi sistem perlindungan digital yang memadai.

Berikut 10 negara paling rentan terhadap penipuan digital di dunia pada 2025.

1. Pakistan


Pakistan kembali menempati peringkat pertama sebagai negara paling rentan terhadap penipuan digital. Laporan menyebutkan kelemahan sistem verifikasi identitas menjadi titik rawan utama.

Rendahnya literasi digital masyarakat, maraknya pemalsuan dokumen, serta lemahnya integrasi database nasional membuat pelaku fraud relatif mudah beroperasi.

Pakistan juga disebut sebagai salah satu titik penting jaringan penipuan lintas negara, terutama untuk fraud keuangan, pencucian uang digital, serta praktik identitas sintetis—yakni identitas palsu yang dirancang menyerupai data asli.

Kombinasi tekanan ekonomi dan lemahnya pengawasan memperparah risiko tersebut.

2. Indonesia


Indonesia berada di posisi kedua paling rentan secara global. Skor kerentanannya tergolong sangat tinggi, mencerminkan masifnya aktivitas kejahatan digital di tengah pertumbuhan ekonomi digital yang pesat.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi salah satu pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Nilai transaksi e-commerce, fintech, hingga dompet digital tumbuh signifikan. Namun, perlindungan digital dinilai belum sepenuhnya seimbang dengan laju adopsi teknologi.

Faktor pendorong kerentanan Indonesia antara lain: Maraknya penipuan online dan akun palsu; Lonjakan kejahatan finansial berbasis digital; Pemanfaatan kecerdasan buatan dan teknologi deepfake oleh pelaku fraud; Lemahnya kesadaran keamanan siber di tingkat pengguna.

Laporan tersebut menyebut Indonesia sebagai “pasar besar dengan sistem keamanan yang belum sepenuhnya matang.” Tantangan terbesar adalah memperkuat sistem verifikasi identitas digital dan meningkatkan literasi keamanan siber masyarakat.

3. Nigeria


Nigeria menjadi salah satu negara Afrika paling rawan penipuan digital. Negara ini memang telah lama dikenal memiliki jaringan fraud lintas batas yang menyasar korban internasional.

Tingginya ekonomi informal, lemahnya pengawasan transaksi digital, serta kemudahan akses ke platform global membuat praktik penipuan online berkembang. Modus yang kerap muncul meliputi penipuan investasi, romance scam, hingga email fraud.

Kondisi ekonomi domestik yang belum stabil juga menjadi faktor pendorong.

4. India


Sebagai negara dengan populasi lebih dari satu miliar jiwa dan ekosistem digital yang sangat luas, India menghadapi tantangan kompleks dalam mengendalikan penipuan digital.

Meski teknologi berkembang pesat dan infrastruktur digital diperluas, celah regulasi dan pengawasan masih dimanfaatkan pelaku kejahatan. Laporan mencatat India sebagai salah satu negara dengan volume dan variasi modus penipuan tertinggi.

Pertumbuhan fintech dan pembayaran digital yang sangat cepat membuat sistem harus bekerja ekstra dalam mendeteksi transaksi mencurigakan secara real-time.

5. Tanzania


Tanzania masuk lima besar negara paling rentan akibat keterbatasan sistem keamanan digital. Digitalisasi yang berkembang cepat—terutama dalam layanan keuangan berbasis ponsel—tidak sepenuhnya diimbangi proteksi siber yang memadai.

Minimnya intervensi pemerintah dalam membangun sistem deteksi penipuan modern serta rendahnya investasi pada keamanan data memperbesar celah eksploitasi.

6. Uganda


Uganda menunjukkan tren peningkatan signifikan kasus penipuan digital dalam beberapa tahun terakhir. Kurangnya teknologi verifikasi identitas yang kuat serta lemahnya koordinasi antar-lembaga membuat upaya pencegahan kurang efektif.

Fraud berbasis dokumen dan pencurian identitas menjadi modus yang cukup dominan. Tanpa penguatan regulasi dan peningkatan kapasitas pengawasan, risiko diperkirakan terus meningkat.

7. Bangladesh


Bangladesh mengalami lonjakan penipuan digital seiring pertumbuhan layanan keuangan digital dan mobile banking. Transformasi digital yang agresif belum sepenuhnya didukung sistem deteksi canggih.

Negara ini rentan terhadap pemalsuan identitas, pembobolan akun finansial, serta penipuan transaksi online. Rendahnya literasi keamanan siber di kalangan pengguna menjadi faktor tambahan.

8. Rwanda


Rwanda dikenal sebagai salah satu negara Afrika yang agresif dalam digitalisasi layanan publik. Namun, percepatan tersebut juga menciptakan celah baru.

Menurut laporan, Rwanda termasuk negara yang rawan terhadap fraud berbasis dokumen digital. Ketergantungan pada sistem identitas elektronik tanpa lapisan proteksi tambahan meningkatkan risiko eksploitasi.

9. Azerbaijan


Azerbaijan masuk daftar karena lemahnya pengawasan terhadap transaksi lintas platform digital. Minimnya sistem anti-fraud terintegrasi membuat deteksi aktivitas mencurigakan belum optimal.

Kurangnya harmonisasi regulasi antara sektor keuangan dan teknologi memperbesar potensi penyalahgunaan sistem.

10. Sri Lanka


Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil memperbesar risiko penipuan digital di Sri Lanka. Tekanan finansial masyarakat kerap dimanfaatkan pelaku untuk menjalankan modus investasi palsu maupun penipuan berbasis pinjaman online.

Penipuan meningkat seiring lemahnya kontrol digital dan terbatasnya sumber daya untuk pengawasan siber.

Baca juga: Ngeri, Perang Masa Depan Sedang Dirancang di Israel, Senator AS Bongkar Rahasia
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Permainan Lincah Pakistan...
Permainan Lincah Pakistan dalam Mendamaikan AS dan Iran, Ini 4 Rahasianya
Viral! 3 PRT Indonesia...
Viral! 3 PRT Indonesia Dianiaya di Malaysia, 4 Majikan Ditangkap
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Harga Minyak Dunia Naik,...
Harga Minyak Dunia Naik, Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Belum Pulih
Rekomendasi
Marc Marquez Juara MotoGP...
Marc Marquez Juara MotoGP Republik Ceko 2026
Malam Ini Roy Suryo...
Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, Besok Dilimpahkan ke Jaksa
PWN 2026 Resmi Digelar...
PWN 2026 Resmi Digelar di JICC, Diikuti 15 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
Berita Terkini
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
Selain Ingin Perang...
Selain Ingin Perang di Lebanon Berakhir, Iran Klaim Tak Ingin Kembangkan Senjata Nuklir
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved