Jenderal Top Iran: Perang Baru Akan Jadi Pelajaran Keras bagi Trump!
Senin, 16 Februari 2026 - 08:16 WIB
loading...
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi memperingatkan bahwa perang baru dengan AS akan jadi pelajaran keras bagi Presiden AS Donald Trump. Foto/presstv.ir
A
A
A
TEHERAN - Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi memperingatkan bahwa perang baru dengan Washington akan menjadi pelajaran keras bagi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
“Trump harus tahu bahwa dia akan memasuki konfrontasi yang memberikan pelajaran keras, yang hasilnya akan memastikan bahwa dia tidak lagi meneriakkan ancaman di seluruh dunia,” kata Mousavi pada hari Minggu, sebagaimana dikutip dari TRT World, Senin (16/2/2026).
Baca Juga: Ini Analisis Skenario Terburuk Israel Jika Iran Tembakkan Seluruh Rudalnya dalam Perang Habis-habisan
Dia menambahkan bahwa pernyataan presiden Amerika Serikat, yang mengeklaim sebagai negara adidaya, adalah "ceroboh" dan "tidak pantas untuk seorang presiden".
Jenderal top Iran itu juga meragukan retorika perang Trump, dengan bertanya: "Jika Trump benar-benar berniat untuk berperang, mengapa dia berbicara tentang negosiasi?"
Peringatan Mousavi muncul setelah berbulan-bulan retorika yang meningkat dari Presiden Trump, yang berulang kali mengancam tindakan militer terhadap Iran.
Trump telah mengerahkan pasukan militer AS ke Timur Tengah, termasuk kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln, meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan tindakan militer baru.
Para pejabat AS mengatakan pada hari Jumat bahwa Pentagon sedang mengirimkan kapal induk tambahan, USS Gerald R. Ford, ke wilayah tersebut, menambah ribuan pasukan lagi bersama dengan pesawat tempur dan kapal perusak rudal.
Pada akhir Januari, Trump berbicara tentang armada kapal perang lainnya yang menuju Iran dan mengeklaim bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi jauh lebih buruk daripada serangan Juni terhadap fasilitas nuklir Iran.
Namun, organisasi anti-perang memperingatkan bahwa konfrontasi lain akan membawa malapetaka, dengan menunjuk perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025—yang kemudian diikuti AS—sebagai contoh yang jelas.
Pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan terhadap situs sipil, militer, dan nuklir Iran, menewaskan komandan senior dan ilmuwan nuklir pada jam-jam awal serangan.
Pada 6 Februari, Iran dan Amerika Serikat mengadakan putaran baru negosiasi nuklir tidak langsung di ibu kota Oman, Muscat.
Putaran kedua pembicaraan antara delegasi Iran dan Amerika dijadwalkan akan berlangsung di Jenewa pada hari Selasa, dengan perwakilan dari Oman bertindak sebagai mediator.
“Trump harus tahu bahwa dia akan memasuki konfrontasi yang memberikan pelajaran keras, yang hasilnya akan memastikan bahwa dia tidak lagi meneriakkan ancaman di seluruh dunia,” kata Mousavi pada hari Minggu, sebagaimana dikutip dari TRT World, Senin (16/2/2026).
Baca Juga: Ini Analisis Skenario Terburuk Israel Jika Iran Tembakkan Seluruh Rudalnya dalam Perang Habis-habisan
Dia menambahkan bahwa pernyataan presiden Amerika Serikat, yang mengeklaim sebagai negara adidaya, adalah "ceroboh" dan "tidak pantas untuk seorang presiden".
Jenderal top Iran itu juga meragukan retorika perang Trump, dengan bertanya: "Jika Trump benar-benar berniat untuk berperang, mengapa dia berbicara tentang negosiasi?"
Peringatan Mousavi muncul setelah berbulan-bulan retorika yang meningkat dari Presiden Trump, yang berulang kali mengancam tindakan militer terhadap Iran.
Trump telah mengerahkan pasukan militer AS ke Timur Tengah, termasuk kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln, meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan tindakan militer baru.
Para pejabat AS mengatakan pada hari Jumat bahwa Pentagon sedang mengirimkan kapal induk tambahan, USS Gerald R. Ford, ke wilayah tersebut, menambah ribuan pasukan lagi bersama dengan pesawat tempur dan kapal perusak rudal.
Pada akhir Januari, Trump berbicara tentang armada kapal perang lainnya yang menuju Iran dan mengeklaim bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi jauh lebih buruk daripada serangan Juni terhadap fasilitas nuklir Iran.
Namun, organisasi anti-perang memperingatkan bahwa konfrontasi lain akan membawa malapetaka, dengan menunjuk perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025—yang kemudian diikuti AS—sebagai contoh yang jelas.
Pada 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan terhadap situs sipil, militer, dan nuklir Iran, menewaskan komandan senior dan ilmuwan nuklir pada jam-jam awal serangan.
Pada 6 Februari, Iran dan Amerika Serikat mengadakan putaran baru negosiasi nuklir tidak langsung di ibu kota Oman, Muscat.
Putaran kedua pembicaraan antara delegasi Iran dan Amerika dijadwalkan akan berlangsung di Jenewa pada hari Selasa, dengan perwakilan dari Oman bertindak sebagai mediator.
(mas)
Lihat Juga :