Komandan Skuadron Yunani Ditangkap karena Bocorkan Rencana Rahasia NATO kepada China

Jum'at, 13 Februari 2026 - 11:01 WIB
loading...
Komandan Skuadron Yunani...
Kolonel Christos Flessas, komandan skuadron Angkatan Udara Yunani, ditangkap karena bocorkan rencana rahasia militer NATO kepada China. Foto/X@bartueken7
A A A
ATHENA - Seorang komandan skuadron Angkatan Udara Yunani telah ditangkap dan ditahan atas tuduhan spionase setelah membocorkan rencana militer NATO yang sangat rahasia kepada China. Pengkhianatan ini dilakukan demi imbalan uang tunai.

Komandan bernama Kolonel Christos Flessas (54) itu menghadapi hukuman penjara seumur hidup jika terbukti bersalah.

Flessas menggambarkan dirinya secara online sebagai seorang perwira telekomunikasi yang sangat berpengalaman dengan akreditasi NATO. Dia telah muncul di pengadilan pada Selasa lalu setelah penangkapannya pada 5 Februari di pangkalan militer di lingkungan Kavouri, Patras, Yunani barat, tempat dia memimpin skuadron pelatihan.

Baca Juga: AS Cari Gara-gara, CIA Bujuk Perwira Militer China Jadi Informan

Menurut laporan media-media Yunani, badan mata-mata setempat—Dinas Intelijen Nasional—telah menghabiskan empat bulan untuk mengungkap kasus Flessas. Kasus ini dikembangkan setelah dinas tersebut mendapat informasi dari Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat.

Ini adalah kasus spionase terbaru dalam serangkaian kasus yang diungkapkan oleh pemerintah Eropa dalam beberapa minggu terakhir, tetapi terdakwa termasuk di antara perwira militer paling senior yang dituduh bertindak sebagai agen intelijen China.

Sebagai komandan skuadron, Flessas memiliki akses ke informasi rahasia termasuk pergerakan pesawat Yunani, Amerika Serikat, dan NATO. Angkatan Udara AS mengoperasikan drone MQ-9 Reaper dari pangkalan udara Larissa di timur Yunani.

Flessas mengeklaim dirinya adalah korban jebakan. Angkatan Bersenjata Yunani, yang telah menskorsnya selama 18 bulan sambil menunggu persidangan, mengatakan ada bukti jelas pelanggaran yang melibatkan kolonel Angkatan Udara tersebut.

Flessas diyakini telah direkrut oleh seseorang yang pertama kali menghubunginya melalui profil LinkedIn-nya, menurut laporan media Yunani; Realnews. Keduanya bertemu di sela-sela konferensi NATO di Eropa dan Flessas kemudian diberi sebuah perangkat yang dapat digunakannya untuk memotret, mengenkripsi, dan mengirimkan informasi sensitif kepada kontak-kontaknya di Beijing.

Menurut laporan tersebut, dia ditawari uang tunai per pesan dalam mata uang asing, termasuk pembayaran digital hingga USD17.500. Di pengadilan, Flessas mengakui tuduhan tersebut, tetapi mengatakan bahwa dia dipaksa melakukan spionase selama perjalanan pribadi ke China pada tahun 2024.

“Tanpa disadari dan tanpa niat, saya terlibat dalam sesuatu yang berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi mimpi buruk, berbahaya, dan ilegal," kata Flessas dalam pernyataan yang disampaikan melalui pengacaranya, sebagaimana dikutip Newsweek, Jumat (13/2/2026).

Di LinkedIn, Flessas menggambarkan tiga dekade pengalaman yang kaya sebagai perwira di Angkatan Udara Yunani dan minatnya dalam mengeksplorasi dampak keamanan siber pada sektor industri, infrastruktur kritis, telekomunikasi, keuangan, penerbangan, dan maritim.

Flessas memimpin Skuadron Pelatihan Telekomunikasi dan Elektronik ke-128 pada saat penangkapannya, yang terjadi sebelum dia mengirimkan paket besar data rahasia NATO.

Media Yunani lainnya, ERT, melaporkan bahwa dinas intelijen juga sedang mencari seorang wanita yang mungkin merupakan penanggung jawab senior dalam jaringan mata-mata tersebut. Individu tersebut dilaporkan adalah seorang warga sipil.

Sekadar diketahui, badan intelijen Norwegia pada 2024 telah memperingatkan bahwa China mengoperasikan jaringan mata-mata canggih di seluruh Eropa, dibantu oleh aktor sipil China seperti diplomat, delegasi perjalanan, individu swasta, bisnis, dan kelompok kepentingan khusus.

Laura Harth, direktur China in the World di organisasi nirlaba Safeguard Defenders, mengatakan kepada Newsweek: "Baik dari perspektif hukum maupun praktis, upaya [Partai Komunis China] untuk mengumpulkan intelijen, memengaruhi, atau mengganggu negara-negara berdaulat lainnya pada dasarnya terjalin dalam setiap interaksi di bidang politik, ekonomi, akademis, budaya, dan bahkan (pseudo-)agama."

Nicholas Eftimiades, seorang pensiunan perwira intelijen AS yang mengajar di Penn State Harrisburg, mengatakan kepada surat kabar The Guardian: “[Ini] signifikan karena menunjukkan keinginan dan kemampuan China untuk menembus infrastruktur komunikasi militer Yunani dan anggota NATO lainnya. Negara-negara memata-matai militer negara lain untuk memberi mereka keuntungan dalam perang. Terlepas dari semua pernyataan persahabatan dan keterlibatan ekonomi, China terus berkembang sebagai ancaman bagi demokrasi di seluruh dunia.”

Menurut laporan Pew Research, hubungan antara Yunani dan China sebagian besar positif, dengan jajak pendapat tahunan opini publik Yunani sering menemukan pandangan yang lebih baik terhadap China daripada terhadap Amerika Serikat.

Sementara itu, di Jerman pada hari Rabu, seorang warga negara AS yang menawarkan untuk memberikan rahasia militer kepada China dijatuhi hukuman dua tahun delapan bulan.

Pekan lalu, pihak berwenang di Prancis barat daya menangkap dua tersangka mata-mata China yang telah mendirikan stasiun penyadap di sebuah rumah yang disewa melalui Airbnb.

Polisi Federal Australia pekan ini mengumumkan dakwaan terhadap dua warga negara China atas dugaan pelanggaran undang-undang campur tangan asing tahun 2018. Ini adalah kasus kedua di negara tersebut dan menjadikan jumlah total terdakwa berdasarkan undang-undang tersebut menjadi lima.

Bulan lalu, Departemen Kehakiman AS menjatuhkan hukuman 200 bulan penjara kepada mantan pelaut Angkatan Laut AS Jinchao Wei karena menjadi mata-mata untuk China. Wei dinyatakan bersalah atas spionase oleh hakim federal Agustus lalu, dua tahun setelah penangkapannya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Jerman Diguncang Penembakan,...
Jerman Diguncang Penembakan, 6 Orang Tewas
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Bertambah Jadi 1.719 Orang, Ribuan Masih Hilang
Daftar Poin Perjanjian...
Daftar Poin Perjanjian yang Dituntut Iran ke AS, Penarikan Pasukan Israel hingga Selat Hormuz
Rekomendasi
Komentar Judi Online...
Komentar Judi Online Dinilai Bukan Sekadar Promosi, Pakar: Tapi Upaya Provokasi Sistematis
Sinopsis Tobat Jatuh...
Sinopsis 'Tobat Jatuh Cinta Eps 10 Rabu: Hubungan Mila dan Jaka Semakin Memanas
Bupati dan Sekda Kuansing...
Bupati dan Sekda Kuansing Kenakan Rompi Oranye usai Serahkan Diri ke KPK
Berita Terkini
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Rakyat UEA Menikmati Jaringan Kereta Api
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Infografis
5 Pejabat China yang...
5 Pejabat China yang Dieksekusi Mati karena Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved