Rusia Ancam Ambil Tindakan Militer Balasan Jika Greenland Dimiliterisasi NATO

Kamis, 12 Februari 2026 - 06:53 WIB
loading...
Rusia Ancam Ambil Tindakan...
Rusia ancam ambil tindakan militer balasan jika Greenland dimiliterisasi oleh NATO yang ditujukan terhadap Moskow. Foto/Lance. Cpl. Christian Salazar/US Marine Corps
A A A
MOSKOW - Rusia mengancam akan mengambil “tindakan penanggulangan” militer jika negara-negara NATO meningkatkan jejak militernya di Greenland. Ancaman Moskow ini disampaikan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov.

Beberapa negara NATO Eropa telah mengirimkan kontingen kecil pasukan ke Greenland dalam beberapa pekan terakhir setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berulang kali mengatakan dia ingin mencaplok pulau Arktik tersebut.

Baca Juga: NATO Tingkatkan Kehadiran Militer di Sekitar Greenland, Apa Misi Sebenarnya?

“Tentu saja, jika terjadi militerisasi di Greenland dan penciptaan kemampuan militer yang ditujukan ke Rusia, kami akan mengambil tindakan balasan yang memadai, termasuk tindakan teknis militer,” kata Lavrov dalam pidatonya di hadapan anggota Parlemen Rusia pada hari Rabu, sebagaimana dikutip dari AFP, Kamis (12/2/2026).

Greenland—rumah bagi sekitar 57.000 orang—telah menjadi wilayah otonomi Denmark selama beberapa dekade.

Trump bulan lalu membatalkan ancaman untuk merebut Greenland setelah mengatakan dia telah mencapai kerangka kesepakatan dengan Sekrataris Jenderal NATO Mark Rutte untuk memastikan pengaruh AS yang lebih besar.

Dia sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat tidak merebut Greenland, Rusia atau China bisa melakukannya.

“AS, Denmark, dan Greenland harus menyelesaikan masalah ini sendiri,” kata Lavrov.

Lavrov menuduh Denmark memperlakukan warga Greenland sebagai “warga negara kelas dua".

Greenland mengatakan bahwa kedaulatan dan integritas adalah “garis merah” dalam setiap diskusi dengan Washington.

Eropa "Memerkosa" Rencana Perdamaian AS


Terkait upaya perdamaian Rusia-Ukraina, Lavrov mengatakan Eropa dan Kyiv telah “memerkosa” rencana perdamaian AS yang disampaikan kepada Moskow pada pertemuan presiden yang diadakan di Anchorage pada bulan Agustus.

Dalam sebuah wawancara dengan proyek online Empatia Manuchi di Moskow, Lavrov mengeklaim bahwa inisiatif perdamaian “sama sekali tidak ada” di Eropa, sementara AS melakukan upaya tersebut melalui dokumen yang diedarkan dalam berbagai bentuk setelah pertemuan di Alaska.

“Semua versi berikutnya mencerminkan upaya (Presiden Ukraina) Volodymyr Zelensky dan, terutama, para pendukungnya di Inggris, Jerman, Prancis, dan negara-negara Baltik untuk ‘memperkosa’ inisiatif Amerika ini,” kata Lavrov.

Menteri tersebut menambahkan bahwa Rusia siap untuk berkompromi. “Beberapa pihak mendesak kami untuk menunjukkan kesiapan untuk berkompromi. Dengar, kompromi tidak bisa mencakup prinsip-prinsip dasar yang menjadi sandaran keberadaan suatu negara—apalagi ketika kehidupan jutaan orang berada dalam bahaya,” katanya.

Lavrov berpendapat bahwa tidak ada tekanan yang diterapkan terhadap Ukraina dan Zelensky tidak menunjukkan fleksibilitas.

Menurut Lavrov, dokumen AS yang diserahkan ke Rusia telah melalui beberapa putaran peninjauan, namun versi terbaru belum pernah dibagikan kepada Moskow, baik secara resmi maupun tidak resmi.

Mengomentari jaminan keamanan bagi Ukraina, Lavrov mengatakan Kyiv tidak mencari jaminan bersama dengan Rusia, melainkan jaminan militer dari Barat terhadap Rusia.

Dia menggambarkan usulan jaminan ini—yang menurutnya akan otomatis memicu perang dengan Rusia jika terjadi insiden— sebagai hal yang sangat berbahaya, dengan alasan sifat “provokatif” dari pihak Ukraina.

“Insiden apa pun yang dianggap tidak dapat diterima akan menjadi pemicu perang semacam itu. Dan kapasitas Zelensky dan para badutnya untuk memprovokasi insiden semacam itu sungguh di luar pemahaman,” katanya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
AS Serang 10 Target...
AS Serang 10 Target di Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Amerika di Kuwait dan Bahrain
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Benarkah Mossad Hendak...
Benarkah Mossad Hendak Habisi Bos Militer Pakistan Selama Perundingan AS-Iran di Swiss?
AS Serang Iran 2 Hari...
AS Serang Iran 2 Hari Beruntun, Trump Umbar Ancaman Mengerikan
Finlandia Izinkan Wilayahnya...
Finlandia Izinkan Wilayahnya Jadi Lokasi Pengerahan Senjata Nuklir NATO, Rusia Terancam
Timnas Iran Pulang Tanpa...
Timnas Iran Pulang Tanpa Kekalahan
Kapal Penangkap Ikan...
Kapal Penangkap Ikan Tenggelam di Lepas Pantai Busan, 2 Awak Asal Indonesia Hilang
Viral! Pesawat Boeing...
Viral! Pesawat Boeing 777-200 Qatar Airways Terbang Sangat Rendah, ternyata...
Rekomendasi
Prabowo Terima Usulan...
Prabowo Terima Usulan Rektor, Keuntungan BUMN untuk Riset dan Inovasi
IHSG Pekan Depan Diprediksi...
IHSG Pekan Depan Diprediksi Rawan Koreksi, Bakal Menguji Level 5.723-5.784
Pemerintah Akan Turunkan...
Pemerintah Akan Turunkan Harga Gas Industri Senin Besok, Said Iqbal: Mitigasi PHK Massal
Berita Terkini
Jika AS Lanjutkan Perang,...
Jika AS Lanjutkan Perang, Trump: Iran Tidak Akan Ada Lagi
7 Pekerjaan Pertama...
7 Pekerjaan Pertama Para Pemimpin Dunia yang Tak Banyak Diketahui, Ada yang Jual Teh hingga Jadi Tukang Kayu
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
AS dan Iran Saling Serang...
AS dan Iran Saling Serang Lagi, Apakah Masih Ada Harapan Perdamaian di Timur Tengah?
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
Infografis
Negara NATO Ini Klaim...
Negara NATO Ini Klaim akan Diinvasi Rusia dalam Beberapa Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved