Rusia Tegaskan Dukungan Tak Tergoyahkan untuk China atas Taiwan
Senin, 02 Februari 2026 - 10:22 WIB
loading...
Rusia tegaskan dukungan tak tergoyahkan untuk China terkait Taiwan. Foto/ABC News/GFX/Jarrod Fankhauser
A
A
A
BEIJING - Pemerintah Rusia telah menegaskan dukungan tak tergoyahkan untuk Republik Rakyat China (RRC) terkait Taiwan. Penegasan ini disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu kepada Menteri Luar Negeri China Wang Yi.
Moskow dan Beijing telah menjalin hubungan erat dalam beberapa tahun terakhir dan mendeklarasikan "kemitraan strategis tanpa batas" beberapa hari sebelum Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim puluhan ribu pasukan ke Ukraina pada Februari 2022.
Beijing memandang Taiwan yang memerintah sendiri secara demokratis sebagai wilayah China dan belum melepaskan opsi penggunaan kekuatan militer untuk menguasainya.
Baca Juga: Xi Jinping: Miliki Ikatan Darah, Penyatuan China dengan Taiwan Tak Dapat Dihentikan!
Beijing telah menawarkan Taiwan model "satu negara, dua sistem", mirip dengan Hong Kong, meskipun tidak ada partai politik besar di Taiwan yang mendukungnya.
Rusia telah berulang kali mengatakan menentang kemerdekaan Taiwan dalam bentuk apa pun dan menganggap pulau itu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari China.
“Kami melihat bahwa pihak-pihak yang berniat buruk terhadap China terus mengganggu situasi di Selat Taiwan. Dari pihak kami, saya ingin menegaskan kembali dukungan kami yang konsisten dan tak tergoyahkan untuk Beijing dalam masalah Taiwan,” kata Shoigu, yang dikutip kantor berita TASS, Senin (2/2/2026).
“Kami berangkat dari fakta bahwa pemerintah Republik Rakyat China adalah satu-satunya pemerintah yang sah yang mewakili seluruh China,” tambahnya.
Shoigu, yang juga mantan menteri pertahanan Rusia, tiba di China kemarin. Dewan Keamanan Rusia mengatakan Shoigu dan Wang Yi akan bertemu untuk membahas masalah keamanan.
Wang mengatakan China dan Rusia memiliki “kewajiban” untuk mempraktikkan multilateralisme dan untuk mengadvokasi dunia multipolar yang setara dan tertib, menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri China.
Diplomat utama China itu menyerukan kedua negara untuk menjaga komunikasi yang erat mengenai isu-isu utama terkait hubungan bilateral, dan meningkatkan dukungan timbal balik untuk kepentingan inti masing-masing.
China, kata Wang, bersedia bekerja sama dengan Rusia untuk memperkuat komunikasi strategis, memperdalam koordinasi strategis, dan meningkatkan hubungan bilateral tahun ini.
Kunjungan ini bertepatan dengan pembicaraan antara pejabat Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang hampir berlangsung selama empat tahun antara Rusia dan Ukraina.
Shoigu juga telah bertemu Wang pada Desember lalu di Moskow.
Moskow dan Beijing telah menjalin hubungan erat dalam beberapa tahun terakhir dan mendeklarasikan "kemitraan strategis tanpa batas" beberapa hari sebelum Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim puluhan ribu pasukan ke Ukraina pada Februari 2022.
Beijing memandang Taiwan yang memerintah sendiri secara demokratis sebagai wilayah China dan belum melepaskan opsi penggunaan kekuatan militer untuk menguasainya.
Baca Juga: Xi Jinping: Miliki Ikatan Darah, Penyatuan China dengan Taiwan Tak Dapat Dihentikan!
Beijing telah menawarkan Taiwan model "satu negara, dua sistem", mirip dengan Hong Kong, meskipun tidak ada partai politik besar di Taiwan yang mendukungnya.
Rusia telah berulang kali mengatakan menentang kemerdekaan Taiwan dalam bentuk apa pun dan menganggap pulau itu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari China.
“Kami melihat bahwa pihak-pihak yang berniat buruk terhadap China terus mengganggu situasi di Selat Taiwan. Dari pihak kami, saya ingin menegaskan kembali dukungan kami yang konsisten dan tak tergoyahkan untuk Beijing dalam masalah Taiwan,” kata Shoigu, yang dikutip kantor berita TASS, Senin (2/2/2026).
“Kami berangkat dari fakta bahwa pemerintah Republik Rakyat China adalah satu-satunya pemerintah yang sah yang mewakili seluruh China,” tambahnya.
Shoigu, yang juga mantan menteri pertahanan Rusia, tiba di China kemarin. Dewan Keamanan Rusia mengatakan Shoigu dan Wang Yi akan bertemu untuk membahas masalah keamanan.
Wang mengatakan China dan Rusia memiliki “kewajiban” untuk mempraktikkan multilateralisme dan untuk mengadvokasi dunia multipolar yang setara dan tertib, menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri China.
Diplomat utama China itu menyerukan kedua negara untuk menjaga komunikasi yang erat mengenai isu-isu utama terkait hubungan bilateral, dan meningkatkan dukungan timbal balik untuk kepentingan inti masing-masing.
China, kata Wang, bersedia bekerja sama dengan Rusia untuk memperkuat komunikasi strategis, memperdalam koordinasi strategis, dan meningkatkan hubungan bilateral tahun ini.
Kunjungan ini bertepatan dengan pembicaraan antara pejabat Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang hampir berlangsung selama empat tahun antara Rusia dan Ukraina.
Shoigu juga telah bertemu Wang pada Desember lalu di Moskow.
(mas)
Lihat Juga :