Gaza Riviera dan New Gaza: Dari Ide Pesisir Mewah Trump ke Ambisi ala Kolonial Baru
Jum'at, 23 Januari 2026 - 21:36 WIB
loading...
A
A
A
Kritik semacam ini menandai bahkan sebelum rencana pembangunan dilaksanakan, sudah ada oposisi signifikan terhadap struktur politik dan legal yang mendasarinya.
Pada saat yang sama dengan peluncuran Board of Peace di Davos, Jared Kushner — mantan penasihat senior dan menantu Trump — mempresentasikan master plan baru untuk Gaza yang sering disebut “New Gaza”.
Rencana ini lebih terperinci dibandingkan sekadar istilah “Gaza Riviera”, dan mencakup berbagai aspek pembangunan infrastruktur, ekonomi, serta tata kota yang dikemas dalam beberapa fase proyek utama.
Rencana New Gaza ini mencakup beberapa komponen besar:
Transformasi fisik kota Gaza, termasuk kawasan pesisir dengan 180 menara, zona industri, dan fasilitas hiburan kelas dunia.
Perumahan massal di Rafah dengan target lebih dari 100.000 unit rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan untuk mendukung kehidupan sosial masyarakat setempat.
Pembangunan infrastruktur besar seperti pelabuhan baru, bandara, jalur rel, dan sistem jalan yang menghubungkan pusat-pusat urban.
Rencana penciptaan lapangan pekerjaan melalui investasi komersial dan dukungan sektor swasta, dengan target ratusan ribu pekerjaan baru di berbagai sektor ekonomi.
Menurut presentasi Kushner, total investasi yang dibutuhkan diperkirakan lebih dari USD25 miliar, dan rencana tersebut dimaksudkan untuk menciptakan ekonomi yang lebih mandiri serta mengurangi ketergantungan Gaza pada bantuan internasional.
Usulannya adalah dengan pembangunan infrastruktur dan zona komersial, GDP Gaza dapat tumbuh pesat dan tingkat pendapatan rumah tangga rata-rata meningkat signifikan dalam dekade berikutnya.
5. Fokus pada Ekonomi Bebas dan Demiliterisasi
Salah satu elemen inti yang menonjol dari master plan Kushner adalah penekanan terhadap prinsip pasar bebas. Kushner menyatakan sekitar 85% ekonomi Gaza selama ini bergantung pada bantuan internasional, dan hal itu dianggap tidak bisa bertahan lama atau menciptakan kehidupan yang bermartabat bagi penduduk lokal.
Ia menekankan perlunya menggantikan bantuan dengan pekerjaan, upah, dan aktivitas ekonomi produktif melalui investasi sektor swasta dan peluang usaha baru.
Namun, proyek ini memiliki syarat penting: demiliterisasi Gaza, termasuk pembongkaran kekuatan militer Hamas. Menurut rencana tersebut, tantangan keamanan harus diatasi lebih dulu agar investor dan negara lain bersedia menanam modal besar.
Rencana tersebut juga menyebutkan kemungkinan amnesti dan reintegrasi anggota yang menyerah, serta pengawasan berat sebagai bagian dari proses stabilisasi.
Pendekatan ini mencerminkan perpaduan antara agenda ekonomi dan keamanan yang sering dijadikan landasan dalam berbagai strategi pembangunan pascakonflik — yakni bahwa tanpa stabilitas politik dan keamanan, peluang investasi besar tidak akan pernah terwujud.
Ini juga menunjukkan bagaimana New Gaza bukan hanya ingin membangun kembali secara fisik, tetapi juga mengubah struktur sosial dan keamanan di wilayah tersebut.
Meski lebih terperinci daripada sekadar ide “Gaza Riviera”, rencana New Gaza juga menghadapi kritik dan pertanyaan besar, baik dari pengamat internasional maupun para pihak di kawasan. Pertama, banyak pihak menggarisbawahi masih terdapat kekurangan nyata dalam detail pendanaan dan komitmen negara lain untuk memberikan modal yang dibutuhkan, terutama dari luar AS. Tanpa kejelasan sumber dana yang pasti, rencana pembangunan besar semacam ini dianggap sulit berjalan.
Kritikus lain menunjukkan gambaran kota modern dan pesisir glamor sangat kontras dengan realitas di lapangan, di mana jutaan penduduk Gaza masih hidup dalam kondisi darurat kemanusiaan setelah bertahun-tahun perang. Kerusakan infrastruktur, krisis air bersih, kelangkaan listrik, dan kebutuhan pokok lainnya masih jauh dari terpenuhi — yang membuat kritik rencana pembangunan idealis ini terlalu jauh dari realitas saat ini.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa struktur baru seperti Board of Peace dapat berfungsi sebagai alternatif terhadap mekanisme diplomasi internasional yang sudah ada, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
4. Jared Kushner dan “New Gaza”: Rencana Rekonstruksi Ambisius ala Kolonial
Pada saat yang sama dengan peluncuran Board of Peace di Davos, Jared Kushner — mantan penasihat senior dan menantu Trump — mempresentasikan master plan baru untuk Gaza yang sering disebut “New Gaza”.
Rencana ini lebih terperinci dibandingkan sekadar istilah “Gaza Riviera”, dan mencakup berbagai aspek pembangunan infrastruktur, ekonomi, serta tata kota yang dikemas dalam beberapa fase proyek utama.
Rencana New Gaza ini mencakup beberapa komponen besar:
Transformasi fisik kota Gaza, termasuk kawasan pesisir dengan 180 menara, zona industri, dan fasilitas hiburan kelas dunia.
Perumahan massal di Rafah dengan target lebih dari 100.000 unit rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan untuk mendukung kehidupan sosial masyarakat setempat.
Pembangunan infrastruktur besar seperti pelabuhan baru, bandara, jalur rel, dan sistem jalan yang menghubungkan pusat-pusat urban.
Rencana penciptaan lapangan pekerjaan melalui investasi komersial dan dukungan sektor swasta, dengan target ratusan ribu pekerjaan baru di berbagai sektor ekonomi.
Menurut presentasi Kushner, total investasi yang dibutuhkan diperkirakan lebih dari USD25 miliar, dan rencana tersebut dimaksudkan untuk menciptakan ekonomi yang lebih mandiri serta mengurangi ketergantungan Gaza pada bantuan internasional.
Usulannya adalah dengan pembangunan infrastruktur dan zona komersial, GDP Gaza dapat tumbuh pesat dan tingkat pendapatan rumah tangga rata-rata meningkat signifikan dalam dekade berikutnya.
5. Fokus pada Ekonomi Bebas dan Demiliterisasi
Salah satu elemen inti yang menonjol dari master plan Kushner adalah penekanan terhadap prinsip pasar bebas. Kushner menyatakan sekitar 85% ekonomi Gaza selama ini bergantung pada bantuan internasional, dan hal itu dianggap tidak bisa bertahan lama atau menciptakan kehidupan yang bermartabat bagi penduduk lokal. Ia menekankan perlunya menggantikan bantuan dengan pekerjaan, upah, dan aktivitas ekonomi produktif melalui investasi sektor swasta dan peluang usaha baru.
Namun, proyek ini memiliki syarat penting: demiliterisasi Gaza, termasuk pembongkaran kekuatan militer Hamas. Menurut rencana tersebut, tantangan keamanan harus diatasi lebih dulu agar investor dan negara lain bersedia menanam modal besar.
Rencana tersebut juga menyebutkan kemungkinan amnesti dan reintegrasi anggota yang menyerah, serta pengawasan berat sebagai bagian dari proses stabilisasi.
Pendekatan ini mencerminkan perpaduan antara agenda ekonomi dan keamanan yang sering dijadikan landasan dalam berbagai strategi pembangunan pascakonflik — yakni bahwa tanpa stabilitas politik dan keamanan, peluang investasi besar tidak akan pernah terwujud.
Ini juga menunjukkan bagaimana New Gaza bukan hanya ingin membangun kembali secara fisik, tetapi juga mengubah struktur sosial dan keamanan di wilayah tersebut.
6. Kritik dan Tantangan terhadap Rencana New Gaza
Meski lebih terperinci daripada sekadar ide “Gaza Riviera”, rencana New Gaza juga menghadapi kritik dan pertanyaan besar, baik dari pengamat internasional maupun para pihak di kawasan. Pertama, banyak pihak menggarisbawahi masih terdapat kekurangan nyata dalam detail pendanaan dan komitmen negara lain untuk memberikan modal yang dibutuhkan, terutama dari luar AS. Tanpa kejelasan sumber dana yang pasti, rencana pembangunan besar semacam ini dianggap sulit berjalan.
Kritikus lain menunjukkan gambaran kota modern dan pesisir glamor sangat kontras dengan realitas di lapangan, di mana jutaan penduduk Gaza masih hidup dalam kondisi darurat kemanusiaan setelah bertahun-tahun perang. Kerusakan infrastruktur, krisis air bersih, kelangkaan listrik, dan kebutuhan pokok lainnya masih jauh dari terpenuhi — yang membuat kritik rencana pembangunan idealis ini terlalu jauh dari realitas saat ini.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa struktur baru seperti Board of Peace dapat berfungsi sebagai alternatif terhadap mekanisme diplomasi internasional yang sudah ada, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Lihat Juga :