Trump Ancam Lenyapkan Iran dari Muka Bumi, Teheran Siap Perang Habis-habisan
Kamis, 22 Januari 2026 - 07:54 WIB
loading...
Presiden AS Donald Trump ancam lenyapkan Iran dari muka bumi. Teheran pun menyatakan siap untuk perang habis-habisan. Foto/A2 News
A
A
A
TEHERAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan melenyapkan negara Iran jika nyawanya terancam oleh Teheran. Merespons ancaman mengerikan Trump, negara Islam itu menyatakan pihaknya siap untuk perang habis-habisan.
“Saya memiliki instruksi yang sangat tegas. Apa pun yang terjadi, mereka akan dimusnahkan dari muka bumi,” kata Trump dalam wawancara dengan News Nation yang ditayangkan pada Selasa lalu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah memperingatkan Amerika setelah mendengar ancaman dari Trump. "Teheran akan membalas dengan semua yang kami miliki jika kami diserang lagi," tulis Araghchi dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal, yang dikutip Al Jazeera, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga: Netanyahu Gertak Iran: Israel Akan Bertindak dengan Kekuatan yang Belum Pernah Dilihat!
“Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak ragu untuk membalas dengan semua yang kami miliki jika kami diserang lagi,” lanjut dia, merujuk pada perang 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu.
Araghchi berpendapat bahwa itu bukanlah ancaman Iran. "Tetapi kenyataan yang menurut saya perlu saya sampaikan secara eksplisit, karena sebagai seorang diplomat dan veteran, saya membenci perang," paparnya.
"Konfrontasi habis-habisan pasti akan sangat sengit dan berlangsung jauh lebih lama daripada garis waktu khayalan yang coba disebarkan Israel dan sekutunya kepada Gedung Putih. Hal itu pasti akan melanda wilayah yang lebih luas dan berdampak pada masyarakat biasa di seluruh dunia," lanjut dia.
Minggu lalu, Iran menutup wilayah udaranya, kemungkinan untuk mengantisipasi serangan AS. Para diplomat dari negara-negara Timur Tengah, khususnya dari negara-negara Teluk Arab, melobi Trump agar tidak menyerang Iran.
Kapal induk AS; USS Abraham Lincoln, yang berada di Laut China Selatan dalam beberapa hari terakhir, pada hari Selasa melewati Selat Malaka, jalur air utama yang menghubungkan Laut China Selatan dan Samudra Hindia, menurut data pelacakan kapal.
Meskipun para pejabat pertahanan AS tidak secara langsung mengatakan bahwa kelompok serang kapal induk tersebut menuju Timur Tengah, lokasinya di Samudra Hindia berarti hanya beberapa hari lagi kapal tersebut akan bergerak ke wilayah tersebut.
Sebelumnya, pada hari Selasa, sebagai respons atas ancaman apa pun yang dihadapi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Jenderal Iran Abolfazl Shekarchi mengatakan bahwa Trump sudah tahu Teheran tidak akan menahan diri jika keadaan berbalik.
“Trump tahu bahwa jika tangan agresi diulurkan ke arah pemimpin kami, kami tidak hanya akan memutus tangan itu, dan ini bukan sekadar slogan,” tulis media pemerintah Iran, mengutip Shekarchi. “Tetapi kami akan membakar dunia mereka dan tidak akan memberi mereka tempat berlindung yang aman di wilayah tersebut.”
Tahun lalu, Trump melontarkan ancaman serupa kepada Iran, tak lama setelah kembali ke Gedung Putih, ketika ia mengatakan kepada wartawan, “Jika mereka melakukannya, mereka akan dimusnahkan.”
Iran masih terguncang akibat kekerasan yang terjadi selama beberapa protes anti-pemerintah terbesar sejak Revolusi Islam 1979.
Kelompok hak asasi manusia sedang berupaya untuk mengkonfirmasi jumlah orang yang tewas selama protes tersebut. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS mengatakan jumlah korban tewas telah mencapai setidaknya 4.519, sementara lebih dari 26.300 orang telah ditangkap.
Pada hari Minggu, seorang pejabat Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pihak berwenang telah memverifikasi setidaknya 5.000 orang telah tewas dalam protes, termasuk sekitar 500 personel keamanan, dan menyalahkan "teroris dan perusuh bersenjata" atas pembunuhan "warga Iran yang tidak bersalah".
“Saya memiliki instruksi yang sangat tegas. Apa pun yang terjadi, mereka akan dimusnahkan dari muka bumi,” kata Trump dalam wawancara dengan News Nation yang ditayangkan pada Selasa lalu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah memperingatkan Amerika setelah mendengar ancaman dari Trump. "Teheran akan membalas dengan semua yang kami miliki jika kami diserang lagi," tulis Araghchi dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan oleh The Wall Street Journal, yang dikutip Al Jazeera, Kamis (22/1/2026).
Baca Juga: Netanyahu Gertak Iran: Israel Akan Bertindak dengan Kekuatan yang Belum Pernah Dilihat!
“Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak ragu untuk membalas dengan semua yang kami miliki jika kami diserang lagi,” lanjut dia, merujuk pada perang 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu.
Araghchi berpendapat bahwa itu bukanlah ancaman Iran. "Tetapi kenyataan yang menurut saya perlu saya sampaikan secara eksplisit, karena sebagai seorang diplomat dan veteran, saya membenci perang," paparnya.
"Konfrontasi habis-habisan pasti akan sangat sengit dan berlangsung jauh lebih lama daripada garis waktu khayalan yang coba disebarkan Israel dan sekutunya kepada Gedung Putih. Hal itu pasti akan melanda wilayah yang lebih luas dan berdampak pada masyarakat biasa di seluruh dunia," lanjut dia.
Minggu lalu, Iran menutup wilayah udaranya, kemungkinan untuk mengantisipasi serangan AS. Para diplomat dari negara-negara Timur Tengah, khususnya dari negara-negara Teluk Arab, melobi Trump agar tidak menyerang Iran.
Kapal induk AS; USS Abraham Lincoln, yang berada di Laut China Selatan dalam beberapa hari terakhir, pada hari Selasa melewati Selat Malaka, jalur air utama yang menghubungkan Laut China Selatan dan Samudra Hindia, menurut data pelacakan kapal.
Meskipun para pejabat pertahanan AS tidak secara langsung mengatakan bahwa kelompok serang kapal induk tersebut menuju Timur Tengah, lokasinya di Samudra Hindia berarti hanya beberapa hari lagi kapal tersebut akan bergerak ke wilayah tersebut.
Sebelumnya, pada hari Selasa, sebagai respons atas ancaman apa pun yang dihadapi Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Jenderal Iran Abolfazl Shekarchi mengatakan bahwa Trump sudah tahu Teheran tidak akan menahan diri jika keadaan berbalik.
“Trump tahu bahwa jika tangan agresi diulurkan ke arah pemimpin kami, kami tidak hanya akan memutus tangan itu, dan ini bukan sekadar slogan,” tulis media pemerintah Iran, mengutip Shekarchi. “Tetapi kami akan membakar dunia mereka dan tidak akan memberi mereka tempat berlindung yang aman di wilayah tersebut.”
Tahun lalu, Trump melontarkan ancaman serupa kepada Iran, tak lama setelah kembali ke Gedung Putih, ketika ia mengatakan kepada wartawan, “Jika mereka melakukannya, mereka akan dimusnahkan.”
Iran masih terguncang akibat kekerasan yang terjadi selama beberapa protes anti-pemerintah terbesar sejak Revolusi Islam 1979.
Kelompok hak asasi manusia sedang berupaya untuk mengkonfirmasi jumlah orang yang tewas selama protes tersebut. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di AS mengatakan jumlah korban tewas telah mencapai setidaknya 4.519, sementara lebih dari 26.300 orang telah ditangkap.
Pada hari Minggu, seorang pejabat Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pihak berwenang telah memverifikasi setidaknya 5.000 orang telah tewas dalam protes, termasuk sekitar 500 personel keamanan, dan menyalahkan "teroris dan perusuh bersenjata" atas pembunuhan "warga Iran yang tidak bersalah".
(mas)
Lihat Juga :