Jika Diinvasi AS, Kanada Terapkan Gaya Perang Mujahidin Afghanistan

Rabu, 21 Januari 2026 - 21:46 WIB
loading...
A A A
Carney berpendapat bahwa "kesepakatan ini tidak lagi berhasil," menyatakan bahwa "kita berada di tengah-tengah keretakan, bukan transisi." Ia menggambarkan realitas baru "persaingan kekuatan besar yang semakin intensif" di mana integrasi ekonomi, tarif, dan infrastruktur keuangan digunakan sebagai "senjata" dan "pemaksaan."

Komentarnya menggemakan pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada hari Selasa, yang mengatakan aturan global telah "dibuang begitu saja" dan digantikan oleh permainan "kekuatan adalah kebenaran."

Moskow telah lama mengkritik tatanan yang dipimpin Barat, dengan alasan bahwa tatanan tersebut digunakan untuk memaksakan aturan kepada pihak lain yang diabaikan oleh kekuatan-kekuatan besar itu sendiri.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan menyusul serangkaian tindakan berani oleh AS. Sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat, AS telah melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, menyerang Caracas dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan sekarang sedang berupaya mengakuisisi Greenland dari sekutu NATO Denmark sambil mengancam tarif terhadap penentang Eropa atas langkah tersebut.

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever mendesak sekutu-sekutu Eropa di Davos pada hari Selasa untuk memilih antara martabat dan menjadi "budak yang sengsara" dalam menghadapi tuntutan Washington.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
4 Alasan Jepang Kini...
4 Alasan Jepang Kini Jadi Aliansi Terpenting AS di Asia, Garda Terdepan Melawan Rusia dan China
Rusia Diduga Bantu Iran...
Rusia Diduga Bantu Iran Gempur Pangkalan AS, Trump Akan Tanya Langsung Putin
Mertua Tak Tahu Kondisi...
Mertua Tak Tahu Kondisi Mojtaba Khamenei: Dia Tak Berkomunikasi dengan Orang Mana Pun
Dramatis, FSB Tangkap...
Dramatis, FSB Tangkap Pria Rusia atas Tuduhan Jadi Mata-mata Five Eyes
Prancis Samakan AS dengan...
Prancis Samakan AS dengan Korut, Amerika Walkout dari Pertemuan DK PBB
Takut dengan Ancaman...
Takut dengan Ancaman Iran, Netanyahu Diam-diam Terbang ke AS Temui Trump
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080...
Rupiah Keok Sentuh Rp18.080 per Dolar AS, Catat Kinerja Terburuk di Asia
Houthi Kembali Gempur...
Houthi Kembali Gempur Infrastruktur Minyak Saudi, Drone Bidik Jalur Vital Aramco
Deretan Miliarder Asal...
Deretan Miliarder Asal Iran yang Sukses Bangun Kerajaan Bisnis di Amerika Serikat
Rekomendasi
Tingkatkan Produktivitas...
Tingkatkan Produktivitas Petani, Mahindra-RMA Indonesia Luncurkan Mahindra OJA 3140
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp9.000, Kini Dibanderol Rp2,61 Juta per Gram
Fanomenon Coachella...
Fanomenon Coachella Versi K-Pop Resmi Diluncurkan, Target Raup Rp12 Triliun
Berita Terkini
4 Alasan Jepang Kini...
4 Alasan Jepang Kini Jadi Aliansi Terpenting AS di Asia, Garda Terdepan Melawan Rusia dan China
Rusia Diduga Bantu Iran...
Rusia Diduga Bantu Iran Gempur Pangkalan AS, Trump Akan Tanya Langsung Putin
Mertua Tak Tahu Kondisi...
Mertua Tak Tahu Kondisi Mojtaba Khamenei: Dia Tak Berkomunikasi dengan Orang Mana Pun
Penegasan sebagai Negara...
Penegasan sebagai Negara Yahudi, Bahasa Arab Dilarang Digunakan Warga Palestina di Israel
Kim Jong-un Ajak Putrinya...
Kim Jong-un Ajak Putrinya Peringati Perang Korea untuk Pertama Kalinya, Ini Penampakannya
Dramatis, FSB Tangkap...
Dramatis, FSB Tangkap Pria Rusia atas Tuduhan Jadi Mata-mata Five Eyes
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved