Bos NATO Dekati Trump saat AS Ribut dengan 8 Sekutu Eropa
Senin, 19 Januari 2026 - 11:21 WIB
loading...
Sekjen NATO Mark Rutte mulai dekati Presiden AS Donald Trump setelah Amerika berseteru dengan delapan negara NATO Eropa terkait Greenland. Foto/menafn
A
A
A
BRUSSELS - Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mulai mendekati Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah Washington berseteru dengan delapan negara NATO Eropa yang dipicu oleh ambisi Washington untuk mencaplok Greenland.
Rutte menyatakan dia sudah berbicara dengan Trump terkait situasi keamanan di Greenland dan Arktik. Komentar bos NATO itu muncul ketika Trump mengenakan tarif 10 persen pada delapan negara NATO Eropa (Denmark, Norwegia, Swedia, Inggris Raya, Prancis, Belanda, Finlandia, dan Jerman) yang mulai berlaku 1 Februari. Tarif akan ditingkatkan menjadi 25 persen mulai Juni hingga upaya Amerika memiliki Greenland tercapai.
Baca Juga: Rusia Senang AS dan NATO Berantem: "Aliansi Transatlantik Tamat"
"Berbicara dengan @POTUS mengenai situasi keamanan di Greenland dan Arktik. Kami akan terus mengerjakan ini, dan saya berharap dapat bertemu dengannya di Davos akhir pekan ini," tulis Rutte di akun X-nya, @SecGenNATO, seperti dikutip dari Anadolu, Senin (19/1/2026). @POTUS adalah akun resmi Presiden AS.
Rutte tidak membagikan detail percakapan dengan Trump mengenai masalah tersebut.
Sementara itu, beberapa negara Eropa telah bersatu dan menyatakan dukungan serta solidaritas dengan Denmark dan Greenland di tengah langkah Trump mengenakan tarif pada delapan negara NATO Eropa sampai diizinkan untuk mengakuisisi Greenland. Negara-negara Eropa itu telah menggelar latihan militer di Greenland.
Pernyataan bersama oleh Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Norwegia, Swedia, dan Inggris Raya—yang dibagikan oleh Kementerian Luar Negeri Denmark, menyebutkan bahwa latihan "Arctic Endurance" tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun dan bahwa negara-negara tersebut sepenuhnya bersolidaritas dengan Denmark dan rakyat Greenland.
Pernyataan tersebut menyoroti bahwa ancaman tarif Trump merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan spiral penurunan yang berbahaya.
Trump mengeklaim langkahnya untuk memiliki Greenland diperlukan untuk keamanan nasional, dengan mengutip kepentingan China dan Rusia di wilayah tersebut. Baik Rusia maupun China menolak dijadikan dalih Trump untuk merebut Greenland dari Denmark.
Rutte menyatakan dia sudah berbicara dengan Trump terkait situasi keamanan di Greenland dan Arktik. Komentar bos NATO itu muncul ketika Trump mengenakan tarif 10 persen pada delapan negara NATO Eropa (Denmark, Norwegia, Swedia, Inggris Raya, Prancis, Belanda, Finlandia, dan Jerman) yang mulai berlaku 1 Februari. Tarif akan ditingkatkan menjadi 25 persen mulai Juni hingga upaya Amerika memiliki Greenland tercapai.
Baca Juga: Rusia Senang AS dan NATO Berantem: "Aliansi Transatlantik Tamat"
"Berbicara dengan @POTUS mengenai situasi keamanan di Greenland dan Arktik. Kami akan terus mengerjakan ini, dan saya berharap dapat bertemu dengannya di Davos akhir pekan ini," tulis Rutte di akun X-nya, @SecGenNATO, seperti dikutip dari Anadolu, Senin (19/1/2026). @POTUS adalah akun resmi Presiden AS.
Rutte tidak membagikan detail percakapan dengan Trump mengenai masalah tersebut.
Sementara itu, beberapa negara Eropa telah bersatu dan menyatakan dukungan serta solidaritas dengan Denmark dan Greenland di tengah langkah Trump mengenakan tarif pada delapan negara NATO Eropa sampai diizinkan untuk mengakuisisi Greenland. Negara-negara Eropa itu telah menggelar latihan militer di Greenland.
Pernyataan bersama oleh Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Norwegia, Swedia, dan Inggris Raya—yang dibagikan oleh Kementerian Luar Negeri Denmark, menyebutkan bahwa latihan "Arctic Endurance" tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun dan bahwa negara-negara tersebut sepenuhnya bersolidaritas dengan Denmark dan rakyat Greenland.
Pernyataan tersebut menyoroti bahwa ancaman tarif Trump merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan spiral penurunan yang berbahaya.
Trump mengeklaim langkahnya untuk memiliki Greenland diperlukan untuk keamanan nasional, dengan mengutip kepentingan China dan Rusia di wilayah tersebut. Baik Rusia maupun China menolak dijadikan dalih Trump untuk merebut Greenland dari Denmark.
(mas)
Lihat Juga :