Negara-negara NATO Kerahkan Tentara ke Greenland, Rusia Sangat Prihatin

Jum'at, 16 Januari 2026 - 10:12 WIB
loading...
Negara-negara NATO Kerahkan...
Rusia menyatakan sangat prihatin dengan pengerahan tentara negara-negara NATO ke Greenland. Foto/Srpska National
A A A
BRUSSELS - Pemerintah Rusia mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan pengerahan tentara dari negara-negara ke Greenland, pulau otonom Denmark di Arktik yang diancam akan direbut oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Moskow angkat bicara setelah Rusia dijadikan dalih atas ketegangan terkait pulau kaya mineral tersebut.

“Situasi yang terjadi di lintang tinggi sangat mengkhawatirkan kami,” kata Kedutaan Rusia di Belgia, tempat markas NATO berada, dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: AS Tak Peduli 8 Negara NATO Kerahkan Tentara, Tetap Akan Caplok Greenland

"NATO meningkatkan kehadiran militernya di sana dengan dalih palsu tentang meningkatnya ancaman dari Moskow dan Beijing,” imbuh kedutaan tersebut, seperti dikutip dari news.com.au, Jumat (16/1/2026).

Setidaknya delapan negara NATO Eropa, yakni Denmark, Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, dan Inggris, sudah mengerahkan tentara mereka ke Greenland. Namun, Gedung Putih menegaskan langkah negara-negara Eropa itu tidak akan mengubah pendirian Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi pulau tersebut.

Trump mengatakan Greenland seharusnya menjadi milik AS dan tidak mengesampingkan kemungkinan merebutnya dengan kekerasan.

AS dan Denmark terus berselisih mengenai masa depan Greenland setelah pembicaraan tingkat tinggi diadakan di Gedung Putih gagal mengubah pendirian Trump. Menurut Trump, Washington perlu memiliki pulau tersebut karena alasan keamanan nasional.

"Saya rasa pasukan di Eropa tidak memengaruhi proses pengambilan keputusan presiden, dan sama sekali tidak memengaruhi tujuannya untuk mengakuisisi Greenland," kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, seperti dikutip Reuters.

Setelah pertemuan di Gedung Putih yang menemui jalan buntu, Trump mengulangi pernyataannya bahwa Denmark tidak dapat diandalkan untuk melindungi Greenland jika Rusia atau China ingin mendudukinya.

Greenland dan Denmark mengatakan pulau itu tidak untuk dijual dan ancaman penggunaan kekuatan AS adalah tindakan yang gegabah.

Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, mengatakan dari Kopenhagen bahwa dia belum memiliki angka pasti untuk perluasan kehadiran pasukan NATO di Greenland yang direncanakan.

"Tetapi jelas bahwa sekarang kita akan dapat merencanakan kehadiran yang lebih besar dan lebih permanen sepanjang tahun 2026 dan itu sangat penting untuk menunjukkan bahwa keamanan di Arktik bukan hanya untuk Kerajaan Denmark, tetapi untuk seluruh NATO," katanya.

Denmark memiliki sekitar 150 personel militer dan sipil yang bekerja di Komando Arktik Gabungan di pulau itu. Jerman, Prancis, Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Belanda telah mengatakan mereka mengirimkan staf militer untuk memulai persiapan latihan yang lebih besar akhir tahun ini.

Negara-negara terkemuka Uni Eropa telah mendukung Denmark, memperingatkan bahwa perebutan wilayah NATO oleh militer AS dapat mengakhiri aliansi militer yang dipimpin oleh Washington tersebut.

Marc Jacobsen, seorang profesor di Royal Danish Defence College, mengatakan pengerahan militer Eropa ke Greenland mengirimkan dua pesan kepada pemerintahan AS.

"Salah satunya adalah untuk mencegah, untuk menunjukkan bahwa 'jika Anda memutuskan untuk melakukan sesuatu secara militer, kami siap membela Greenland'," katanya.

"Dan tujuan lainnya adalah untuk mengatakan, 'Baiklah, kami menanggapi kritik Anda dengan serius, kami meningkatkan kehadiran kami, menjaga kedaulatan kami, dan meningkatkan pengawasan di Greenland.'"
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Biden Sebut Trump Pencundang,...
Biden Sebut Trump Pencundang, Narsis, dan Sombong
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Gempa Dahsyat Venezuela:...
Gempa Dahsyat Venezuela: 920 Orang Tewas, Hampir 50 Ribu Masih Hilang
Wow, Putin Ngobrol dengan...
Wow, Putin Ngobrol dengan Presiden Belarusia Lukashenko 24 Jam Lebih
Rekomendasi
Ilmuwan Temukan Penyebab...
Ilmuwan Temukan Penyebab Baru di Balik Peningkatan Lemak Perut Seiring Bertambahnya Usia
SIG Berdayakan UMKM...
SIG Berdayakan UMKM Berbasis Potensi Lokal di Tuban
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
32 Negara yang Sudah...
32 Negara yang Sudah Lolos ke Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved