Sistem Rudal Rusia di Venezuela Tak Tembak Jatuh Satu Pun dari 150 Pesawat AS, Ini Analisisnya

Kamis, 08 Januari 2026 - 11:33 WIB
loading...
Sistem Rudal Rusia di...
Efektivitas sistem pertahanan udara Rusia di Venezuela dipertanyakan setelah tak menembak jatuh satu pun dari 150 pesawat militer AS. Foto/Defense Express
A A A
CARACAS - Operasi kilat militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela tak hanya berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro. Rusia ikut kena getahnya karena berbagai sistem pertahanan udara buatannya tidak menembak jatuh satu pun dari 150 pesawat militer Amerika yang berkeliaran di negara Amerika Selatan tersebut.

"Sepertinya pertahanan udara Rusia itu tidak berfungsi dengan baik, bukan?" demikian penilaian Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.

Operasi penyerangan yang kompleks tersebut melibatkan lebih dari 150 pesawat militer AS. Beberapa melakukan serangan. Yang lain melakukan perang elektronik dan terlibat dalam intelijen, pengintaian, dan pengawasan. Di tengah semua itu, helikopter dengan cepat mengangkut pasukan masuk dan keluar ibu kota Caracas.

Baca Juga: Mengapa Rusia Tak Menolong Venezuela saat Diserang AS dan Maduro Diculik?

Militer AS menyerang pangkalan dan infrastruktur strategis, menghancurkan pertahanan udara, dan mengalahkan tim keamanan lokal.

Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa sebuah pesawat terkena serangan tanpa menyebutkan apa yang menghantamnya, tetapi pesawat tersebut tetap beroperasi. Dia mengatakan bahwa tidak ada pasukan atau peralatan AS yang hilang, tidak satu pun pesawat.

Ini bukanlah citra yang baik untuk pertahanan udara buatan Rusia yang diandalkan Venezuela. Trump mengatakan pertahanan Venezuela sudah siap, namun kekuatan tempur AS, kata Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, melumpuhkan dan membongkar sistem pertahanan udara yang seharusnya melindungi Caracas.

Para analis mengatakan kepada Business Insider,Rabu (7/1/2026), bahwa meskipun kesimpulan pasti tidak dapat ditarik dari satu operasi tempur saja, kinerja sistem pertahanan Rusia malam itu mungkin terbukti menggembirakan bagi militer Barat saat mereka menilai kemampuan pertahanan udara Rusia, yang telah menunjukkan kinerja dunia nyata yang tidak merata.

Yang penting, pertahanan udara tidak hanya ditentukan oleh sistemnya. Faktor lain juga berperan. Kesalahan operator dapat sama pentingnya dengan kemampuan tempur musuh. Ada juga kemungkinan nyata bahwa elemen lain dalam jaringan pertahanan udara terintegrasi Venezuela berada dalam kondisi buruk, yang memengaruhi efektivitas secara lebih luas.

Mattias Eken, seorang pakar pertahanan rudal di RAND, mengatakan hal itu menunjukkan bahwa operasi Barat multi-domain yang direncanakan dengan baik dapat menekan atau melewati bahkan sistem Rusia yang canggih, terutama ketika elemen-elemen seperti integrasi, komando dan kontrol, dan kemahiran operator mungkin kurang.

Sistem Saja Tak Menentukan Hasil Pertempuran


Sebelum Operasi Absolute Resolve diluncurkan militer AS, jaringan pertahanan udara Venezuela dinilai mencakup berbagai sistem buatan Rusia, termasuk baterai S-300VM, sistem Buk-M2, dan peluncur S-125 Pechora-2M yang lebih tua, serta radar buatan China. Beberapa di antaranya termasuk di antara sistem ekspor Rusia yang lebih mumpuni, meskipun bukan varian terbaru yang digunakan oleh pasukan Rusia.

Seorang anggota Parlemen Rusia mengatakan pada bulan November bahwa Moskow telah mengirimkan sistem Pantsir-S1 dan Buk-M2E baru ke Venezuela. Tidak jelas sistem mana yang beroperasi.

Douglas Barrie, seorang ahli kekuatan udara dari International Institute for Strategic Studies (IISS), mengatakan sistem yang dimiliki Venezuela "bukan sesuatu yang bisa diabaikan".

AS pun tidak mengabaikannya. AS menjadikan netralisasi ancaman potensial tersebut sebagai prioritas dan membawa kemampuan jet tempur siluman canggih ke dalam pertempuran, seperti F-22 dan F-35.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tentara AS Terluka dalam...
Tentara AS Terluka dalam Serangan Iran di Yordania, Pentagon Belum Mengakui
Iran Ungkap Rudalnya...
Iran Ungkap Rudalnya Berhasil Hantam Jet Tempur AS di Yordania
Kelompok Perlawanan...
Kelompok Perlawanan Irak Tawarkan Hadiah Rp179 Miliar untuk Pembunuhan Trump
Menlu Iran: Israel Gunakan...
Menlu Iran: Israel Gunakan Uang Pajak AS untuk Bungkam Kritikus AS
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
7 Tempat Penyimpanan...
7 Tempat Penyimpanan Emas Terbesar di Dunia, Ada yang Dijaga di Bawah Tanah hingga Benteng Super Ketat
Trump Batal Pungut Biaya...
Trump Batal Pungut Biaya 20% di Selat Hormuz, Negara Teluk Janji Investasi Jumbo ke AS
Iran Menggila! Markas...
Iran Menggila! Markas Jet Tempur F-18 AS di Pangkalan Udara Al-Azraq Yordania Dibombardir
Dituduh Trump Campuri...
Dituduh Trump Campuri Pilpres AS 2020, Ini Jawaban Keras China
Rekomendasi
Messi, Yamal, dan Takdir...
Messi, Yamal, dan Takdir Angka 19
Komisi IX DPR Cecar...
Komisi IX DPR Cecar BGN usai Pamer Dapat WTP dari BPK: Jangan-jangan Dibikin-bikin
Prancis vs Inggris:...
Prancis vs Inggris: Laga Penutup Didier Deschamps
Berita Terkini
Tentara AS Terluka dalam...
Tentara AS Terluka dalam Serangan Iran di Yordania, Pentagon Belum Mengakui
Memanas, Iran Ancam...
Memanas, Iran Ancam Minta Houthi Blokir Selat Bab al-Mandeb, Perdagangan Global Kian Tercekik
Drone Israel Serang...
Drone Israel Serang Acara Pemakaman di Gaza Tengah, 8 Orang Tewas, 20 Warga Terluka
Iran Hancurkan Depot...
Iran Hancurkan Depot Drone AS dan Pusat Kecerdasan Buatan di Bahrain
Iran Ungkap Rudalnya...
Iran Ungkap Rudalnya Berhasil Hantam Jet Tempur AS di Yordania
Israel Berencana Gunakan...
Israel Berencana Gunakan Buaya untuk Jaga Tahanan Palestina
Infografis
7 Rudal Jelajah Terkuat...
7 Rudal Jelajah Terkuat di Dunia, Misil-Misil Rusia Mendominasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved