AS-Rusia di Ambang Perang Dunia III, Amerika Terbangkan Pesawat Kiamat
Kamis, 08 Januari 2026 - 07:52 WIB
loading...
Amerika Serikat terbangkan pesawat kiamat ketika pasukannya merampas kapal tanker minyak Rusia, tindakan yang membuat kedua negara di ambang Perang Dunia III. Foto/US Air Force
A
A
A
WASHINGTON - Pesawat komando darurat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang juga dikenal sebagai pesawat kiamat, melesat dari markasnya menuju Washington D.C. pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu (7/1/2026) WIB. Itu terjadi ketika pasukan AS menyita kapal tanker minyak Rusia, yang dikhawatirkan akan memicu Perang Dunia III.
Pesawat kiamat bernama Boeing E-4B Nightwatch itu berfungsi sebagai pos komando terbang bagi para pejabat tinggi selama masa krisis. Ia dirancang untuk bertahan dari serangan nuklir sambil mengoordinasikan aksi militer Amerika.
Menurut situs pelacakan penerbangan Flightradar24, pesawat E-4B meninggalkan Omaha, Nebraska, pada pukul 16.50 ET pada hari Selasa sebelum terbang selama hampir tiga jam menuju Camp Springs di dekat Washington, D.C.
Baca Juga: Rusia Didesak Balas Tenggelamkan Kapal-kapal AS, Bica Picu Perang Dunia III
Perjalanannya ke Washington D.C. dapat menandakan operasi rutin, latihan, atau juga bisa peningkatan kesiapan untuk keadaan darurat nasional. Para pejabat belum mengonfirmasi alasan penerbangan pesawat kiamat tersebut.
Meskipun pangkalan utamanya adalah Offutt, pesawat khusus ini secara berkala dikerahkan ke lokasi lain, termasuk Kelly Field di Texas untuk pemeliharaan dan Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Peterson di Colorado.
Pada hari yang sama, pasukan khusus AS menyita atau merampas kapal tanker minyak Marinera milik Rusia yang diduga terkait dengan Venezuela. Moskow sekarang didesak untuk membalas dengan menenggalamkan beberapa kapal Washington.
Desakan ini disampaikan Aleksey Zhuravlyov, wakil kepala pertama komite pertahanan Duma Negara Rusia. Dia bahkan menyarankan pengerahan senjata nuklir sebagai respons, sesuai dengan doktrin militer Rusia.
Zhuravlyov menyamakan penyitaan kapal Marinera, yang sebelumnya bernama Bella 1, dengan serangan terhadap wilayah Rusia karena kapal tersebut mengibarkan bendera Rusia.
"Kita perlu memberikan respons militer: serang dengan torpedo atau tenggelamkan beberapa kapal Amerika," seru politisi Moskow tersebut, seperti dikutip dari express.co.uk, Kamis (8/1/2026).
"Ini tidak lebih dari pembajakan: penyitaan kapal sipil oleh Angkatan Laut AS yang bersenjata," paparnya.
"Pada dasarnya sama dengan serangan terhadap wilayah Rusia, karena kapal tanker tersebut mengibarkan bendera nasional kita," lanjut Zhuravlyov.
"Tidak diragukan lagi bahwa kita harus merespons dengan tegas dan cepat—doktrin militer kita bahkan membayangkan penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap serangan semacam itu," imbuh dia.
"Terutama karena, menurut informasi yang tersedia, sebuah kapal selam Rusia dan beberapa kapal militer Rusia lainnya berada di suatu tempat di dekat kapal tersebut."
Kementerian Transportasi Rusia mengecam tindakan AS, yang dalam operasi penyitaan kapal itu didukung oleh Inggris.
"Tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar dengan benar di yurisdiksi negara lain," katanya.
Sekadar diketahui, serangan terhadap kapal-kapal AS oleh Rusia dapat menyeret seluruh aliansi militer Barat ke Perang Dunia III, karena Pasal 5 NATO menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota aliansi dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.
Kapal Marinera telah berada di bawah pengawasan sejak bulan lalu, ketika Penjaga Pantai AS mencoba menaikinya di Karibia setelah memperoleh surat perintah atas dugaan pelanggaran sanksi AS dan klaim bahwa kapal tersebut telah mengangkut minyak Iran.
Operasi tersebut gagal ketika kapal tiba-tiba mengubah haluan, mengubah namanya, dan mengganti benderanya dari Guyana ke Rusia.
Pergerakannya menuju Eropa telah dicegah oleh pengerahan pasukan dari sekitar 10 pesawat angkut dan helikopter AS sebelum kapal itu dinaiki.
Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi bahwa pasukan Inggris mendukung penyitaan kapal Marinera.
"Inggris telah memberikan dukungan kepada Amerika Serikat atas permintaan mereka untuk mencegat kapal Bella 1 hari ini," kata kementerian itu pada Rabu.
"Angkatan Bersenjata Inggris memberikan dukungan operasional yang telah direncanakan sebelumnya, termasuk pangkalan, kepada aset militer AS yang mencegat Bella 1 di celah Inggris-Islandia-Greenland setelah permintaan bantuan dari AS," paparnya.
"RFA Tideforce memberikan dukungan untuk pasukan AS yang mengejar dan mencegat Bella 1, sementara RAF memberikan dukungan pengawasan dari udara."
"Hubungan pertahanan dan keamanan Inggris dan AS adalah yang terdalam di dunia dan Inggris memberikan dukungan yang memungkinkan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional," kata kementerian tersebut.
Pesawat kiamat bernama Boeing E-4B Nightwatch itu berfungsi sebagai pos komando terbang bagi para pejabat tinggi selama masa krisis. Ia dirancang untuk bertahan dari serangan nuklir sambil mengoordinasikan aksi militer Amerika.
Menurut situs pelacakan penerbangan Flightradar24, pesawat E-4B meninggalkan Omaha, Nebraska, pada pukul 16.50 ET pada hari Selasa sebelum terbang selama hampir tiga jam menuju Camp Springs di dekat Washington, D.C.
Baca Juga: Rusia Didesak Balas Tenggelamkan Kapal-kapal AS, Bica Picu Perang Dunia III
Perjalanannya ke Washington D.C. dapat menandakan operasi rutin, latihan, atau juga bisa peningkatan kesiapan untuk keadaan darurat nasional. Para pejabat belum mengonfirmasi alasan penerbangan pesawat kiamat tersebut.
Meskipun pangkalan utamanya adalah Offutt, pesawat khusus ini secara berkala dikerahkan ke lokasi lain, termasuk Kelly Field di Texas untuk pemeliharaan dan Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Peterson di Colorado.
Pada hari yang sama, pasukan khusus AS menyita atau merampas kapal tanker minyak Marinera milik Rusia yang diduga terkait dengan Venezuela. Moskow sekarang didesak untuk membalas dengan menenggalamkan beberapa kapal Washington.
Desakan ini disampaikan Aleksey Zhuravlyov, wakil kepala pertama komite pertahanan Duma Negara Rusia. Dia bahkan menyarankan pengerahan senjata nuklir sebagai respons, sesuai dengan doktrin militer Rusia.
Zhuravlyov menyamakan penyitaan kapal Marinera, yang sebelumnya bernama Bella 1, dengan serangan terhadap wilayah Rusia karena kapal tersebut mengibarkan bendera Rusia.
"Kita perlu memberikan respons militer: serang dengan torpedo atau tenggelamkan beberapa kapal Amerika," seru politisi Moskow tersebut, seperti dikutip dari express.co.uk, Kamis (8/1/2026).
"Ini tidak lebih dari pembajakan: penyitaan kapal sipil oleh Angkatan Laut AS yang bersenjata," paparnya.
"Pada dasarnya sama dengan serangan terhadap wilayah Rusia, karena kapal tanker tersebut mengibarkan bendera nasional kita," lanjut Zhuravlyov.
"Tidak diragukan lagi bahwa kita harus merespons dengan tegas dan cepat—doktrin militer kita bahkan membayangkan penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap serangan semacam itu," imbuh dia.
"Terutama karena, menurut informasi yang tersedia, sebuah kapal selam Rusia dan beberapa kapal militer Rusia lainnya berada di suatu tempat di dekat kapal tersebut."
Kementerian Transportasi Rusia mengecam tindakan AS, yang dalam operasi penyitaan kapal itu didukung oleh Inggris.
"Tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar dengan benar di yurisdiksi negara lain," katanya.
Sekadar diketahui, serangan terhadap kapal-kapal AS oleh Rusia dapat menyeret seluruh aliansi militer Barat ke Perang Dunia III, karena Pasal 5 NATO menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota aliansi dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota.
Kapal Marinera telah berada di bawah pengawasan sejak bulan lalu, ketika Penjaga Pantai AS mencoba menaikinya di Karibia setelah memperoleh surat perintah atas dugaan pelanggaran sanksi AS dan klaim bahwa kapal tersebut telah mengangkut minyak Iran.
Operasi tersebut gagal ketika kapal tiba-tiba mengubah haluan, mengubah namanya, dan mengganti benderanya dari Guyana ke Rusia.
Pergerakannya menuju Eropa telah dicegah oleh pengerahan pasukan dari sekitar 10 pesawat angkut dan helikopter AS sebelum kapal itu dinaiki.
Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi bahwa pasukan Inggris mendukung penyitaan kapal Marinera.
"Inggris telah memberikan dukungan kepada Amerika Serikat atas permintaan mereka untuk mencegat kapal Bella 1 hari ini," kata kementerian itu pada Rabu.
"Angkatan Bersenjata Inggris memberikan dukungan operasional yang telah direncanakan sebelumnya, termasuk pangkalan, kepada aset militer AS yang mencegat Bella 1 di celah Inggris-Islandia-Greenland setelah permintaan bantuan dari AS," paparnya.
"RFA Tideforce memberikan dukungan untuk pasukan AS yang mengejar dan mencegat Bella 1, sementara RAF memberikan dukungan pengawasan dari udara."
"Hubungan pertahanan dan keamanan Inggris dan AS adalah yang terdalam di dunia dan Inggris memberikan dukungan yang memungkinkan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional," kata kementerian tersebut.
(mas)
Lihat Juga :