4 Alasan Militer Venezuela Tidak Melawan saat Diserang AS

Selasa, 06 Januari 2026 - 17:15 WIB
loading...
4 Alasan Militer Venezuela...
Militer Venezuela tidak melawan saat diserang AS. Foto/X/@warintel4u
A A A
CARACAS - Setelah Absolute Resolve, pertanyaan utama yang mendominasi kalangan militer bukanlah hanya bagaimana AS menangkap Nicolas Maduro . Tapi, mengapa Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB)—sebuah kekuatan militer dengan lebih dari 150.000 personel—tetap lumpuh selama serangan 30 menit pada 3 Januari 2026.

Menurut laporan intelijen dan analis taktis, kurangnya respons militer Venezuela adalah hasil dari "badai sempurna" penindasan teknologi dan keruntuhan struktur internal.

4 Alasan Militer Venezuela Tidak Melawan saat Diserang AS

1. Kebutaan Elektronik Total

Melansir pingtvindia, alasan utama kurangnya respons adalah serangan perang elektronik (EW) preemptif besar-besaran.

Pesawat tempur EA-18G Growler Angkatan Laut AS mengerahkan pod "Pengacau Generasi Berikutnya" yang sepenuhnya membutakan sistem pertahanan udara S-300VM buatan Rusia milik Venezuela.

Antena komunikasi utama, termasuk yang berada di Cerro El Volcán, dinetralisir dalam beberapa menit pertama. Ini menciptakan "Kabut Perang" di mana komandan regional tidak dapat menerima perintah atau memverifikasi situasi di ibu kota.


2. Adanya Pembelotan

Meskipun selama bertahun-tahun menunjukkan loyalitas di depan umum, FANB pada dasarnya tidak siap menghadapi konflik tingkat tinggi dan setara.

Prajurit biasa, yang berpenghasilan hanya USD100 per bulan, menghadapi krisis moral yang parah. Intelijen menunjukkan bahwa tingkat pembelotan meningkat tajam saat ledakan pertama menghantam Fuerte Tiuna dan Pangkalan Udara La Carlota.

Dengan menangkap Maduro dan lingkaran dalamnya dalam setengah jam pertama, AS secara efektif memenggal kepala ular tersebut. Tanpa rantai komando yang jelas, perwira tingkat bawah ragu-ragu untuk terlibat dalam serangan balik yang berpotensi bunuh diri.

3. Para Jenderal Sudah Bernegosiasi dengan AS

Beberapa sumber oposisi, termasuk yang dikutip oleh Sky News, menunjukkan bahwa keheningan itu bukanlah sepenuhnya kebetulan.

Ada laporan yang belum dikonfirmasi bahwa jenderal berpangkat tinggi mungkin telah melakukan negosiasi rahasia dengan intelijen AS. Dengan memilih untuk tidak menembak, para komandan ini mungkin telah mengamankan kekebalan atau peran dalam pemerintahan transisi.

Dalam banyak skenario kudeta atau intervensi modern, unit militer sering menunggu untuk melihat pihak mana yang menang sebelum terlibat dalam pertempuran. Kecepatan luar biasa dari operasi Delta Force AS membuat hasilnya jelas bahkan sebelum respons dapat diorganisir.

Baca Juga: Demi Tangkap Maduro, Tentara AS Bunuh 80 Orang

4. Asimetri Teknologi yang Luar Biasa

Presiden Donald Trump mencatat dalam konferensi persnya di Mar-a-Lago bahwa “semua kapasitas militer Venezuela telah dilumpuhkan.”

Operasi “Acara TV”: Pasukan AS menggunakan aset siluman yang sama sekali tidak dapat dilacak oleh militer Venezuela. Penggunaan pasukan khusus yang dilengkapi penglihatan malam dan termal terhadap militer yang mengalami pemadaman listrik di seluruh kota memberi AS “keunggulan predator” dalam kegelapan.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Piala Dunia 2026: Saat...
Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Johannesburg Tewaskan 12 Orang, Polisi Buru 10 Tersangka
Sebelum Meninggal Dunia,...
Sebelum Meninggal Dunia, Putri Thailand Bajrakitiyabha Alami Gangguan Jantung Serius
Rekomendasi
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Anthropic AI Claude...
Anthropic AI Claude Hasilkan Lebih dari 80 Persen Kode Baru
Berita Terkini
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved