Correa Sentil AS Menculik Maduro: Bayangkan Putin Menangkap Zelensky...
Senin, 05 Januari 2026 - 09:51 WIB
loading...
Mantan presiden Ekuador, Rafael Correa, sentil tindakan pasukan khusus AS yang menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer singkat di Caracas. Foto/Truth Social @realDonaldTrump
A
A
A
MOSKOW - Mantan presiden Ekuador, Rafael Correa, menyentil tindakan pasukan khusus Amerika Serikat (AS) yang menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer singkat di Caracas, Sabtu pekan lalu. Menurutnya, tindakan Washington telah menetapkan preseden mengerikan yang dapat menjerumuskan dunia kembali ke barbarisme.
Dia lantas mengecam reaksi dunia internasional, yang menurutnya munafik. Menurutnya, reaksi tersebut telah memungkinkan AS untuk lolos dari tindakan yang “mustahil diterima di abad ke-21.”
“Bayangkan sejenak bahwa...[Presiden Rusia Vladimir] Putin menangkap [Presiden Ukraina Volodymyr] Zelensky,” kata Correa, mengomentari perkembangan tersebut.
Baca Juga: Mengapa Militer Venezuela Diam Saja saat Militer AS Mengacak-acak dan Menculik Maduro?
“Bisakah Anda membayangkan bagaimana respons dunia? Tidak seperti respons yang diterima Amerika Serikat," kesalnya kepada Russia Today, Senin (5/1/2026).
Menurut mantan presiden tersebut, reaksi dunia internasional terhadap tindakan AS sejauh ini hanyalah “kemunafikan global” dan standar ganda.
“Peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini pantas mendapatkan respons yang jauh lebih kuat dari komunitas internasional,” kata Correa, menambahkan bahwa Washington menginjak-injak hukum internasional dan mengembalikan masa-masa ketika kekuatanlah yang menentukan kebenaran.
“Yang mereka katakan adalah, Anda harus melakukan apa yang saya katakan atau saya akan mengebom Anda lagi,” kata Correa.
“Ini sesuatu yang sangat berbahaya bagi seluruh planet, bukan hanya untuk Venezuela, bukan hanya untuk Amerika Latin.”
Operasi AS tersebut telah dikecam keras oleh anggota BRICS, termasuk Rusia, China, Brasil, dan Iran. Moskow menyerukan agar Venezuela dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan bahwa tindakan Washington melanggar batas yang tidak dapat diterima, sementara Beijing menyebutnya sebagai tindakan hegemonik.
Reaksi dari Barat jauh lebih tenang. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mendesak pengekangan dan menyerukan kepatuhan pada Piagam PBB.
Pernyataan bersama lanjutan, yang ditandatangani oleh semua anggota Uni Eropa kecuali Hongaria, juga tidak mengutuk maupun mendukung langkah AS tersebut.
Dia lantas mengecam reaksi dunia internasional, yang menurutnya munafik. Menurutnya, reaksi tersebut telah memungkinkan AS untuk lolos dari tindakan yang “mustahil diterima di abad ke-21.”
“Bayangkan sejenak bahwa...[Presiden Rusia Vladimir] Putin menangkap [Presiden Ukraina Volodymyr] Zelensky,” kata Correa, mengomentari perkembangan tersebut.
Baca Juga: Mengapa Militer Venezuela Diam Saja saat Militer AS Mengacak-acak dan Menculik Maduro?
“Bisakah Anda membayangkan bagaimana respons dunia? Tidak seperti respons yang diterima Amerika Serikat," kesalnya kepada Russia Today, Senin (5/1/2026).
Menurut mantan presiden tersebut, reaksi dunia internasional terhadap tindakan AS sejauh ini hanyalah “kemunafikan global” dan standar ganda.
“Peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini pantas mendapatkan respons yang jauh lebih kuat dari komunitas internasional,” kata Correa, menambahkan bahwa Washington menginjak-injak hukum internasional dan mengembalikan masa-masa ketika kekuatanlah yang menentukan kebenaran.
“Yang mereka katakan adalah, Anda harus melakukan apa yang saya katakan atau saya akan mengebom Anda lagi,” kata Correa.
“Ini sesuatu yang sangat berbahaya bagi seluruh planet, bukan hanya untuk Venezuela, bukan hanya untuk Amerika Latin.”
Operasi AS tersebut telah dikecam keras oleh anggota BRICS, termasuk Rusia, China, Brasil, dan Iran. Moskow menyerukan agar Venezuela dijamin haknya untuk menentukan nasibnya sendiri.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva mengatakan bahwa tindakan Washington melanggar batas yang tidak dapat diterima, sementara Beijing menyebutnya sebagai tindakan hegemonik.
Reaksi dari Barat jauh lebih tenang. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mendesak pengekangan dan menyerukan kepatuhan pada Piagam PBB.
Pernyataan bersama lanjutan, yang ditandatangani oleh semua anggota Uni Eropa kecuali Hongaria, juga tidak mengutuk maupun mendukung langkah AS tersebut.
(mas)
Lihat Juga :